Aku Senang Dekat dengan-Mu dan Mengutamakan Kehendak-Mu
Hilangnya kemauanmu dgn kehendakNya, ditandai dgn ketak-pernahan menentukan diri, ketakbertujuan, ketakbutuhan, karena tak satu tujuan pun termiliki kecuali satu yaitu Allah. Maka kehendak Allah mewujud dalam dirimu sehingga kala kehendakNya beraksi, maka pasiflah seluruh anggota tubuh, hati pun tenang, fikiran pun cerah, berserilah wajah dan ruhanimu, dan kau atasi kebutuhan-kebutuhan bendawi berkat berhubungan dgn Pencipta segalanya. Tangan Kekuasaan senantiasa menggerakkanmu, lidah Keabadian selalu menyeru namamu, Tuhan Semesta alam mengajarmu dan membusanaimu dgn nurNya dan busana ruhani dan mendapatkanmu sejajar dgn para ahli hikmah yg telah mendahuluimu.
Sesudah ini kau selalu berhasil menaklukkan diri hingga tiada lagi pada dirimu kedirian bagai sebuah bejana yg hancur lebur, yg bersih dari air atau larutan.Dan kau terjauhkan dari segala gerak manusiawi hingga ruhanimu menolak segala sesuatu kecuali kehendak Allah.Pada maqam ini keajaiban dan adialami akan ternisbahkan kepadamu. Hal-hal ini tampak seolah-olah darimu padahal sebenarnya dari Allah.
Maka kau diakui sebagai orang yg hatinya telah tertundukkan, dan kediriannya telah musnah, maka kau diilhami oleh kehendak Ilahi dan dambaan-dambaan baru dalam kemaujudan sehari-hari. Mengenai maqam ini, Nabi Suci saw, telah bersabda: "Tiga hal yg kusenangi dari dunia - wewangian, wanita (isteri solehah) dan shalat - yg pada mereka menyejukkan mataku." Sungguh, hal-hal dinisbahkan kepadanya, setelah hal-hal itu sirna darinya, sebagaimana telah kami isyaratkan. Allah berfirman: "Aku bersama orang-orang yg patah hati demi Aku."
Allah Yang Maha Tinggi takkan besertamu sampai kedirianmu sirna. Dan bila kedirianmu telah sirna, dan kau abaikan segala sesuatu, kecuali Dia, maka Allah menyegarbugarkan kamu dan memberimu kekuatan baru, yg dgn itu kau berkehendak.Bila di dalam dirimu masih juga terdapat noda terkecil sekalipun, maka Allah meremukkanmu lagi, hingga kau senantiasa patah-hati. Dgn cara begini Ia terus menciptakan kemauan baru di dalam dirimu, dan bila kedirian masih maujud, maka Dia hancurkan lagi, sampai akhir hayat dan bertemu (liqa') dgn Tuhan. Inilah makna firman Allah: " Aku bersama orang-orang yg putus asa demi Aku, " Dan makna kata: "Kedirian masih maujud" ialah kemasih-kukuhan dan kemasih puasan dgn keinginan-keinginan barumu. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah berfirman kepada Nabi Suci saw: "Hamba-Ku yg beriman senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dgn mengerjakan shalat-shalat sunnah yg diutamakan, sehingga Aku mencintainya, dan bila Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi telinganya dengannya ia mendengar dan menjadi matanya dengannya ia melihat, dan menjadi tangannya dengannya ia bekerja, dan menjadi kakinya dengannya ia berjalan." Tak diragukan lagi, beginilah keadaan fana.
Maka Dia menyelamatkanmu dari kejahatan makhluq-Nya, dan menenggelamkanmu ke dalam samudera kebaikanNya; sehingga kau menjadi pusat kebaikan, sumber rahmat, kebahagiaan, kenikmatan, kecerahan, kedamaian, dan kesentosaan. Maka fana (penafian diri) menjadi tujuan akhir, dan sekaligus dasar perjalanan para wali. Para wali terdahulu, dari berbagai maqam, senantiasa beralih, hingga akhir hayat mereka, dari kehendak peribadi kepada kehendak Allah. Karena itulah mereka disebut badal (sebuah kata yg diturunkan dari badala, yg berarti: berubah). Bagi pribadi-pribadi ini menggabungkan kehendak pribadi dgn kehendak Allah, adalah suatu dosa.
Bila mereka lalai terbawa oleh tipuan perasaan dan ketakutan maka Allah Yang Maha Besar menolong mereka dgn kasih sayangNya, dgn mengingatkan mereka sehingga mereka sadar dan berlindung kepada Tuhan, karena tak satu pun mutlak bersih dari dosa kehendak kecuali para malaikat. Para malaikat senantiasa suci dalam kehendak, para Nabi senantiasa terbebas dari kedirian, sedang para jin dan manusia yg dibebani pertanggungjawaban moral tak terlindungi. Tentu, para wali terlindung dari kedirian, dan para badal dari kekotoran kehendak. Kendati mereka tak bisa dianggap terbebas dari dua keburukan ini, karena mungkin bagi mereka cenderung kepada dua kelemahan ini, tapi Allah melimpahi rahmatNya dan menyadarkan mereka.
No comments:
Post a Comment