widget audio Thaha

Allah berfirman: "Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula.."

Thursday, April 22, 2010

Risalah 10

Perangilah Nafsu dan Hasratmu

Sungguh tiada sesuatu kecuali Allah sedang dirimu adalah tandanya. Kedirian manusia bertentangan dgn Allah. Segala suatu patuh kepada Allah dan milik Allah, demikian pula dgn kedirian manusia sebagai makhluk sekaligus milikNya. Kedirian manusia itu pongah, darinya tumbuh dambaan-dambaan palsu. Nah, jika kau menyatu dgn kebenaran dgn menundukkan dirimu sendiri maka kau menjadi milik Allah dan menjadi musuh dirimu sendiri. Allah telah bersabda kepada Nabi Daud as: "Wahai Daud, Akulah tujuan hidupmu, yg tak mungkin kau elakkan. Karenanya berpegang teguhlah kepada tujuan yg satu ini; beribadahlah sebenar-benarnya, sampai kau menjadi lawan keakuanmu, semata-mata karena Aku." Maka keakrabanmu dgn Allah dan pengabdianmu kepadaNya menjadi kenyataan. Lalu kau peroleh bagianmu nan suci sungguh menyenangkan. Dgn demikian kau dicintai dan terhormat, dan segala sesuatu mengabdi dan takut kepadamu, kerana semua tunduk kepada Tuhan mereka, dan selaras denganNya karena Dia adalah Pencipta mereka dan mereka mengabdi kepadaNya.

Firman Allah: "Dan tak ada sesuatu pun melainkan bartasbih memujiNya tetapi kamu tak mengerti tasbih mereka." (QS 17:44). Maka segala sesuatu di alam raya ini menyadari keridhaanNya dan mentaati perintah-perintahNya. Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Agung berfirman: "Lalu Ia berkata kepadanya dan kepada bumi, 'Hendaklah kamu berdua datang dgn suka ataupun terpaksa', Keduanya menjawab, 'Kami datang dgn suka hati.'" (QS 41:11). Jadi, segala pengabdian kepadaNya terletak pada penentangan terhadap kedirian. Allah berfirman: "Dan janganlah engkau turuti hawa nafsumu, karena ia akan menyesatkanmu dari jalan Allah." (QS 38:26). Ia juga berfirman: "Hindarilah hawa nafsumu, karena sesungguhnya tak ada sesuatu pun yg menentangKu di seluruh kerajaanKu kecuali nafsu jasmani manusia." Suatu ketika Abu Yazid Bustami bermimpi bertemu Allah, dan bertanya kepadaNya: "Bagaimana cara menjumpaiMu ?" JawabNya: "Buanglah keakuanmu dan berpalinglah kepadaKu". "Lalu", lanjut sang Sufi, "aku keluar dari diriku bagai seekor ular keluar dari selongsong tubuhnya." Jadi, segala kebajikan terletak pada memerangi kedirian dalam segala hal dan segala keadaan. Karena itu, jika berada pada kesalehan, tundukkanlah kedirian,hingga kau terbebas dari hal-hal terlarang dan syubhat, dari pertolongan mereka, dari ketergantungan kepada mereka, dari rasa takut terhadap mereka atau dari rasa iri terhadap milikan duniawi mereka. Lalu jangan mengharapkan sesuatu dari mereka, baik hadiah, kemurahan, atau pun sedekah. Karenanya bila kau bergaul dgn seorang kaya, jangan mengharapkan kematiannya demi mewarisi hartanya,. Maka, bebaskanlah dirimu dari ikatan makhluk dan anggaplah mereka itu pintu gerbang yg membuka dan menutup atau pohon yg kadang berbuah dan kadang tidak. Ketahuilah, peristiwa semacam itu terjadi oleh satu pelaksana, dirancang oleh satu perancang dan Dialah Allah sehingga kau beriman pada Keesaan Allah.

Jangan pula melupakan upaya manusiawi agar tak menjadi korban keyakinan kaum fatalis (Jabariyyah) dan yakinlah bahwa tak suatu pun terwujud kecuali atas izin Allah Ta'ala. Karena itu, jangan Anda puja upaya manusiawi karena yg demikian ini melupakan Tuhan dan jangan berkata bahwa tindakan-tindakan manusia berasal dari sesuatu. Bila demikian berarti kau tak beriman dan termasuk dalam golongan Qadariyyah. Hendaknya kau katakan bahwa segala perbuatan makhluk adalah milik Allah, inilah pandangan yg telah diturunkan kepada kita lewat keterangan-keterangan yg berhubungan dgn masalah pahala dan hukuman.

Dan laksanakan perintah-perintah Allah yg berkenaan dgn mereka (manusia), dan pisahkanlah bagianmu sendiri dari mereka dgn perintahNya pula dan jangan melampaui batas ini, karena hukum Allah itu pasti berlaku terhadapmu dan mereka; jangan menghukumi diri sendiri. Kemaujudanmu bersama mereka merupakan takdirNya. TakdirNya merupakan 'kegelapan', maka masukilah 'kegelapan' ini dgn pelita sekaligus penentu; yaitu Qur'an dan Sunnah Rasul. Jangan tinggalkan kedua-duanya. Tapi bila di dalam fikiranmu melintas suatu ide atau kau menerima ilham maka tundukkanlah mereka kepada Qur’an dan Sunnah Rasul.

Bila kau dapati larangan dari Al Qur'an dan Sunnah Rasul tentang yg terlintas pada benakmu dan yg kau terima melalui ilham, maka kau harus menjauhi ide dan ilham semacam itu. Yakinilah bahwa ide dan ilham itu berasal dari setan yg terlaknat. Dan jika Qur’an dan Sunnah Rasul membolehkan ide dan ilham itu - semisal pemenuhan keinginan-keinginan yg dibolehkan hukum, seperti makan, minum, berpakaian, menikah, dll - maka jauhi pula ide dan ilham itu, jangan menerimanya. Ketahuilah, hal itu merupakan dorongan hewanimu karenanya tentanglah dan musuhilah hal itu.

Bila kau dapati tiadanya larangan atau pembolehan di dalam Qur’an dan Sunnah Rasul, tentang yg kau terima, dan kau tak mengerti -semisal kau diminta pergi ke tempat tertentu, atau menemui seseorang yg saleh padahal melalui kurnia ilmu dan pencerahan dari Allah kepadamu, kau tak perlu pergi ke tempat itu atau menemui si orang saleh itu maka bersabarlah, jangan dulu melakukan sesuatu dan bertanyalah kepada dirimu sendiri: "Benarkah ini ilham dari Allah yg harus kulaksanakan ?" Adalah Sunnah Allah mengulang-ulang ilham semacam itu dan memerintahkanmu untuk segera berupaya atau menyibakkan isyarat semacam itu bagi para ahli hikmah - suatu isyarat yg hanya bisa dimengerti oleh para wali yg arif dan para badal yg teguh. Karena itu kau mesti tak segera berbuat, sebab kau tak tahu akibat dan tujuan akhir urusan, cobaan, bahaya dan sesuatu rancangan ghaib dariNya.

Maka bersabarlah, sampai Allah Sendiri melakukannya bagimu. Bila tindakan itu atas kehendakNya, dan kau dihantarkan ke maqam itu, maka bila cobaan menghadangmu kau akan melewatinya dgn selamat, karena Allah takkan menghukummu atas tindakan yg dikehendakiNya sendiri, namun Ia akan menghukummu atas keterlibatan langsungmu dalam kemaujudan suatu hal.

Mentaati perintah itu meliputi dua hal. Pertama, mengambil dari sarana penghidupan duniawi sebatas keperluanmu, dan mesti menghindari segala pemanjaan kesenangan jasmani, selesaikanlah semua tugas-tugasmu, dan ikatlah dirimu kepada penghalauan segala dosa, yg nyata dan yg tersembunyi. Kedua, berhubungan dgn perintah-perintah tersembunyi, yakni Allah tak menyuruh hambaNya untuk mengerjakan sesuatu, dan tak pula melarangnya. Perintah seperti ini berkaitan dgn hal-hal yg padanya tak ada hukum yg jelas; yakni hal-hal yg tak tergolong haram dan tak diwajibkan, dgn kata lain 'tak jelas', yg di dalamnya manusia diberi kebebasan penuh untuk bertindak, dan hal ini disebut mubah. Dalam hal ini tak boleh mengambil prakarsa, tetapi menunggu perintah yg bertalian dengannya. Bila menerima perintah itu, ia taati. Dgn demikian semua gerak dan diamnya menjadi demi Allah.

Jika ada kejelasan hukumnya ia bertindak selaras dgnnya.Bila tak ada kejelasan hukumnya ia bertindak atas dasar perintah-perintah tersembunyi. Melalui ini ia menjadi seteguh orang memperoleh hakikat.Bila kau telah sampai pada kebenarannya kebenaran(haqqul-haqq)yg disebut pencelupan (mahwu) atau peleburan (fana),berarti kau berada pada maqam badal yg patah hati demi Dia, suatu keadaan yg dimiliki muwahhid,orang yg tercerahkan ruhaninya,orang arif, yg adalah amir para amir,pengawas dan pelindung umat,khalifah dari Yang Maha Pengasih,kepercayaanNya (alaihimussalam).
Untuk mentaati perintah, kau harus melawan kedirianmu dan bebas dari ketergantungan kepada segala kemampuan dan kekuatan, dan mutlak harus terhindar dari segala kemauan dan tujuan duniawi dan ukhrawi. Dgn demikian, kau menjadi abdi Sang Raja bukan abdi kerajaanNya, bukan abdi perintahNya, bukan pula abdi kedirian. Kau seperti bayi dalam asuhan alam atau mayat yg dimandikan, atau pasien yg tak sadarkan diri di hadapan sang dokter, dalam segala hal yg berada di luar wilayah perintah dan larangan.

No comments:

Post a Comment