Mutiara karya Syaikh Abdul Qadir Jailani
Risalah 1
Makanan hati dan Bekal Perjalanan
Tiga hal mutlak bagi seorang Mukmin, dalam segala keadaan, yaitu:
(1) harus menjaga perintah-perintah Allah,
(2) harus menghindar dari segala yg haram,
(3) harus ridha dgn takdir Yang Maha Kuasa. Jadi seorang Mukmin paling tidak memiliki tiga hal ini. Berarti ia harus memutuskan untuk ini dan berbicara dgn diri sendiri tentang hal ini serta menggunakan seluruh anggota tubuhnya untuk menta’atinya.
Risalah 2
Harapan Tercapai dengan Amal
Ikutilah Sunnah Rasul dgn penuh keimanan, jangan membuat bid'ah! Ta’atlah selalu kepada Allah dan Rasul-Nya, jangan melanggar! Junjung tinggi tauhid dan jangan menyekutukanNya! Sucikanlah Dia senantiasa dan jangan menisbahkan sesuatu keburukan pun kepada-Nya. Pertahankan Kebenaran-Nya dan jangan ragu sedikit pun. Bersabarlah selalu dan jangan mengeluh. Beristiqomahlah; berharaplah kepada-Nya, jangan kesal, tetapi bersabarlah. Bekerjasamalah dalam ketaatan dan jangan terpecah-belah. Saling mencintailah dan jangan saling mendendam. Jauhilah kejahatan dan jangan ternoda olehnya. Percantiklah dirimu dgn ketaatan kepada Tuhanmu; jangan menjauh dari pintu-pintu Tuhanmu; jangan berpaling dari-Nya.
Segeralah bertaubat dan kembali kepada-Nya. Jangan merasa jemu dalam memohon ampunan kepada Khaliqmu baik siang maupun malam; (jika kamu berlaku begini) niscaya rahmat dinampakkan kepadamu maka kamu bahagia, terjauhkan dari api neraka dan hidup bahagia di surga, bertemu Allah, menikmati rahmat-Nya, bersama-sama bidadari di surga dan tinggal di dalamnya untuk selamanya; mengendarai kuda-kuda putih, bersuka ria dgn hurhur bermata putih dan aneka aroma, dan melodi-melodi hamba-hamba sahaya wanita, dgn kurnia-kurnia lainnya; termuliakan bersama para nabi, para shiddiq, para syuhada’, dan para shaleh di surga yg tinggi.
Risalah 3
Cobaan Mencerahkan Ruh dan Menyadarkan Hati
Apabila seorang hamba Allah mengalami kesulitan hidup, maka pertama-tama ia coba mengatasinya dgn upayanya sendiri. Bila gagal ia mencari pertolongan kepada sesamanya, terutama kepada raja, penguasa, hartawan; atau bila dia sakit ke dokter. Bila hal ini pun gagal, maka ia berpaling kepada Khaliqnya, Tuhan Yang Maha Besar lagi Maha Kuasa, dan berdo'a kepada-Nya dgn kerendah-hatian dan pujian. Bila ia mampu mengatasinya sendiri, maka ia takkan berpaling kepada sesamanya, demikian pula bila ia berhasil karena sesamanya, maka ia takkan berpaling kepada sang Khaliq.
Kemudian bila tak juga memperoleh pertolongan dari Allah, maka dipasrahkan dirinya kepada Allah, dan terus demikian, mengemis, berdo'a merendah diri, memuji, memohon dgn harap-harap cemas. Namun, Allah Yang Maha Besar dan Maha Kuasa membiarkan ia letih dalam berdo'a dan tak mengabulkannya, hingga ia sedemikian kecewa terhadap segala sarana duniawi. Maka kehendak-Nya mewujud melaluinya, dan hamba Allah ini berlalu dari segala sarana duniawi, segala aktivitas dan upaya duniawi, dan bertumpu pada ruhaninya.
Pada peringkat ini, tiada terlihat olehnya selain kehendak Allah Yang Maha Besar lagi Maha Kuasa dan sampailah dia tentang Keesaan Allah pada tingkat haqqul yaqin (* tingkat keyakinan tertinggi yg diperoleh setelah menyaksikan dgn mata kepala dan mata hati). Bahwa pada hakikatnya tiada yg melakukan segala sesuatu kecuali Allah; tak ada penggerak tak pula penghenti selain Dia; tak ada kebaikan, kejahatan, tak pula kerugian dan keuntungan, tiada faedah, tiada memberi tiada pula menahan, tiada awal, tiada akhir, tak ada kehidupan dan kematian, tiada kemuliaan dan kehinaan, tak ada kekayaan dan kemiskinan, kecuali karena ALLAH.
Maka di hadapan Allah, ia bagai bayi di tangan pengasuh, bagai mayat dimandikan, dan bagai bola di tongkat pemain polo, berputar dan bergulir dari keadaan ke keadaan, dan ia merasa tak berdaya. Dgn demikian, ia lepas dari dirinya sendiri, dan melebur dalam kehendak Allah. Maka tak dilihatnya kecuali Tuhan dan kehendak-Nya, tak didengar dan tak dipahaminya, kecuali Ia. Jika melihat sesuatu, maka sesuatu itu adalah kehendak-Nya; bila ia mendengar atau mengetahui sesuatu maka ia mendengar firman-Nya dan mengetahui lewat ilmu-Nya. Maka terkurniailah dia dgn kurnia-Nya dan beruntung lewat kedekatan dengan-Nya dan melalui kedekatan ini ia menjadi mulia, ridha, bahagia, dan puas dgn janji-Nya dan bertumpu pada firman-Nya. Ia merasa enggan dan menolak segala selain Allah, ia rindu dan senantiasa mengingat-Nya;makin mantaplah keyakinannya pada-Nya, Yang Maha Besar lagi Maha Kuasa. Ia bertumpu pada-Nya, memperolehi petunjuk dari-Nya, berbusana cahaya ilmu-Nya, dan termuliakan oleh ilmu-Nya.Yg didengar dan diingatnya adalah dari-Nya.Maka segala syukur, puji, dan sembah tertuju kepada-Nya.
Risalah 4
Cabutlah Rerumputan Nafsu Sampai ke Akarnya
Bila kamu abaikan ciptaan maka: "Semoga Allah merahmatimu," Allah melepaskanmu dari kedirian, "Semoga Allah merahmatimu," Ia mematikan kehendakmu; "Semoga Allah merahmatimu," maka Allah mendapatkanmu dalam kehidupan (baru).
Kini kau terkurniai kehidupan abadi; diperkaya dgn kekayaan abadi; dikurniai kemudahan dan kebahagiaan nan abadi, dirahmati, dilimpahi ilmu yg tak kenal kejahilan; dilindungi dari ketakutan; dimuliakan hingga tak terhina lagi; senantiasa dekat kepada Allah senantiasa termuliakan; senantiasa tersucikan; maka menjadilah kau pemenuh segala harapan, dan ibaan pinta orang mewujud pada dirimu; hingga kau sedemikian termuliakan, unik, dan tiada tara; tersembunyi dan terahsia.
Maka, kau menjadi pengganti para Rasul, para Nabi dan para shiddiq.Kaulah puncak wilayat dan para wali yg masih hidup akan mengerumunimu. Segala kesulitan terpecahkan melaluimu, dan sawah ladang terpaneni melalui do'amu; dan sirnalah melalui do'amu segala petaka yg menimpa orang-orang di desa terpencil sekalipun, para penguasa dan yg dikuasai, para pemimpin dan para pengikut, dan semua ciptaan. Dgn demikian kau menjadi agen polisi (kalau boleh disebut begitu) bagi kota-kota dan masyarakat.
Orang-orang bergegas mendatangimu,membawa bingkisan dan hadiah, dan mengabdi kepadamu,dalam segala kehidupan, dgn izin sang Pencipta segalanya.Lidah mereka senantiasa sibuk dgn doa dan syukur bagimu di manapun mereka berada. Tiada dua orang Mukmin berselisih tentangmu. Duhai, yg terbaik di antara penghuni bumi, inilah rahmat Allah, dan Allahlah Pemilik segala rahmat.
Risalah 5
Fatamorgana Dunia
Bila kau melihat dunia ini, berada di tangan mereka, dgn segala hiasan, dan tipuannya, dgn segala bisa yg mematikannya, yg tampak lembut sentuhannya padahal sebenarnya mematikan bagi yg menyentuhnya, mengecoh mereka, dan membuat mereka mengabaikan kemudharatan tipu daya dan janji-janji palsunya - bila kau lihat semua ini - berlakulah bagai orang yg melihat seseorang menuruti nalurinya, menonjolkan diri, dan karenanya, mengeluarkan bau busuk. Bila (dalam situasi semacam itu) kau enggan memperhatikan kebusukannya, dan menutup hidung dari bau busuk itu, begitu pula kau berlaku terhadap dunia; bila kau melihatnya, palingkan penglihatanmu dari segala kepalsuan, dan tutuplah hidungmu dari kebusukan hawa nafsu, agar kau aman darinya dan segala tipu-dayanya, sedang bagianmu menghampirimu segera, dan kau menikmatinya. Allah telah berfirman kepada Nabi pilihan-Nya: "Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada yg telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia, untuk Kami uji mereka dengannya, dan kurnia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal." (QS.20 -Thaaha :131).
Risalah 6
Aku Senang Dekat dengan-Mu dan Mengutamakan Kehendak-Mu
Lenyaplah dari (pandangan) manusia dgn perintah Allah dan dari kedirian dgn perintah-Nya hingga kau menjadi bahtera ilmu-Nya. Lenyapnya diri dari manusia ditandai oleh pemutusan diri sepenuhnya dari mereka dan pembebasan jiwa dari segala harapan mereka. Tanda lenyapnya diri dari segala nafsu ialah membuang segala upaya memperoleh sarana-sarana duniawi dan berhubungan dgn mereka demi suatu manfaat/menghindarkan kemudharatan; dan tak bergerak demi kepentingan pribadi dan tak bergantung pada diri sendiri dalam hal-hal yg berkenaan dgn dirimu, tak melindungi atau membantu diri, tetapi memasrahkan semuanya hanya kepada Allah karena Ia pemilik segalanya sejak awal hingga akhir; sebagaimana kuasaNya ketika kau masih disusui.
Hilangnya kemauanmu dgn kehendakNya, ditandai dgn ketak-pernahan menentukan diri, ketakbertujuan, ketakbutuhan, karena tak satu tujuan pun termiliki kecuali satu yaitu Allah. Maka kehendak Allah mewujud dalam dirimu sehingga kala kehendakNya beraksi, maka pasiflah seluruh anggota tubuh, hati pun tenang, fikiran pun cerah, berserilah wajah dan ruhanimu, dan kau atasi kebutuhan-kebutuhan bendawi berkat berhubungan dgn Pencipta segalanya. Tangan Kekuasaan senantiasa menggerakkanmu, lidah Keabadian selalu menyeru namamu, Tuhan Semesta alam mengajarmu dan membusanaimu dgn nurNya dan busana ruhani dan mendapatkanmu sejajar dgn para ahli hikmah yg telah mendahuluimu.
Sesudah ini kau selalu berhasil menaklukkan diri hingga tiada lagi pada dirimu kedirian bagai sebuah bejana yg hancur lebur, yg bersih dari air atau larutan.Dan kau terjauhkan dari segala gerak manusiawi hingga ruhanimu menolak segala sesuatu kecuali kehendak Allah.Pada maqam ini keajaiban dan adialami akan ternisbahkan kepadamu. Hal-hal ini tampak seolah-olah darimu padahal sebenarnya dari Allah.
Maka kau diakui sebagai orang yg hatinya telah tertundukkan, dan kediriannya telah musnah, maka kau diilhami oleh kehendak Ilahi dan dambaan-dambaan baru dalam kemaujudan sehari-hari. Mengenai maqam ini, Nabi Suci saw, telah bersabda: "Tiga hal yg kusenangi dari dunia - wewangian, wanita (isteri solehah) dan shalat - yg pada mereka menyejukkan mataku." Sungguh, hal-hal dinisbahkan kepadanya, setelah hal-hal itu sirna darinya, sebagaimana telah kami isyaratkan. Allah berfirman: "Aku bersama orang-orang yg patah hati demi Aku."
Allah Yang Maha Tinggi takkan besertamu sampai kedirianmu sirna. Dan bila kedirianmu telah sirna, dan kau abaikan segala sesuatu, kecuali Dia, maka Allah menyegarbugarkan kamu dan memberimu kekuatan baru, yg dgn itu kau berkehendak.Bila di dalam dirimu masih juga terdapat noda terkecil sekalipun, maka Allah meremukkanmu lagi, hingga kau senantiasa patah-hati. Dgn cara begini Ia terus menciptakan kemauan baru di dalam dirimu, dan bila kedirian masih maujud, maka Dia hancurkan lagi, sampai akhir hayat dan bertemu (liqa') dgn Tuhan. Inilah makna firman Allah: " Aku bersama orang-orang yg putus asa demi Aku, " Dan makna kata: "Kedirian masih maujud" ialah kemasih-kukuhan dan kemasih puasan dgn keinginan-keinginan barumu. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah berfirman kepada Nabi Suci saw: "Hamba-Ku yg beriman senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dgn mengerjakan shalat-shalat sunnah yg diutamakan, sehingga Aku mencintainya, dan bila Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi telinganya dengannya ia mendengar dan menjadi matanya dengannya ia melihat, dan menjadi tangannya dengannya ia bekerja, dan menjadi kakinya dengannya ia berjalan." Tak diragukan lagi, beginilah keadaan fana.
Maka Dia menyelamatkanmu dari kejahatan makhluq-Nya, dan menenggelamkanmu ke dalam samudera kebaikanNya; sehingga kau menjadi pusat kebaikan, sumber rahmat, kebahagiaan, kenikmatan, kecerahan, kedamaian, dan kesentosaan. Maka fana (penafian diri) menjadi tujuan akhir, dan sekaligus dasar perjalanan para wali. Para wali terdahulu, dari berbagai maqam, senantiasa beralih, hingga akhir hayat mereka, dari kehendak peribadi kepada kehendak Allah. Karena itulah mereka disebut badal (sebuah kata yg diturunkan dari badala, yg berarti: berubah). Bagi pribadi-pribadi ini menggabungkan kehendak pribadi dgn kehendak Allah, adalah suatu dosa.
Bila mereka lalai terbawa oleh tipuan perasaan dan ketakutan maka Allah Yang Maha Besar menolong mereka dgn kasih sayangNya, dgn mengingatkan mereka sehingga mereka sadar dan berlindung kepada Tuhan, karena tak satu pun mutlak bersih dari dosa kehendak kecuali para malaikat. Para malaikat senantiasa suci dalam kehendak, para Nabi senantiasa terbebas dari kedirian, sedang para jin dan manusia yg dibebani pertanggungjawaban moral tak terlindungi. Tentu, para wali terlindung dari kedirian, dan para badal dari kekotoran kehendak. Kendati mereka tak bisa dianggap terbebas dari dua keburukan ini, karena mungkin bagi mereka cenderung kepada dua kelemahan ini, tapi Allah melimpahi rahmatNya dan menyadarkan mereka.
Risalah 7
Petaka Hati adalah Nafsu
Keluarlah dari kedirian, jauhilah dia, dan pasrahkanlah segala sesuatu kepada Allah, jadilah penjaga pintu hatimu, patuhilah senantiasa perintah-perintah-Nya, hormatilah larangan-larangan-Nya, dgn menjauhkan segala yg diharamkan-Nya. Jangan biarkan kedirianmu masuk ke dalam hatimu setelah keterbuanganmu. Mengusir kedirian dari hati haruslah disertai pertahanan terhadapnya dan menolak kepatuhan kepadanya dalam segala keadaan.Membiarkan ia masuk ke dalam hati berarti rela mengabdi kepadanya dan berintim dgnnya. Maka jangan menghendaki segala yg bukan kehendak Allah. Segala kehendak yg bukan kehendak Allah adalah kedirian, yg adalah rimba kejahilan, dan hal itu membinasakanmu dan penyebab keterasingan dari-Nya. Karena itu, jagalah perintah Allah jauhilah larangan-Nya berpasrahlah selalu kepada-Nya dalam segala yg telah ditetapkan-Nya dan jangan sekutukan Dia dgn sesuatu pun. Jangan berkehendak diri, agar tak tergolong orang-orang musyrik. Allah berfirman: "Barang siapa mengharap perjumpaan (liqa') dgn Tuhannya maka hendaklah mengerjakan amal saleh dan tidak menyekutukanNya." (QS 18.Al Kahfi: 110)
Kesyirikan tak hanya penyembahan berhala. Pemanjaan nafsu jasmani, dan menyamakan segala yg ada di dunia dan akhirat dgn Allah juga syirik. Sebab selain Allah adalah bukan Tuhan. Bila kau tenggelamkan dalam sesuatu selain Allah berarti kau menyekutukan-Nya. Oleh sebab itu, waspadalah jangan terlena.Maka dgn menyendiri/uzlah akan diperoleh keamanan.Jangan menganggap dan mengklaim segala kemaujudan atau maqam-mu berkat kau sendiri. Maka bila kau berkedudukan atau dalam keadaan tertentu, jangan membicarakan hal itu kepada orang lain. Sebab dalam perubahan nasib yg terjadi dari hari ke hari keagungan Allah mewujud dan Allah berada diantara hambaNya dan hati-hati mereka. Bisa-bisa yg kau bicarakan sirna darimu dan yg kau anggap abadi berubah shg kau dipermalukan di hadapan yg kau ajak bicara. Simpanlah pengetahuan ini dalam lubuk hatimu dan jangan bicarakan dgn orang lain.Jika hal itu terus maujud, maka hal itu akan membawa kemajuan dalam pengetahuan, nur, kesadaran dan pandangan. Allah berfirman: "Ayat-ayat yg Kami hapus atau Kami jadikan lupa, Kami datangkan yg lebih baik daripadanya atau yg sepertinya. Tidakkah kamu ketahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS 2.Al Baqarah: 106)
Jangan menganggap Allah tak berdaya dalam sesuatu hal, jangan menganggap ketetapan-Nya tak sempurna, dan jangan sedikit pun ragu akan janji-Nya. Dalam hal ini ada sebuah contoh luhur dalam Nabi Allah. Ayat-ayat dan surat-surat yg diturunkan kepadanya, dan yg dipraktekkan, dikumandangkan di masjid-masjid, dan tertulis di dalam kitab-kitab. Mengenai hikmah dan keadaan ruhani yg dimilikinya, ia sering mengatakan bahwa hatinya sering tertutup awan, dan ia berlindung kepada Allah tujuh puluh kali sehari. Diriwayatkan pula, bahwa dalam sehari ia dibawa dari satu hal ke hal lain sebanyak seratus kali sampai ia berada pada maqam tertinggi dalam kedekatan dgn Allah. Ia diperintahkan untuk meminta perlindungan kepada Allah, karena sebaik-baik seorang hamba yaitu berlindung dan berpaling kepada Allah. Karena dgn begini ada pengakuan akan dosa dan kesalahannya dan inilah dua macam sifat yg terdapat pada seorang hamba dalam segala keadaan kehidupan, dan yg dimilikinya sebagai pusaka dari Adam as., 'bapak' manusia, dan pilihan Allah.
Berkatalah Adam a.s.: "Wahai Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tak mengampuni kami, dan merahmati kami, niscaya kami akan termasuk orang-orang yg merugi." (QS. 7.Al-A'raaf: 23). Maka turunlah kepadanya cahaya petunjuk dan pengetahuan tentang taubat, akibat dan tentang hikmah di balik peristiwa ini, yg takkan terungkap tanpa ini; lalu Allah berpaling kepada mereka dgn penuh kasih sayang, sehingga mereka bisa bertaubat.
Dan Allah mengembalikannya ke hal semula dan beradalah ia pada tingkat wilayat yg lebih tinggi dan ia dikurniai maqam di dunia dan akhirat. Maka menjadilah dunia ini tempat kehidupannya dan keturunannya sedang akhirat sebagai tempat kembali dan tempat peristirahatan abadi mereka. Maka ikutilah Nabi Muhammad Saw kekasih dan pilihan Allah dan nenek moyangnya, Adam, pilihan-Nya - keduanya adalah kekasih Allah - dalam hal mengakui kesalahan dan berlindung kepada-Nya dari dosa-dosa, dan dalam hal bertawadhu' dalam segala keadaan kehidupan.
Risalah 8
Kedudukan yang Terbaik adalah yang Diridhai Sang Khaliq
Bila kau berada dalam hal tertentu, jangan mengharapkan hal yg lain, baik yg lebih tinggi maupun yg lebih rendah. Jadi bila kau berada di pintu gerbang istana Raja, jangan berkeinginan untuk masuk ke istana itu kecuali terpaksa.Yg dimaksud dgn terpaksa ialah diperintah terus-menerus. Dan jangan menganggapnya sebagai izin masuk, karena mungkin saja Raja menjebakmu. Tapi, bersabarlah, sampai kau benar-benar dipaksa memasukinya oleh sang Raja. Dgn demikian, sang Raja takkan menghukummu, karena Dia sendiri menghendakinya. Jika kau toh dihukum, tentu disebabkan oleh keburukan kehendak, kerakusan, ketaksabaran, kekurang ajaran, dan keinginanmu untuk berpuas dgn keadaan kehidupanmu. Bila kau harus masuk ke dalamnya karena terpaksa, masuklah dgn penuh ketenangan dan ketundukan pandangan, bersikaplah yg layak dan indahkanlah semua perintah-Nya dgn sepenuh jiwa tanpa mengharapkan kemajuan dalam tingkat kehidupan. Allah berfirman kepada Rasul pilihan-Nya : "Dan janganlah engkau tujukan kedua matamu kepada apa yg telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka sebagai hiasan hidup, untuk Kami uji mereka dengannya. Dan kurnia Tuhanmu lebih baik dan abadi." (QS 20. Thaahaa: 131)
Dgn firman-Nya: "Dan kurnia Tuhanmu lebih baik dan abadi". Allah memperingatkan Nabi pilihan-Nya, agar menghargai hal yg ada dan mensyukuri kurnia-kurnia-Nya. Dgn kata lain, perintah ini adalah sebagai berikut: "Segala yg telah Aku kurniakan kepadamu - kebaikan, kenabian, ilmu, keridhaan, kesabaran, kerajaan agama, dan jihad di jalanKu - lebih baik dan lebih berharga dibanding semua yg Kuberikan kepada yg lain." Jadi, segala kebaikan terletak pada menghargai dan mensyukuri keadaan yg ada, dan menghindarkan selainnya, karena hal semacam itu merupakan ujian dari-Nya. Jadi bila sesuatu telah ditentukan-Nya bagimu, tentu sesuatu itu akan datang kepadamu, suka atau tidak suka. Karenanya, sungguh tak patut, bila kekurang layakan dan kerakusan ada padamu, kedua-duanya tertolak oleh akal dan ilmu. Dan jika sesuatu itu ditakdirkan-Nya bagi orang lain, mengapa kau bersusah payah meraih sesuatu yg tak bisa kau raih? Dan jika sesuatu tak diturunkan-Nya kepada siapapun, hanya sebagai ujian, mana mungkin seorang arif menyukainya dan berupaya keras meraih itu? Terbuktilah, bahwa seluruh kebaikan dan keselamatan terletak pada menghargai keadaan yg ada. Maka, bila kau dinaikkan ke tingkat atas, sampai ke atap istana, maka kau sebagaimana telah kami nyatakan, mesti sadar diri, tenang, dan baik-laku. Kau mesti berbuat lebih dari ini, sebab kau kini lebih dekat kepada sang Raja dan lebih dekat kepada marabahaya.
Maka, jangan menginginkan perubahan keadaan yg ada padamu. Nah, kau tak punya pilihan dalam masalah ini sebab hal itu mendorong ketak bersyukuran atas rahmat-rahmat yg ada, dan cita semacam ini menjadikan terhina, baik di dunia maupun di akhirat. Maka berlakulah sebagaimana yg telah kami nasihatkan kepadamu sampai kau dikurnia Allah maqam yg teguh dan takkan tergoyahkan dgn segala tanda dan isyaratnya.Karena itu tambatkanlah padanya dan jangan biarkan dirimu lepas darinya. Karena hal (keadaan perubahan ruhani) adalah milik para wali sedang maqam (tingkat ruhani) adalah milik para badal.
Risalah 9
Kupersembahkan Cinta dan Kemuliaan kepada-Mu
KehendakNya terwujud, secara kasyaf (penglihatan ruhani) dan musyahidah (pengalaman-pengalaman ruhani), pada para wali dan badal, yg tak terjangkau nalar manusia dan kebiasaan. Perwujudan ini terbentuk: jalal (keagungan), dan jamal (keindahan). Jalal menghasilkan kegelisahan, pemahaman yg menggundahkan, dan sedemikian menguasai hati, sehingga gejala-gejalanya tampak pada jasmani. Diriwayatkan bila Rasulullah shalat dari dadanya terdengar gemuruh bak air mendidih di dalam ketel karena besarnya ketakutan yg timbul dari penglihatan beliau akan Kekuasaan dan KebesaranNya. Diriwayatkan bahwa pilihan Allah, Nabi Ibrahim as dan Umar sang Khalifah ra juga mengalami keadaan yg serupa.
Mengalami perwujudan keindahan Ilahi merupakan refleksiNya pada hati manusia yg menimbulkan cahaya, keagungan,kata-kata manis, ucapan penuh kasih-sayang dan kegembiraan atas kelimpahan kurniaNya, maqam yg tinggi, dan keakraban denganNya -- yg kepadaNya segala urusan mereka kembali -- dan atas takdir yg telah ditetapkanNya jauh di masa lampau. Inilah kurnia dan rahmatNya, dan pengukuhan atas mereka di dunia ini, sampai waktu tertentu. Ini dilakukan agar mereka tak melampaui kadar cinta yg layak dalam keinginan mereka akan hal itu, dan karenanya, hati mereka takkan berputus asa, kendati mereka jumpai berbagai hambatan atau bahkan terkulaikan oleh hebatnya ibadah mereka sampai datangnya kematian. Ia melakukan ini berdasarkan kelembutan, kasih sayang dan kehormatan, juga untuk melatih agar hati mereka lembut, karena Dia bijaksana, mengetahui, lembut terhadap mereka. Diriwayatkan, bahwa Nabi saw. sering berkata kepada Bilal sang muadzin: "Wahai Bilal, gembirakanlah hati kami," Maksud beliau, hendaklah ia serukan azan agar beliau bisa shalat, guna merasakan perwujudan-perwujudan rahmat Ilahi, sebagaimana telah kita bicarakan. Itulah sebabnya Nabi saw bersabda: "Dan mataku sejuk bila aku shalat."
Risalah 10
Perangilah Nafsu dan Hasratmu
Sungguh tiada sesuatu kecuali Allah sedang dirimu adalah tandanya. Kedirian manusia bertentangan dgn Allah. Segala suatu patuh kepada Allah dan milik Allah, demikian pula dgn kedirian manusia sebagai makhluk sekaligus milikNya. Kedirian manusia itu pongah, darinya tumbuh dambaan-dambaan palsu. Nah, jika kau menyatu dgn kebenaran dgn menundukkan dirimu sendiri maka kau menjadi milik Allah dan menjadi musuh dirimu sendiri. Allah telah bersabda kepada Nabi Daud as: "Wahai Daud, Akulah tujuan hidupmu, yg tak mungkin kau elakkan. Karenanya berpegang teguhlah kepada tujuan yg satu ini; beribadahlah sebenar-benarnya, sampai kau menjadi lawan keakuanmu, semata-mata karena Aku." Maka keakrabanmu dgn Allah dan pengabdianmu kepadaNya menjadi kenyataan. Lalu kau peroleh bagianmu nan suci sungguh menyenangkan. Dgn demikian kau dicintai dan terhormat, dan segala sesuatu mengabdi dan takut kepadamu, kerana semua tunduk kepada Tuhan mereka, dan selaras denganNya karena Dia adalah Pencipta mereka dan mereka mengabdi kepadaNya.
Firman Allah: "Dan tak ada sesuatu pun melainkan bartasbih memujiNya tetapi kamu tak mengerti tasbih mereka." (QS 17:44). Maka segala sesuatu di alam raya ini menyadari keridhaanNya dan mentaati perintah-perintahNya. Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Agung berfirman: "Lalu Ia berkata kepadanya dan kepada bumi, 'Hendaklah kamu berdua datang dgn suka ataupun terpaksa', Keduanya menjawab, 'Kami datang dgn suka hati.'" (QS 41:11). Jadi, segala pengabdian kepadaNya terletak pada penentangan terhadap kedirian. Allah berfirman: "Dan janganlah engkau turuti hawa nafsumu, karena ia akan menyesatkanmu dari jalan Allah." (QS 38:26). Ia juga berfirman: "Hindarilah hawa nafsumu, karena sesungguhnya tak ada sesuatu pun yg menentangKu di seluruh kerajaanKu kecuali nafsu jasmani manusia." Suatu ketika Abu Yazid Bustami bermimpi bertemu Allah, dan bertanya kepadaNya: "Bagaimana cara menjumpaiMu ?" JawabNya: "Buanglah keakuanmu dan berpalinglah kepadaKu". "Lalu", lanjut sang Sufi, "aku keluar dari diriku bagai seekor ular keluar dari selongsong tubuhnya." Jadi, segala kebajikan terletak pada memerangi kedirian dalam segala hal dan segala keadaan. Karena itu, jika berada pada kesalehan, tundukkanlah kedirian,hingga kau terbebas dari hal-hal terlarang dan syubhat, dari pertolongan mereka, dari ketergantungan kepada mereka, dari rasa takut terhadap mereka atau dari rasa iri terhadap milikan duniawi mereka. Lalu jangan mengharapkan sesuatu dari mereka, baik hadiah, kemurahan, atau pun sedekah. Karenanya bila kau bergaul dgn seorang kaya, jangan mengharapkan kematiannya demi mewarisi hartanya,. Maka, bebaskanlah dirimu dari ikatan makhluk dan anggaplah mereka itu pintu gerbang yg membuka dan menutup atau pohon yg kadang berbuah dan kadang tidak. Ketahuilah, peristiwa semacam itu terjadi oleh satu pelaksana, dirancang oleh satu perancang dan Dialah Allah sehingga kau beriman pada Keesaan Allah.
Jangan pula melupakan upaya manusiawi agar tak menjadi korban keyakinan kaum fatalis (Jabariyyah) dan yakinlah bahwa tak suatu pun terwujud kecuali atas izin Allah Ta'ala. Karena itu, jangan Anda puja upaya manusiawi karena yg demikian ini melupakan Tuhan dan jangan berkata bahwa tindakan-tindakan manusia berasal dari sesuatu. Bila demikian berarti kau tak beriman dan termasuk dalam golongan Qadariyyah. Hendaknya kau katakan bahwa segala perbuatan makhluk adalah milik Allah, inilah pandangan yg telah diturunkan kepada kita lewat keterangan-keterangan yg berhubungan dgn masalah pahala dan hukuman.
Dan laksanakan perintah-perintah Allah yg berkenaan dgn mereka (manusia), dan pisahkanlah bagianmu sendiri dari mereka dgn perintahNya pula dan jangan melampaui batas ini, karena hukum Allah itu pasti berlaku terhadapmu dan mereka; jangan menghukumi diri sendiri. Kemaujudanmu bersama mereka merupakan takdirNya. TakdirNya merupakan 'kegelapan', maka masukilah 'kegelapan' ini dgn pelita sekaligus penentu; yaitu Qur'an dan Sunnah Rasul. Jangan tinggalkan kedua-duanya. Tapi bila di dalam fikiranmu melintas suatu ide atau kau menerima ilham maka tundukkanlah mereka kepada Qur’an dan Sunnah Rasul.
Bila kau dapati larangan dari Al Qur'an dan Sunnah Rasul tentang yg terlintas pada benakmu dan yg kau terima melalui ilham, maka kau harus menjauhi ide dan ilham semacam itu. Yakinilah bahwa ide dan ilham itu berasal dari setan yg terlaknat. Dan jika Qur’an dan Sunnah Rasul membolehkan ide dan ilham itu - semisal pemenuhan keinginan-keinginan yg dibolehkan hukum, seperti makan, minum, berpakaian, menikah, dll - maka jauhi pula ide dan ilham itu, jangan menerimanya. Ketahuilah, hal itu merupakan dorongan hewanimu karenanya tentanglah dan musuhilah hal itu.
Bila kau dapati tiadanya larangan atau pembolehan di dalam Qur’an dan Sunnah Rasul, tentang yg kau terima, dan kau tak mengerti -semisal kau diminta pergi ke tempat tertentu, atau menemui seseorang yg saleh padahal melalui kurnia ilmu dan pencerahan dari Allah kepadamu, kau tak perlu pergi ke tempat itu atau menemui si orang saleh itu maka bersabarlah, jangan dulu melakukan sesuatu dan bertanyalah kepada dirimu sendiri: "Benarkah ini ilham dari Allah yg harus kulaksanakan ?" Adalah Sunnah Allah mengulang-ulang ilham semacam itu dan memerintahkanmu untuk segera berupaya atau menyibakkan isyarat semacam itu bagi para ahli hikmah - suatu isyarat yg hanya bisa dimengerti oleh para wali yg arif dan para badal yg teguh. Karena itu kau mesti tak segera berbuat, sebab kau tak tahu akibat dan tujuan akhir urusan, cobaan, bahaya dan sesuatu rancangan ghaib dariNya.
Maka bersabarlah, sampai Allah Sendiri melakukannya bagimu. Bila tindakan itu atas kehendakNya, dan kau dihantarkan ke maqam itu, maka bila cobaan menghadangmu kau akan melewatinya dgn selamat, karena Allah takkan menghukummu atas tindakan yg dikehendakiNya sendiri, namun Ia akan menghukummu atas keterlibatan langsungmu dalam kemaujudan suatu hal.
Mentaati perintah itu meliputi dua hal. Pertama, mengambil dari sarana penghidupan duniawi sebatas keperluanmu, dan mesti menghindari segala pemanjaan kesenangan jasmani, selesaikanlah semua tugas-tugasmu, dan ikatlah dirimu kepada penghalauan segala dosa, yg nyata dan yg tersembunyi. Kedua, berhubungan dgn perintah-perintah tersembunyi, yakni Allah tak menyuruh hambaNya untuk mengerjakan sesuatu, dan tak pula melarangnya. Perintah seperti ini berkaitan dgn hal-hal yg padanya tak ada hukum yg jelas; yakni hal-hal yg tak tergolong haram dan tak diwajibkan, dgn kata lain 'tak jelas', yg di dalamnya manusia diberi kebebasan penuh untuk bertindak, dan hal ini disebut mubah. Dalam hal ini tak boleh mengambil prakarsa, tetapi menunggu perintah yg bertalian dengannya. Bila menerima perintah itu, ia taati. Dgn demikian semua gerak dan diamnya menjadi demi Allah.
Jika ada kejelasan hukumnya ia bertindak selaras dgnnya.Bila tak ada kejelasan hukumnya ia bertindak atas dasar perintah-perintah tersembunyi. Melalui ini ia menjadi seteguh orang memperoleh hakikat.Bila kau telah sampai pada kebenarannya kebenaran(haqqul-haqq)yg disebut pencelupan (mahwu) atau peleburan (fana),berarti kau berada pada maqam badal yg patah hati demi Dia, suatu keadaan yg dimiliki muwahhid,orang yg tercerahkan ruhaninya,orang arif, yg adalah amir para amir,pengawas dan pelindung umat,khalifah dari Yang Maha Pengasih,kepercayaanNya (alaihimussalam).
Untuk mentaati perintah, kau harus melawan kedirianmu dan bebas dari ketergantungan kepada segala kemampuan dan kekuatan, dan mutlak harus terhindar dari segala kemauan dan tujuan duniawi dan ukhrawi. Dgn demikian, kau menjadi abdi Sang Raja bukan abdi kerajaanNya, bukan abdi perintahNya, bukan pula abdi kedirian. Kau seperti bayi dalam asuhan alam atau mayat yg dimandikan, atau pasien yg tak sadarkan diri di hadapan sang dokter, dalam segala hal yg berada di luar wilayah perintah dan larangan.
Risalah 11
Padamkan Syahwatmu! Kalau Tidak, Ia Akan Membakarmu!
Apabila timbul di dalam benakmu keinginan untuk kawin, padahal kau fakir dan miskin, dan kau tak mampu memenuhinya, maka bersabarlah dan berharaplah senantiasa akan kemudahan dari-Nya, yg membuatmu berkeinginan seperti itu, atau yg mendapati keinginan semacam itu di dalam hatimu, niscaya Ia akan menolongmu,(entah dgn menghilangkan keinginan itu darimu) atau dgn memudahkanmu menanggung beban hidupmu itu, dgn mengurniaimu kecukupan, mencerahkanmu dan memudahkanmu di dunia dan akhirat. Lalu Allah akan menyebutmu sabar dan mau bersyukur, karena kesabaranmu dan keridhaanmu atas ketentuan-Nya. Maka ditingkatkan-Nya kesucian dan kekuatanmu. Dan Allah berjanji untuk senantiasa menambah kurnia-Nya atas orang-orang yg bersyukur, sebagaimana firman-Nya : "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni'mat) kepadamu, dan jika kamu ingkari (ni'mat-Ku),maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS.Ibrahim-14: 7)
Maka bersabarlah, tentanglah hawa nafsumu, dan berpegang teguhlah pada perintah-perintah-Nya. Ridhalah atas takdir Yang Maha Kuasa, dan berharaplah akan ridha dan kurnia-Nya. Sungguh Allah sendiri telah berfirman: "Hanya orang-orang yg bersabarlah yg akan menerima pahala mereka tanpa batas." (QS. Az Zumar-39 : 10)
Risalah 12
Janganlah Kenikmatan Melalaikan Kita dari Sang Pemberi Nikmat
Apabila Allah Yang Maha Agung melimpahimu kekayaan, dan kekayaan itu memalingkanmu dari kepatuhan kepadaNya, niscaya Ia memisahkanmu dari Nya di dunia dan di akhirat. Mungkin juga Ia mencabut kurniaNya darimu, menjadikanmu papa dan melarat, sebagai hukuman atas kepalinganmu dari Sang Pemberi, dan keterpesonaanmu akan kurniaNya.
Tetapi, bila kau senantiasa patuh kepadaNya, dan tak terpengaruh oleh kekayaan itu, Allah akan menambahkan kurniaNya kepadamu, dan sedikit pun takkan menguranginya. Harta adalah abdimu, dan kau adalah abdi Sang Raja. Karena itu, hidup di dunia ini berada di bawah kasih sayangNya, dan hidup di akhirat terhormat dan abadi, bersama-sama para shiddiq, para syahid, dan para shaleh.
Risalah 13
Yang Terbaik adalah Yang Dipilihkan Allah
Jangan berupaya menjarah sesuatu rahmat, dan jangan pula berupaya menangkis datangnya sesuatu bencana. Rahmat akan datang kepadamu jika ia sudah ditakdirkan untukkmu, baik kau suka atau pun tak suka. Bencana akan menimpamu, jika itu takdir bagimu, entah suka atau tak suka, dan kau coba menangkisnya dgn do'a, atau menghadapinya dgn kesabaran dan keteguhan hati demi mendapatkan keridhaanNya.
Berpasrahlah dalam segala hal, agar Ia bertindak melalui dirimu. Jika itu suatu rahmat, bersyukurlah. Dan jika itu suatu bencana, bersabarlah, atau coba tumbuhkanlah kesabaran dan keterikatan dgn Allah dan keridhaanNya.
Atau coba rasakanlah rahmatNya di dalam bencana ini, atau menyatulah sedapat mungkin denganNya lewat hal ini, lewat semua sarana spiritual yg kau miliki. Di dalamnya, kau akan digerakkan dari satu maqam ke maqam yg lain dalam perjalananmu menuju Allah, yaitu dalam upaya mentaati dan berakrab dgn perintah sehingga kau dapat berjumpa dgn yang Maha Besar.
Lalu, kau ditempatkan di maqam yg sebelumnya telah dicapai oleh para Shiddiq, para syahid dan para shaleh. Maknanya, kau mencapai keakraban sedemikian rupa dgn Allah hingga memungkinkanmu melihat maqam orang-orang yg telah mendahuluimu menghadap Sang Raja, Penguasa Kerajaan yg Agung dan orang-orang yg dekat denganNya dan telah menerima segala kenyamanan, kesenangan, keamanan, kehormatan dan rahmat dariNya.
Biarkanlah bencana itu datang, dan jangan rintangi jalannya. Jangan menghadapinya dgn doa. Jangan merasa gundah atas kedatangan dan penghampirannya, karena panas apinya tak lebih mengerikan daripada kobaran api neraka.
Mengenai manusia yg terbaik di atas bumi dan di kolong langit ini, Rasulullah Muhammad saw, diriwayatkan, bersabda: "Sungguh, api neraka akan berseru kepada orang-orang beriman 'Wahai mu'min, cepatlah berlalu karena cahayamu mematikan nyala apiku' "
Nah, bukankah nur seorang mu'min yg mematikan nyala api neraka itu adalah cahaya yg kita temui padanya di dunia ini dan yg membedakan yg ta’at kepada Allah dan yg kafir ? Cahaya inilah yg memadamkan kobaran bencana. Sedang kesejukan kesabaranmu dan kepatuhanmu kepada Allahlah yg memadamkan panas yg bakal menimpamu.
Jadi, bencana yg menimpamu bukanlah untuk menghancurkanmu tapi mengujimu, mengukuhkan imanmu, menguatkan pilar-pilar keyakinanmu, dan memberimu secara ruhani kabar baik dariNya tentang kehendakNya atasmu. Allah berfirman : "Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kalian agar Kami mengetahui orang-orang yg berjihad dan bersabar di antaramu; dan agar kami nyatakan hal ihwal kalian. " (QS: 47:31).
Nah, bila keimananmu dgn Allah terbukti dan sedemikian sesuai dgn ketentuanNya - dan hal ini berkat pertolonganNya - maka kau mesti tetap bersabar, serasi denganNya dan penuh taat kepadaNya. Jangan biarkan segala pelanggaran terhadap perintah dan laranganNya, baik oleh dirimu sendiri maupun orang lain. Bila datang perintahNya, dengarkanlah dgn seksama dan segeralah melaksanakannya. Bertindaklah, jangan diam, jangan pasif di hadapan takdir Yang Maha Kuasa, tapi curahkanlah kekuatanmu dan berupayalah memenuhi perintah itu.
Jika kau tak mampu melaksanakan perintah itu, jangan membuang-buang waktu, segeralah kembali kepada Allah. Berlindunglah kepadaNYa, rendahkanlah dirimu di hadapanNYa, mohonlah ampunanNya. Coba carilah sebab ketakmampuanmu melaksanakan perintahNya, dan untuk terjauhkan dari berbangga atas kepatuhanmu kepadaNya. Mungkin ketakmampuanmu ini disebabkan oleh prasangka-prasangka buruk, atau oleh sikap tak layakmu dalam kepatuhanmu kepadaNya atau oleh kebanggaanmu, atau oleh kebertumpuanmu pada daya upayamu sendiri, atau oleh perbuatanmu sendiri menyekutukanNya dgn dirimu sendiri atau dgn makhlukNya. Akibatnya, Ia menjauhkanmu dari pintuNya dan menolak kepatuhanmu kepadaNYa. Lalu Ia tutup pintu pertolongan bagimu, Ia palingkan kemurahan wajahNya dari dirimu. Ia menjadi marah kepadaMu, dan menjauhkan diri darimu. DibiarkanNya, kau sibuk dgn cobaan-cobaanmu di dunia ini, dgn kedirianmu. Tak tahukah kau, bahawa hal ini membuatmu lupa akan Tuhanmu, dan menutupimu dari penglihatanNya, Ia yg telah menciptakanmu, memeliharamu, dan mengurniaimu sedemikian banyak ni'mat. Waspadalah agar segala sesuatu selain Allah ini tak memisahkanmu dariNya. Maka, jangan mengutamakan sesuatu selain Allah, sebab Dia menciptakanmu semata-mata untuk beribadah kepadaNya. Maka janganlah berlaku aniaya terhadap diri sendiri, sehingga disibukkan oleh segala yg bukan perintahNya. Yg demikian itu, menjerumuskanmu ke dalam api neraka yg bahan bakarnya manusia dan bebatuan, dan kau pasti menyesal, tapi penyesalanmu tiada guna dan kau berdalih, tapi tiada dalih yg diterima. Kau menangis minta pertolongan, tapi takkan ada pertolongan. Kau coba menyenangkan Allah, tapi sia-sia.
Kau minta dikembalikan ke dunia, untuk mempersiapkan bekal dan menebus kesalahan, tapi sia-sia. Kasihanilah dirimu, dan gunakanlah segala sarana untuk mengabdi kepada Tuhanmu, seperti akalmu, keimananmu, kecerahan ruhanimu, dan ilmu yg dikurniakan kepadamu. Dan berupayalah menerangi lingkunganmu dgn cahaya ini semua di tengah-tengah kehampaan tujuan. Pegang teguhlah semua perintah dan larangan Allah, dan lewatilah, di bawah petunjuk keduanya, jalan menuju Tuhanmu, Ia yg telah menciptakan dan menumbuhkanmu. Jangan kufur ni'mat kepadaNya, Ia yg telah menciptakanmu dari debu, dan dari setetes mani dijadikanNya kau seorang manusia sempurna. Janganlah menghendaki yg bukan perintahNya, dan jangan menganggap sesuatu itu buruk, bila tak tegas-tegas diharamkanNya. Bila kau serasi dgn perintahNya, seluruh makhluk hormat kepadamu. Bila kau menghinakan segala yg dilarang oleh Allah, maka segala yg tak nampak lari menjauhimu, di manapun kau berada. Allah telah berfirman : " Wahai bani Adam, Akulah Allah, tak ada Tuhan selain Aku. Bila Aku katakan 'Jadilah', maka jadilah ia. Ta’atilah Aku, maka akan Kusempurnakan kamu, sehingga bila kau berkata 'Jadilah', maka jadilah ia. "
"Wahai bumi, hormatilah orang-orang yg memujiku dan susahkanlah orang-orang yg memujamu."
Maka, bila datang sesuatu yg diharamkanNya, berlakulah bagai seorang yg lunglai sendi-sendi tulangnya, yg kehilangan kekuatan jasmaninya, yg remuk hatinya, yg tak bergairah, yg terlepas dari pesona-pesona duniawi dan dari segala nafsu hewani, bak pelataran gelap nan tak terurus, bak gedung tak berpenghuni yg atapnya sudah jebol, yg di dalamnya tak ada jejak-jejak kemaujudan hewani. Berlakulah bagai seorang tuli sejak lahir, bagai seorang buta sejak lahir, seakan bibirmu penuh bengkak nan ngeri, seakan lidahmu bisu dan kasar, seakan gigimu bernanah penuh nyeri dan tanggal, seakan kedua tanganmu lumpuh dan tak kuasa memegang sesuatupun, seakan kakimu gemetar dan penuh luka, seakan kemaluanmu lumpuh, seolah perutmu kekenyangan, seakan akalmu gila, dan tubuhmu seakan mayat tengah diangkut ke kubur.
Maka, kau mesti segera mendengarkan dan menunaikan semua perintahNya sebagaimana kau mesti enggan tak bergairah terhadap semua yg diharamkanNya dan berlaku bagai mayat, pasrahlah terhadap ketentuanNya. Nah, teguklah sirup ini, ambillah obat ini, dan aturlah makanmu agar kau terbebas dari kedirian, sembuhkanlah dirimu dari segala penyakit dosa dan lepaskanlah dirimu dari belenggu nafsu dan dgn demikian terperbaruilah dirimu menjadi pribadi yg ruhaninya sehat dan sempurna.
Risalah 14
Dan untuk Yang Demikian Itu, Hendaklah Berlomba-lomba
Wahai budak nafsu! Jangan mengkalim bagi dirimu sendiri maqam para rabbani. Kau adalah pemuja nafsu sedang mereka adalah penyembah Allah. Dambaanmu adalah dunia sedang dambaan mereka adalah akhirat. Matamu hanya melihat dunia ini sedang mata mereka melihat Tuhan bumi dan langit. Kau pencinta ciptaan sedang mereka pencinta Allah. Hatimu terpaut pada yg di bumi sedang hati mereka terpaut pada Tuhan Arsy. Kau adalah korban segala yg kau lihat sedang mereka tak melihat segala yg kau lihat. Mereka hanya melihat sang Pencipta segalanya yg tak mungkin terlihat (oleh mata-mata ini). Orang-orang ini meraih tujuan hidup mereka dan keselamatan mereka terjamin sedang kau tetap menjadi korban nafsu duniawi.
Orang-orang ini lepas dari ciptaan, nafsu duniawi dan kedirian.Dgn demikian mereka melicinkan jalan bagi penghampiran mereka kepada Tuhan Yang Maha besar yg menganugerahi mereka kekuatan meraih kemaujudan yg baik; kepatuhan kepada Tuhan Inilah ridha Allah yg dianugerahkan-Nya kepada yg dikehendaki-Nya. Mereka jadikan taat dan pemujaan sebagai kewajiban mereka dan kokoh dalam keduanya dgn bantuan-Nya tanpa mengalami kesulitan. Maka kepatuhan dapat dikatakan menjadi jiwa dan keseharian mereka.
Akhirnya dunia menjadi rahmat dan menyenangkan bagi mereka, bagai surga layaknya. Sebab, bila mereka melihat sesuatu, mereka melihat di balik sesuatu itu penciptaan-Nya. Maka orang-orang ini memberi daya kepada bumi dan langit dan menyenangkan bagi yg mati dan yg hidup. Karena Tuhan mereka telah menjadikan mereka pasak bumi. Mereka bagai gunung-gunung yg berdiri kokoh. Orang-orang ini adalah yg terbaik di antara yg telah diciptakan dan ditebarkan-Nya di dunia ini. Semoga kedamaian dari Allah melimpahi mereka juga salam dan rahmat-Nya selama bumi dan langit maujud.
Risalah 15
Takut dan Harap adalah Dua Sayap Iman
Aku melihat dalam mimpi seolah aku berada di suatu tempat seperti masjid yg di dalamnya ada beberapa orang menjauh dari manusia-manusia lain. Aku berkata pada diriku: "Jika si fulan hadir di sini tentu ia bisa mendisiplinkan orang-orang ini, dan memberinya petunjuk yg benar, dan seterusnya",lalu terbayang olehku seorang yg saleh tengah dikerumuni mereka dan salah seorang dari mereka bertanya: "Kenapa Anda diam ?" Jawabku: "Jika kalian berkenan, aku akan bicara". Lanjutku, "Jika kalian menjauh dari orang-orang demi kebenaran, jangan meminta sesuatu pun dgn lidah kepada manusia. Jika kau berhenti meminta secara demikian, maka jangan meminta sesuatu pun kepada mereka, meski dalam hati, sebab meminta dalam hati sama saja dgn meminta dgn lidah.Dan ketahuilah, setiap hari Allah selalu kuasa mengubah, mengganti, meninggikan dan merendahkan (orang-orang). Ia naikkan derajat beberapa orang. Lalu, mereka yg telah dinaikkan-Nya ke derajat tertinggi, diancam-Nya bahwa Ia bisa menjatuhkan mereka ke derajat terendah, dan diberi-Nya mereka harapan bahwa Ia akan memelihara mereka di tempat terpuji itu. Sedang mereka yg telah dilemparkan-Nya ke derajat terendah, diancam-Nya dgn kehinaan nan abadi, dan diberi-Nya mereka harapan dinaikkan ke derajat tertinggi." Kemudian aku terjaga dari mimpiku.
Risalah 16
Dengan Tawakal kepada Allah, Engkau akan Mendapati-Nya di Pihakmu
Tak ada yg menjauhkanmu dari ridha dan rahmat-Nya kecuali ketergantunganmu kepada manusia, sarana-sarana keterampilan, akal dan perolehan.Manusia termasuk penghalang bagimu dalam mencari rezeki yg sesuai dgn sunnah Rasul, semisal bekerja mencari nafkah. Selama bergantung pada manusia, selama itu pula kau mengharapkan kesudian dan uluran tangan mereka bahkan kau meminta dgn bersedih hati di depan pintu rumah mereka.Perbuatan seperti ini termasuk syirik karena kau menyekutukan Ia dgn makhluk-Nya.Setimpal dgn (dosa besarmu) itu, kau dihukum dgn pencabutan sumber rezekimu, semisal kehilangan pekerjaan yg halal. Bila kau campakkan ketergantungan dan pengemisanmu kepada mereka dan berlindung kepada mata pencarianmu, hidup dgnnya, dan lupalah kamu akan ridha Allah, maka hal ini juga termasuk syirik, malah lebih berbahaya dari yg pertama karena kemusyrikan semacam ini halus sekali sehingga sulit dilihat. Tentu Allah akan menghukummu atas kedurhakaanmu ini dgn makin menjauhkanmu dari ridha-Nya.
Bila telah berpaling dari kesesatan semacam itu, membuang jauh-jauh segala kemusyrikan dari kehidupan, dan mencampakkan semua ketergantungan kepada mata pencarian dan kemampuan diri, dan yakin hanya Dialah Pemberi Rezeki, Pencipta segala kemudahan, Pemberi kekuatan untuk mencari nafkah, Pemberi segala kebaikan, dan bahwa rezeki sepenuhnya berada di tangan-Nya, maka rezeki itu kadang dilimpahkan-Nya kepadamu melalui orang lain, kala kau mendapat musibah dan sedang berupaya mengatasinya.Kadang rezeki itu datang kepadamu melalui upahmu dari bekerja, kadang rezeki itu datang kepadamu melalui ridha-Nya hingga kau tak melihat sebab dan perantaranya.
Nah, berpalinglah kepada-Nya, campakkanlah segera di hadapan-Nya kedirian maka diangkat-Nya tabir penghalang antara kau dan ridha-Nya dan dibuka-Nya pintu-pintu rezeki dgn ridha-Nya, seperti seorang dokter merawat pasiennya - sebagai perlindungan-Nya atasmu agar kau tak menyimpang. Sungguh Ia menyayangimu dgn limpahan ridha-Nya.
Nah, bila telah diusir-Nya dari hatimu kedirian dan kesenangan, maka tinggallah di sana kehendak-Nya semata. Lalu, bila Ia ingin memberikan bagianmu kepadamu, yg tak mungkin lepas dari tanganmu, dan memang bukan hak orang lain, maka ditimbulkan-Nya di dalam hatimu keinginan untuk meraih bagianmu, dan diserahkan-Nya ke tanganmu kala kau membutuhkannya. Lalu, diberi-Nya kau kemampuan mensyukuri nikmat tersebut. Kau akan selalu disadarkan-Nya kepadamu sebagai bagianmu. Untuk itu, kau mesti menyadarinya dan bersyukur kepada-Nya. Semua ini meneguhkanmu dalam menjauhi manusia, dan mengosongkan hatimu dari segala selain Allah.
Bila hikmah ilmumu tinggi, keyakinanmu teguh, hatimu tercerahkan, maqam derajatmu makin dekat dengan-Nya, maka kau diberi-Nya kemampuan "melihat ke depan", sebagai tanda kerelaanmu dan sebagai penghargaan atas harkatmu. Ini hanyalah sebagian dari keridhaan-Nya, sebagai rahmat dan petunjuk-Nya, sebagai rahmat dan petunjuk-Nya. Allah telah berfirman: " Dan kami jadikan ia (al-Kitab) itu petunjuk bagi Bani Israil. Dan Kami jadikan di antara mereka itu, pemimpin-pemimpin yg memberi petunjuk dgn perintah Kami, ketika mereka sabar, dan meyakini ayat-ayat kami." (QS.32:23-24). "Dan orang-orang yg berjihad demi Kami, sungguh akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami." (QS.29:69) “Dan bertakwalah kepada Allah, niscaya Allah mengajarimu” (QS 2:282) dan memberimu kemampuan untuk mengawasi semesta alam dgn izin yg jelas, yg tiada kegelapan di dalamnya dan dgn tanda yg nyata, yg terang benderang bagai sang surya, dan dgn tutur kata yg manis, yg lebih menarik dari segala apa pun, dan dgn ilham yg benar, yg tak sedikit pun mengandung kekaburan, yg bersih dari dorongan setan dan dari rayuan iblis yg terkutuk.Allah berfirman:
"Wahai Bani Adam, Akulah Allah, tak sesuatu pun layak dipuja kecuali Daku. Aku berfirman 'Jadilah', ia pun akan maujud. Taatilah Aku, niscaya kau akan Kubuat sedemikian rupa, sehingga jika berseru 'jadilah', ia pun akan maujud."
Dan Ia telah membuat ihwal serupa ini kepada beberapa Rasul-Nya, beberapa wali-Nya, dan orang-orang yg sangat diridhai-Nya di antara hamba-hamba-Nya.
Risalah 17
Pergilah dari Makhluq ke Khaliq,dari Dunia ke Pencipta Dunia
Bila 'bersatu' dgn Allah dan mencapai kedekatan dengan-Nya lewat pertolongan-Nya, maka makna hakiki 'bersatu' dgn Allah ialah berlepas diri dari makhluk dan kedirian, dan sesuai dgn kehendak-Nya, tanpa gerakmu, yg ada hanya kehendak-Nya. Nah, inilah keadaan fana (peleburan), dan dgnnya itulah 'menunggal' dgn Tuhan. 'Bersatu' dgn Allah tentu tak sama dgn bersatu dgn ciptaan-Nya. Bukankah Ia telah menyatakan: "Tak ada sesuatu pun yg serupa dengan-Nya, dan Dialah Yang Maha mendengar lagi Maha melihat." (QS. 42:11)
Allah tak terpadani oleh semua ciptaan-Nya. 'Bersatu' dengan-Nya lazim dikenal oleh mereka yg mengalami kebersatuan ini. Pengalaman mereka berlainan, dan khusus bagi mereka sendiri.
Pada diri setiap Rasul, Nabi dan wali Allah, terdapat suatu rahsia yg tak dapat diketahui oleh orang lain. Sering terjadi, seorang murid menyimpan suatu rahsia yg tak diceritakannya kepada sang syaikh, dan sebaliknya sang syaikh kadang merahsiakan sesuatu yg tak diketahui si murid, walaupun mungkin suluk si murid sudah mendekati ambang pintu maqam ruhani sang syaikh, ia terpisah dari syaikh-nya, dan Allahlah yg menjadi pembimbingnya.Allah memutuskan hubungannya dgn ciptaan.
Dgn demikian, sang syaikh menjadi bagai seorang inang pengasuh yg berhenti menyusui sang bayi setelah dua tahun. Tiada lagi baginya hubungan dgn ciptaan, setelah lenyapnya kedirian. Sang syaikh diperlukan, selama si murid masih terbelenggu kedirian, yg mesti dihancurkan. Tapi, begitu kelemahan manusiawi ini musnah, maka pada dirinya tak ada lagi noda dan kerusakan, dan ia tak lagi membutuhkan sang syaikh.
Jadi, bila sudah 'bersatu' dgn Allah sebagaimana yg digambarkan di atas, kau bersih dari segala selain Allah. Tak kau lihat lagi sesuatu pun kecuali Allah, di kala suka mahupun duka, ketakutan maupun berharap, kau hanya menjumpai Dia, Allah SWT, yg patut kau takuti, yg layak kau mintai perlindungan-Nya. Nah, perhatikan senantiasa kehendak-Nya , dambakanlah perintah-Nya, dan patuhlah selalu kepadanya-Nya, baik di dunia maupun di akhirat. Jangan biarkan hatimu tertambat pada salah satu ciptaan-Nya.
Pandanglah semua ciptaan bagai orang yg ditahan oleh Raja sebuah kerajaan besar, lalu sang raja merantai leher dan kedua lengannya, menyalibnya pada sebatang pohon pinus yg berada di tebing sungai berarus deras, bergelombang dan amat dalam. Sementara itu sang Raja duduk di atas singgasana yg tinggi, bersenjatakan lembing, panah, dan berbagai senjata bidik. Lalu mulailah sang raja mengarahkan dan membidikkan salah satu senjata bidiknya kepada si tawanan. Dapatkah kita hargai orang yg melihat ini semua, dan memalingkan penglihatannya dari sang raja, sama sekali tak takut kepada raja itu, tak berharap kepadanya, tak iba kepada tawanan itu dan tak memohonkan ampunan untuknya? Bukankah, menurut pertimbangan akal sehat, orang semacam ini tergolong tolol, gila, tak berbudi, dan tak manusiawi?
Nah, berlindunglah kepada Allah dari kebutaan hati, sesudah memiliki bashirah ( mata hati), dari keterpisahan sesudah 'bersatu', dari keterasingan sesudah keakraban, dari ketersesatan sesudah memperolehi petunjuk, dan dari kekufuran sesudah beriman.
Dunia ini bak sungai besar berarus deras. Setiap hari airnya bertambah, dan itulah perumpamaan nafsu hewani manusia dan segala kesenangan duniawi. Sedang anak panah dan berbagai senjata bidik, melambangkan ujian hidup manusia. Jelaslah, unsur-unsur yg menguasai kehidupan manusia yaitu berbagai cobaan hidup, musibah, penderitaan, dan semua upaya mengatasinya. Bahkan semua kurnia dan nikmat yg diterimanya, dibayang-bayangi oleh berbagai musibah.
Oleh karena itu, bila seorang ulama mau merenungi masalah ini terus-menerus, maka ia akan memperolehi pengetahuan tentang hakikat, bahwa tak ada kehidupan sejati kecuali kehidupan akhirat. Rasulullah saw. Bersabda: "Tak ada kehidupan selain kehidupan di akhirat."
Ihwal semacam ini benar-benar terbukti bagi seorang Mukmin, sesuai dgn sabda Nabi saw.: "Dunia ini adalah penjara bagi seorang Mukmin dan surga bagi seorang kafir."Beliau juga bersabda: "Orang saleh terkekang."
Bagaimana bisa hidup enak di dunia ini, bila diingat hal ini? Sesungguhnya, kenyamanan hakiki terletak pada hubungan sempurna dgn Allah SWT, penyerahan diri sepenuhnya kepada-Nya.Bila kau lakukan hal ini niscaya kau terbebas dari dunia ini dan kepadamu dilimpahkan rahmat, kebahagiaan, kebajikan, kesejahteraan, dan keridhaan-Nya.
Risalah 18
Luka karena Kekasih, Tidak Ada Kepedihan yang Dirasakan
Janganlah kau mengeluh tentang sesuatu bencana yg menimpamu kepada siapa pun, baik kepada kawan maupun lawan. Jangan pula menyalahkan Tuhanmu atas semua takdir-Nya bagimu, dan atas ujian yg ditimpakan-Nya atasmu. Beritakanlah semua kebaikan yg dilimpahkan-Nya atasmu. Beritakanlah semua kebaikan yg dilimpahkan-Nya kepadamu, dan segala puji syukur atas semua itu. Kedustaanmu menyatakan puji syukurmu atas sesuatu rahmat yg sesungguhnya belum datang kepadamu, lebih baik ketimbang cerita-ceritamu perihal kepedihan hidup. Adakah ciptaan yg sunyi dari rahmat-Nya? Allah SWT berfirman: "Dan jika kamu hitung nikmat-nikmat Allah, kamu takkan sanggup menghitungnya." (QS. 14:34) Betapa banyak nikmat yg telah kau terima, dan tak kau sadari! Jangan merasa senang dgn ciptaan, jangan menyenanginya, dan jangan menceritakan hal ihwalmu kepada siapa pun. Cintamu harus kau tujukan hanya kepada-Nya, merasa senanglah dengan-Nya dan mengeluhlah hanya kepada-Nya.
Jangan kau lihat orang lain karena mereka tak memberi manfaat dan mudharat.Segala sesuatu adalah ciptaan-Nya,di tangan-Nyalah sumber gerak atau diam mereka.Kemaujudan mereka sampai detik ini pun semata-mata karena kehendak-Nya. Dialah penentu derajat mereka. Barangsiapa dimuliakan-Nya, maka takkan ada yg mampu menjadikannya hina. Dan barangsiapa dihinakan-Nya, takkan ada yg mampu menjadikannya mulia. Jika Allah berkehendak menimpakan keburukan atasmu, tak seorang pun sanggup mencegahnya, selain Ia sendiri. Dan jika Ia berniat melimpahkan kebaikan, tak seorang pun sanggup menahan turunnya rahmat-Nya. Nah, bila kau mengeluh terhadap-Nya, padahal kau menikmati rahmat-Nya, kau tamak, dan menutup mata atas yg kau miliki, maka Allah murka kepadamu, mencabut kembali nikmat-Nya darimu, mewujudkan segala keluhanmu, melipatgandakan kesusahanmu, dan memperhebat hukuman, kemurkaan dan kebencian-Nya kepadamu. Kau menjadi terhinakan di mata-Nya.
Oleh karena itu, janganlah mengeluh sedikit pun, walau jasadmu digunting-gunting menjadi serpihan-serpihan kecil daging. Selamatkanlah dirimu! Takutlah kepada Allah! Takutlah kepada Allah! Takutlah kepada Allah!
Sesungguhnya sebagian besar musibah yg menimpa anak Adam disebabkan oleh keluhan mereka terhadap-Nya.Kenapa menyalahkan-Nya? Padahal Ia Maha Pengasih, Maha Adil, Maha Sabar, Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan yg lemah-lembut terhadap hamba-hamba-Nya, melebihi seorang dokter yg sabar, pengasih, penyayang, ramah, yg juga kerabat si pasien. Dapatkah kau temui suatu kesalahan pada diri seorang ayah atau ibu yg berhati mulia?Nabi Suci saw telah bersabda:"Allah lebih penyayang terhadap hamba-hamba-Nya dibandingkan seorang ibu terhadap anaknya."
Wahai yg dirundung malang! Tunjukkanlah perilaku terbaik.
Tunjukkanlah kesabaranmu bila musibah menimpamu, meski kau tak berdaya karenanya. Bersabarlah selalu, meski kau kepayahan dalam menyerahkan diri kepada-Nya. Bertakwalah selalu kepada-Nya. Ridha dan rindulah kepada-Nya. Jika masih kau temui kedirianmu, bergegaslah keluar darinya. Bila kau terhilang, dimanakah kau kan didapat? Dimanakah kau? Belumkah kau dengar firman Allah:
"Diwajibkan atas kamu berperang, sesungguhnya berperang itu sesuatu yg kamu benci. Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu, dan mungkin kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu. Dan Allah Maha-mengetahui, sedang kamu tak mengetahui." (QS-2:216).
Pengetahuan ihwal hakikat segala suatu tercabut dari hatimu dan tertutup dari penglihatanmu oleh tabir. Oleh kerana itu, jangan berlebih-lebihan dalam membenci ataupun mencintai sesuatu. Ikutilah segala ketentuan syariat dalam segala keadaan, jika kau benar-benar saleh. Setelah kau jalani hal ini, maka ikutilah semua perintah tentang wilayat, dan teguhlah selalu. Ridhalah atas ketentuan-Nya dan berdamailah dgn kehendak-Nya.Dan luruhlah ke dalam keadaan badal, ghauts dan shiddiq.
Bertolaklah senantiasa dari jalan nasib, jangan berdiri di tengah-tengahnya, gantilah dirimu dan hasratmu (dgn kehendak-Nya), dan tahanlah lidahmu dari segala keluhan. Bila hal ini telah kau jalani, maka Tuhanmu mengurniamu kebaikan berlimpah, kehidupan yg nyaman dan bahagia, dan melindungimu, karena ketaatanmu kepada-Nya.
Bila di dalam diri manusia, bersarang berbagai dosa, noda dan kesalahan, maka tak layak baginya bersama-Nya, sebelum ia bersih dari dosa-dosa. Tak seorang pun dapat mencium ambang pintu-Nya, kecuali ia suci dari noda ujub, sebagaimana tak seorang pun layak bersama raja, kecuali ia bersih dari noda dan bau busuk. Nah, semua musibah tak lain adalah sarana penebus dan pembersih diri. Nabi saw. Telah bersabda: "Demam sehari dapat menebus dosa satu tahun."
Risalah 19
Tunaikanlah Janjimu dan Lihatlah kepada Siapa Engkau Berjanji!
Bila kau lemah iman, bila dijanjikan kepadamu sesuatu, janji itu dipenuhi, sehingga keimananmu tak sirna. Tapi, bila keyakinan dan kepastian ini jadi kuat dan mantap di dalam hatimu, maka, sebagaimana firman-Nya: "Sesungguhnya kamu pada hari ini menjadi seorang yg berkedudukan tinggi lagi terpercaya di sisi Kami." (QS.12:54), dan menjadilah kau salah seorang yg terpilih, bahkan yg terpilih dari yg terpilih. Maka sirnalah tujuan maupun kehendak pribadimu.
Lalu, kau seolah-olah sebuah bejana yg tak setetespun cairan bisa berada di atasnya, sehingga tiada kedirian di dalam dirimu. Kau menjadi bersih dari segala selain Allah Yang Maha kuasa lagi Maha agung. Kau menjadi ridha kepada-Nya, kepadamu dijanjikan keridhaan-Nya sehingga kau dapat menikmati dan terahmati atas semua tindakan-Nya.
Maka kepadamu dijanjikan sesuatu, bila kau puas dgn (janji) itu, dan tanda kepuasan ada padamu, maka kau dipindahkan-Nya ke janji lain yg lebih tinggi. Dijadikan-Nya kau lebih terhormat, dan dianugerahkan-Nya kepadamu rasa cukup-diri terhadap janji. Dibuka-Nya bagimu pintu-pintu hikmah, disingkapkan-Nya bagimu misteri Ilahiah, kebenaran hakiki, makna perubahan janji-Nya. Dan dalam maqam barumu, kau alami peningkatan kemampuan memelihara keadaan ruhaniahmu.
Lalu, kepadamu dianugerahkan derajat ruhani, yg didalamnya dipercayakan kepadamu rahsia-rahsia, dan kau alami perluasan dada, ketercerahan hati, kefasihan lidah, derajat tinggi ilmu dan kecintaan. Maka kau menjadi kesayangan semua makhluk, baik manusia maupun jin, dan makhluk-makhluk lainnya, di dunia dan di akhirat. Bila kau menjadi 'pilihan' Allah, maka orang tunduk kepada-Nya, cinta mereka berada di dalam cinta-Nya, dan kebencian mereka berada di dalam kebencian-Nya. Dgn ini, kau telah dihantarkan-Nya ke tempat yg amat tinggi, dan di sana tak kau jumpai lagi kedirianmu akan segala benda.
Lalu, dibuat-Nya kau penuh hasrat terhadap sesuatu, maka nafsumu ini dimusnahkan dan dilenyapkan, dan kau dipalingkan-Nya jauh-jauh dari keinginan serupa itu lagi. Jadi, tak diberikan-Nya yang kau inginkan di dunia ini, akan dilimpahkan kepadamu di akhirat kelak, sehingga meningkatkan keakrabanmu dengan-Nya, dan menyejukkan kedua matamu di surga yg tinggi di dalam taman yg abadi.
Tapi, bila selama ini kau tak berhasrat terhadap sesuatu pun, tak berharap kepada siapa pun, tak condong kepada apa pun - karena kau sadar bahwa kehidupan di dunia ini hanya sementara dan tipuannya menyesatkan yg mencintainya - tapi, tujuanmu adalah sang Khalik yg telah menciptakan, mewujudkan, menahan dan melimpahkan segala sesuatu, yg telah membentangkan bumi dan menegakkan langit maka kepadamu dilimpahkan segala yg kau butuhkan di dunia ini. Tentu saja ini semua diberikan kepadamu, setelah kau putus asa akibat dipalingkan dari semua hasrat duniawi dan sesudah kau merasa mantap akan kehidupan akhirat sebagaimana yg telah kita bicarakan.
Risalah 20
Iman adalah Keteguhan dan Keyakinan
Nabi Muhammad saw bersabda: "Campakkanlah segala yg meragukanmu tentang yg halal dan yg haram dan ambillah segala yg tak meragukanmu."
Bila sesuatu meragukan maka ambillah jalan yg didalamnya tiada sedikit pun keraguan dan campakkanlah yg menimbulkan keraguan. Nabi bersabda: "Dosa itu adalah segala sesuatu yg merusak hatmui." Tunggulah bila dalam keadaan begini, perintah batinmu. Bila kau diperintahkan untuk mengambilnya maka lakukanlah sesukamu.Jika kau dilarang, maka jauhilah dan anggaplah itu tak pernah ada dan berpalinglah ke pintu Allah dan mintalah pertolongan Tuhanmu.
Andaikata kau merasa kehabisan kesabaran, kepasrahan dan kefana’an, maka ingatlah bahwa Dia SWT tak memerlukan diingat, Dia tak lupa kepadamu dan selainmu. Ia yang Maha kuasa lagi Maha agung memberikan rezeki kepada para kafir, munafik dan mereka yg tak mematuhi-Nya. Mungkinkah Dia lupa kepadamu, duhai yg beriman, yg mengimani keesaan-Nya, yg senantiasa patuh kepada-Nya dan yg teguh dalam menunaikan perintah-perintah-Nya siang dan malam.
Arti lain dari sabda Nabi Saw:"Campakkanlah segala yg meragukanmu dan ambillah yg tak meragukanmu" adalah memerintahkanmu untuk meremehkan yg ada di tangan manusia,tak mengharap sesuatu pun dari manusia atau untuk tak takut kepada mereka dan untuk menerima kurnia Allah. Dan inilah yg takkan membuatmu ragu. Karena itu hanya ada satu yg kepadanya kita meminta, satu pemberi dan satu tujuan yaitu Tuhanmu Yang Maha perkasa lagi Maha agung yg di tangan-Nya kening para raja dan hati manusia yg adalah raja tubuh, berada - yaitu bahwa hati mengendalikan tubuh - tubuh dan harta manusia adalah milik-Nya, sedang manusia adalah agen dan kepercayaan-Nya.
Bila mereka menggerakkan tangan mereka kepadamu, hal itu atas izin, perintah dan gerak-Nya. Begitu pula, bila kurnia ditahan darimu. Allah SWT berfirman: "Mintalah kepada Allah kurnia-Nya."(QS 4:32)
"Sesungguhnya yg kau abdi selain Allah, tak memberimu sesuatu pun karena itu mintalah kurnia dari Allah dan abdilah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya." "Bila hamba-hambaku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku sangat dekat; Aku menerima doa dari yg berdoa bila ia berdoa kepada-Ku." "Serulah Aku, maka Aku akan menyahutmu." "Sesungguhnya Allah adalah Pemberi kurnia, Tuhan kekuatan." "Sesungguhnya Allah memberikan kurnia kepada yg dikehendaki-Nya tanpa batas."
Risalah 21
Menyalahkan Takdir adalah Semburan Panas dari Panasnya Setan
Aku melihat setan terkutuk dalam mimpi seolah aku berada dalam sebuah kerumunan besar dan aku berniat membunuhnya. Lalu si setan itu berkata kepadaku, "Kenapa kamu hendak membunuhku, dan apa dosaku? Jika Allah menentukan keburukan, maka aku tak kuasa mengubahnya menjadi kebaikan. Jika Allah menentukan kebaikan, maka aku tak kuasa mengubahnya menjadi keburukan. Dan apa yg ada di tanganku?" Dan kulihat dia seperti seorang kasim, lembut ucapannya, dagunya berjenggot, hina pandangannya dan buruk mukanya, seolah ia tersenyum kepadaku, penuh malu dan ketakutan. Hal ini terjadi pada malam Ahad, 12 Zulhijjah 401 H.
Risalah 22
Ujianmu sesuai dengan Maqammu
Allah menguji hamba beriman-Nya menurut kadar imannya. Jika iman seseorang kuat maka cobaannya pun kuat. Cobaan seorang Rasul lebih besar daripada cobaan seorang Nabi karena iman Rasul lebih tinggi daripada iman Nabi. Cobaan Nabi lebih besar daripada cobaan seorang badal. Cobaan seorang badal lebih besar daripada cobaan seorang wali. Setiap orang diuji menurut kadar iman dan keyakinannya. Tentang ini Nabi Suci saw bersabda: "Sesungguhnya kami, para Nabi, adalah orang yg paling banyak diuji. Oleh karena itu Allah terus menguji pemimpin-peminpin mulia ini agar mereka senantiasa berada di sisi-Nya dan tak lengah sedikit pun. Dia SWT mencintai mereka dan mereka adalah orang-orang yg penuh cinta dan dicintai oleh Allah dan pencinta takkan pernah ingin menjauhkan diri dari yg dicintainya.
Maka cobaan-cobaan memperkokoh hati dan jiwa mereka dan menjaganya dari kecenderungan terhadap sesuatu yg bukan tujuan hidupnya, dari merasa senang dan cenderung kepada sesuatu selain Penciptanya. Nah, bila hal ini merasuk ke dalam diri mereka maka hawa nafsunya meleleh, kediriannya hancur lebur dan kebenaran menjadi terang-benderang. Maka kehendak mereka terhadap segala kesenangan hidup ini dan akhirat tertambat di sudut jiwa mereka. Dan kebahagiaan mereka berlabuh pada janji Allah, keridhaan mereka kepada takdir-Nya, dan kesabaran mereka dalam cobaan-Nya. Maka selamatlah mereka dari kejahatan makhluk-Nya dan keinginan hati mereka.
Maka hati menjadi kokoh dan mengendalikan anasir tubuh. Sebab cobaan dan musibah memperkuat hati, keyakinan, iman dan kesabaran, dan melemahkan hewani dan hawa nafsu. Sebab bila penderitaan datang sedang sang mukmin bersabar, ridha, pasrah kepada kehendak Allah dan bersyukur kepada-Nya maka Allah menjadi ridha dengannya dan turunlah kepadanya pertolongan, kurnia dan kekuatan. Allah SWT berfirman: "Jika kau bersyukur tentu akan Kutambahkan..."(QS 14:7)
Bila diri manusia berhasil membuat hati menuruti keinginan tanpa adanya perintah dan izin dari Allah, kesyirikan dan dosa. Maka Allah menimpakan kepada jiwa dan hati noda, musibah, luka, kecemasan, kepedihan dan penyakit. Hati dan jiwa terpengaruh oleh penderitaan ini. Namun bila hati tak mempedulikan panggilan ini sebelum Allah mengizinkannya melalui ilham, bagi wali, dan wahyu, bagi Rasul dan Nabi, maka Allah menganugerahi jiwa dan hati kasih-sayang, rahmat, kebahagiaan, kecerahan, kedekatan dengan-Nya, keterlepasan dari kebutuhan dan bencana. Ketahui dan camkanlah hal ini.
Selamatkanlah dirimu dari cobaan dgn penuh kewaspadaan, dgn tak segera menimpali panggilan jiwa dan keinginannya. Tapi tunggulah dgn sabar izin dari Allah agar kau senantiasa selamat di dunia ini dan di akhirat
Risalah 23
Sedikitnya adalah Banyak,Surutnya adalah Melimpah,dan Tidaknya adalah Pemberian
Pegang teguh dan ridhalah atas sedikit yg kau miliki hingga ketentuan nasib mencapai puncaknya dan kau dibawa ke keadaan yg lebih tinggi. Kau akan ditempatkan di dalamnya, dan terjaga dari kekerasan duniawi ini, akhirat, kekejian dan kesesatan. Kemudian kau akan dibawa kepada yg mengenakkan matamu. Ketahuilah bahwa bagianmu takkan lepas darimu dgn pengupayaanmu terhadapnya sedang yg bukan bagianmu takkan kau raih walau kau berupaya keras. Maka dari itu bersabarlah dan ridhalah dgn keadaanmu. Jangan mengambil atau memberikan sesuatu pun sebelum diperintahkan.
Jangan bergerak atau diam semaumu sebab jika kau berlaku begini, kau akan diuji dgn keadaan yg lebih buruk daripada keadaanmu. Sebab dgn kekeliruan seperti itu kau berarti berbuat aniaya terhadap diri sendiri dan Allah mengetahui yg berbuat aniaya. Allah berfirman: "Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang yg zalim sebagai teman bagi sebagian yg lain disebabkan oleh yg mereka upayakan." (QS.6:129)
Sebab kau berada di rumah Raja yg perintah-Nya berdaulat, yg Maha kuat, yg tentara-Nya amat besar, yg kehendak-Nya berdaulat, yg aturan-Nya sempurna, yg kerajaan-Nya abadi, yg kedaulatan-Nya menyeluruh, yg pengetahuan-Nya tinggi, yg kebijakan-Nya dalam, yg Maha adil, yg dari-Nya tak satu dzarah pun tersembunyi baik di bumi maupun di langit dan kezaliman para zalim pun tak tersembunyi dari-Nya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Allah takkan mengampuni siapa pun yg menyekutukan-Nya dan Ia akan mengampuni selain itu bagi yg dikehendaki-Nya..." (QS.4:48,116)
Berupayalah sekuat daya untuk senantiasa tak menyekutukan Allah. Jangan mendekati dosa ini dan jauhilah ia dalam segala gerak dan diammu siang dan malam baik sendirian maupun bersama manusia. Waspadalah terhadap segala bentuk dosa dalam anasir tubuhmu dan dalam hatimu. Hindarilah dosa yg tampak ataupun tersembunyi. Jangan menjauh dari Allah sebab Ia akan mencengkaumu. Jangan bersitegang dengan-Nya atas takdir-Nya sebab Ia akan melumatkanmu; jangan salahkan aturan-Nya agar kau tak dihinakan-Nya; jangan melupakan-Nya agar kau tak dilupakan-Nya dan tak mengalami kesulitan; jangan mereka-reka di dalam rumah-Nya agar kau tak dibinasakan-Nya; jangan membicarakan tentang agama-Nya dgn hawa nafsu agar kau tak binasa, agar hatimu tak gelap, agar iman dan pengetahuanmu tak tercabut darimu, agar kau tak dikuasai oleh kekejianmu, hewanimu, hawa nafsumu, keluargamu, tetanggamu, sahabatmu, ciptaan termasuk kalajengking, ular serta jin rumahmu dan makhluk-makhluk melata lainnya, shg dgn demikian hidupmu di dunia ini akan gelap dan kau akan disiksa di akhirat terus-menerus.
Risalah 24
Tetaplah Bersama Dia yang Tidak Pernah Menutup Pintunya
Jauhilah sekuat daya ketakpatuhan kepada Allah yang Maha mulia lagi Maha agung. Bertumpulah kepada Pintu-Nya dgn kebenaran. Berupayalah sekuat daya mematuhi-Nya dgn taubat dan doa, dgn menunjukkan kebutuhanmu atas kepatuhan dan kerendah hatian, dgn khusuk dan menunduk, dgn tak memandang orang atau mengikuti hewani, atau mengupayakan balasan duniawi atau ukhrawi, tak mengharapkan maqam yg lebih tinggi. Camkanlah bahwa kau adalah hamba-Nya dan bahwa sang hamba serta segala miliknya adalah milik tuannya sehingga ia tak dapat mengakui apa pun terhadapnya. Berperilaku baiklah dan jangan salahkan Tuhanmu. Segala sesuatu ditentukan oleh-Nya. Segala yang Ia majukan, tak satu pun dapat memundurkannya.Segala yg dimundurkan-Nya, tak satu pun dapat memajukannya. Beginilah Allah memperlakukan Sendiri segala keadaanmu. Ia menganugerahimu tempat tingggal nan abadi di akhirat dan sekaligus menjadikanmu pemiliknya dan akan menganugerahkan kepadamu kurnia-kurnia yg tiada mata pernah melihat, tiada telinga pernah mendengar dan tiada hati manusia pernah merasakan. Allah berfirman: "Tiada jiwa pun yg tahu apa yg disembunyikan bagi mereka, yaitu yg akan mengenakkan mata, sebagai balasan atas apa yg telah mereka perbuat." (QS 32:17) Yaitu balasan atas kepatuhan dan kepasrahan mereka kepada Allah dalam segala hal.
Mengenainya yg Allah telah anugerahkan hal duniawi, menjadikannya pemiliknya, merahmatinya dan melimpahkan kurnia-Nya, Ia melakukan ini lantaran keimanan orang ini bagai padang tandus yg didalamnya tak memungkinkan air, pohon, tetumbuhan dan buah-buahan mewujud.
Maka Ia tebarkan di dalamnya pupuk dan segala yg serupa itu yg menumbuhkan tetumbuhan dan pepohonan dan inilah dunia dan segala isinya, untuk menjaga segala yg telah ditumbuhkan-Nya di dalamnya, yg berupa pohon iman dan tanaman amal. Andaikata hal-hal ini pupus darinya, maka tanah, tetumbuhan dan pepohonan akan menjadi kering, buahnya luruh dan keseluruhan pedusunan akan menjadi sunyi, dan Yang Maha kuasa lagi Maha agung menghendakinya dihuni dan ceria.
Maka pohon iman seseorang yg kaya,lemah akarnya dan hampa akan yg mengisi pohon imanmu. Wahai zahid, sesungguhnya kekuatan lainnya dan kesinambungan kemaujudannya tergantung pada dunia dan aneka nikmat yg kau lihat pada pemiliknya dan tiada padanya yg lebih disukai selain yg telah kulukiskan bagimu.Semoga Allah menganugerahi kita daya untuk menggapai yg dicintai-Nya. Jadi, kekuatan dan kesinambungan kurnia duniawi yg kau dapati padanya, - andaikata semua ini tercabut darinya, sedang pohonnya lemah, maka pohon itu akan menjadi kering dan si orang kaya ini akan menjadi kafir, munafik dan murtad, - jika Allah tak mengirimkan bagi orang kaya ini tentara kesabaran, keteguhan, pengetahuan dan aneka ketercerahan ruhani, yg memperkukuh imannya maka ia akan merasa kehilangan dgn lenyapnya kekayaan dan kurnia.
Risalah 25
Cukuplah Bagimu Mencintai-Nya
Jangan berkata wahai orang yg malang! Yg darinya dunia dan orang-orangnya telah memalingkan muka mereka, yg hina, yg lapar dan yg dahaga, yg telanjang, yg hatinya terpanggang, yg merambah ke setiap sudut dunia, di setiap masjid dan tempat-tempat sunyi, yg terjauhkan dari setiap pintu, yg terhancurkan, yg jemu dan yg kecewa dgn segala keinginan dan kerinduan hati - jangan berkata bahwa Allah telah membuatmu miskin, menjauhkan dunia darimu, telah menjatuhkanmu, telah menjadi musuhmu, telah membuatmu kacau, tak mengukuhkan jiwamu, telah menghinakanmu dan tak mencukupimu di dunia ini, telah menggelapimu, tak memuliakan namamu di tengah-tengah manusia sedangkan kepada selainmu Ia anugerahkan banyak rahmat-Nya siang dan malam, memuliakan mereka atasmu dan keluargamu padahal kamu sama-sama muslim dan mukmin dan nenek moyangmu sama-sama Hawa dan Adam sang manusia terbaik.
Ya, Allah telah mempelakukanmu begini sebab fitrahmu suci dan kesejukan kasih-sayang Allah terus-menerus melimpahimu dalam bentuk kesabaran, kepasrah-ikhlasan dan pengetahuan. Dan cahaya iman serta tauhid menimpamu. Maka pohon imanmu akarnya dan benihnya menjadi kuat, penuh dedaunan, buah, cabang dan rantingnya merambah ke mana-mana sehingga menimbulkan keteduhan. Setiap hari kian besar sehingga tak perlu lagi pertumbuhannya dibantu. Allah tentukan bagimu akan kau peroleh tepat pada waktunya, entah kau suka atau tak suka. Maka dari itu janganlah serakah terhadap yg bukan milikmu dan jangan cemas akannya. Jangan merasa menyesal atas yg dimaksudkan bagi selainmu.
Yang bukan milikmu tentu:
1) Ia akan menjadi milikmu, atau
2) Ia akan menjadi milik orang lain.
Jika ia milikmu, ia akan datang kepadamu dan kau akan dibawa kepadanya sehingga pertemuan antara kau dan ia segera terjadi. Sedang yg bukan milikmu maka kau akan dijauhkan darinya dan ia pun akan menjauh darimu sehingga kau dan ia takkan bertemu. Allah berfirman: "Dan jangan kamu tujukan kedua matamu kepada apa yg telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka sebagai bunga kehidupan dunia ini, agar Kami uji mereka dengan-nya. Dan kurnia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal." (QS 20:131) Nah, Allah telah melarangmu memperhatikan yg bukan hakmu.
Ia telah memperingatkanmu bahwa yg selain ini adalah cobaan, yg dengan-nya Ia menguji mereka dan bahwa keridhaanmu dgn bagianmu lebih baik bagimu, lebih suci dan lebih disukai; maka jadikanlah ini sebagai jalanmu, dgn melaluinya kau akan memperoleh segala kebaikan, rahmat, kegembiraan dan keindahan. Allah berfirman:
"Tiada jiwa pun yg tahu apa yg disembunyikan bagi mereka yaitu yg akan mengenakkan mata sebagai balasan atas yg telah mereka perbuat."(QS 32:17)
Nah, tiada kebajikan selain kelima jalan pengabdian, penghindaran dari segala dosa, dan tiada lebih besar, lebih mulia dan lebih disukai oleh Allah selain yg Kami sebutkan kepadamu. Semoga Allah mengurniaimu dan kami kemampuan untuk melakukan yg disukai-Nya.
Risalah 26
Tak Mungkin Ada Dua Cinta Dalam Satu Hati
Tabir penutup dirimu takkan tersingkap, selama kau belum lepas dari ciptaan dan tak memalingkan hatimu darinya dalam segala keadaan hidup, selama hawa nafsumu belum pupus, begitu pula maksud dan kerinduanmu, selama kau belum lepas dari kemaujudan dunia ini dan akhirat, dan yg maujud dalam dirimu hanyalah kehendak Tuhanmu, dan kau terisi dgn nur Tuhanmu, dan tiada tempat di dalam hatimu kecuali bagi Tuhanmu, sehingga kau menjadi penjaga pintu kalbumu, dan kau dikurniai pedang tauhid, keagungan dan kekuatan. Maka segala yg kau lihat, yg mendekati pintu kalbumu dari benakmu, akan kau pisahkan kepalanya dari bahunya sehingga tiada tersisa bagi dirimu, dambaanmu dan kerinduanmu akan dunia ini dan akhirat sesuatu yg berkepala, dan tiada dunia yang diperhatikan, tiada pendapat yg diikuti kecuali kepatuhan kepada Allah dan penerimaan penuh ikhlas akan takdir-Nya, bukannya peluruh penuh dalam takdir dan kurnia-Nya. Dgn demikian, kau menjadi hamba Allah, bukan hamba manusia atau pendapat. Bila hal ini mengekal dalam hidupmu, tirai-tirai hormat-diri akan menyelimuti kalbumu, parit-parit keluhuran dan daya keagungan akan mengitarinya dan hatimu akan dijaga oleh tentara kebenaran, tauhid, dan pengawal-pengawal kebenaran akan ditempatkan di dekatnya shg orang tak dapat mendekatinya melalui kekejian, dambaan-dambaan hampa, kepalsuan-kepalsuan yg timbul dalam benak-benak manusia dan melalui kesesatan yg timbul dari keinginan-keinginan. Jika ditakdirkan bahwa orang akan datang kepadamu terus-menerus dan mereka tak mengetahui kemuliaanmu shg mereka mendapat cahaya yg menyilaukan, tanda-tanda yg jelas, kebijakan yg dalam, dan melihat keajaiban-keajaiban yg nyata dan kejadian-kejadian sebagai sosok kehidupanmu shg meningkatkan upaya mereka untuk mendekat kepada Allah, untuk patuh kepada-Nya, dan untuk mengabdi kepada Tuhan mereka. Meski semua ini terjadi, kau akan aman dari semua itu, dari kecenderungan jiwa manusiawimu kepada keinginan dari puji-diri, kesombongan orang-orang yg datang kepadamu dan perhatian mereka kepadamu. Juga seandainya kau akan beristeri cantik, bertanggung jawab atas dirinya dan atas perilakunya, maka kau akan aman dari keburukannya, akan diselamatkan dari memikul bebannya dan ia bagimu, akan menjadi kurnia Allah, terahmati dan berlaku baik, bersih dari ketaktulusan, kekejian dan penghianatan. Maka ia akan melepaskanmu dari beban perilakunya dan akan menjauhkan darimu segala kesulitan karenanya. Seandainya ia melahirkan anak, maka ia akan menjadi anak yg saleh dan suci, yg akan menyenangkan pandanganmu.
Allah berfirman:
"Dan Kami jadikan isterinya patut baginya." (QS 21:90)
"Ya Tuhan kami! Kurniakan pada isteri-isteri dan keturunan kami sbg penyejuk mata dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yg bertakwa" (QS 25:74)
"Dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, orang yang Kau ridhai." (QS 19:6)
Maka doa-doa ini akan mewujud dan diterima, tak soal kau sampaikan doa-doa ini kepada Allah sebab doa-doa itu dimaksudkan bagi mereka yg layak begini, yg termatangkan dalam keadaan ini, dan yg kepada mereka dilimpahkan nikmat dan kedekatan Allah.
Begitu pula andaikata sesuatu dari dunia ini mendatangimu, ia takkan merugikanmu. Maka yg datang kepadamu merupakan bagianmu dari-Nya, yg tersucikan demi kamu, oleh tindakan Allah, kehendak-Nya dan dgn perintah-Nya ia mencapaimu. Ia akan mencapaimu dan kau akan terpahalai, asalkan kau memperolehnya dalam kepatuhan kepada-Nya; persis sebagaimana akan dipahalainya kamu karena menunaikan shalat dan puasa. Dan kau akan diperintahkan tentang yg bukan hakmu untuk memberikannya pada para sahabat, tetangga dan peminta yg layak memperoleh uang zakat sesuai dgn kebutuhan. Maka urusan-urusan akan diberikan kepadamu sehingga kau tak mampu membedakan antara yg layak dan yg tak layak dan antara kabar burung dgn pengalaman sejati. Maka urusanmu akan menjadi putih bersih yg tiada kegelapan dan keraguan.
Maka dari itu bersabarlah, senantiasa bertakwalah, perhatikanlah masa kini, tenanglah, tenanglah! Waspadalah! Selamatkanlah dirimu! Selamatkanlah dirimu! Segeralah! Segeralah! Takwalah kepada Allah! Takwalah kepada Allah! Tundukkanlah pandanganmu! Tundukkanlah pandanganmu! Palingkanlah matamu! Palingkanlah matamu! Berlaku baiklah! hingga datang takdir dan kau kami bawa ke depan .
Maka akan lenyap darimu segala yg memberatkanmu kemudian kau dimasukkan ke dalam samudera nikmat, kelembutan dan kasih sayang dan dipakaikan dgn pakaian cahaya dan rahsia-rahsia Ilahi. Lalu kau didekatkan, diajak bicara, diberi kurnia, dilepaskan dari keperluan, dikukuhkan, dimuliakan dan dilimpahi kata-kata: "Sesungguhnya kamu pada sisi Kami adalah orang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya." (QS 12:54)
Lalu tersingkaplah keadaan Yusuf dan para shiddiq ketika disapa dgn kata-kata ini dari lidah Raja Mesir, Raja dari Fir'aun. Jelaslah, itulah lidah Raja yg menyatakannya, yang adalah Allah yg berbicara melalui lidah pengetahuan. Kepada Yusuf dianugerahkan kerajaan bendawi yaitu kerajaan Mesir, juga kerajaan jiwa yaitu kerajaan pengetahuan, ruhani, nalar, kedekatan dengan-Nya dan kedudukan tinggi di hadapan-Nya.
Allah berfirman: "Dan demikianlah Kami anugerahkan kepada Yusuf kekuasaan atas negeri (ia berkuasa penuh) ke mana pun ia suka." (QS 12:56)
Negeri di sini ialah Mesir. Mengenai kerajaan ruhani, Allah berfirman:"Demikianlah, agar Kami palingkan darinya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba pilihan kami." (QS 12:24)
Mengenai kerajaan pengetahuan, Allah berfirman:"Yg demikian ini adalah sebagian dari yg diajarkan kepadaku oleh Tuhanku. Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama orang-orang yg tak beriman kepada Allah." (QS 12:37)
Bila kau disapa, wahai orang saleh, berarti kau dianugerahi banyak pengetahuan nan agung, kekuatan, kebaikan, kewalian biasa, dan perintah yg mempengaruhi ruhani dan yg bukan ruhani dan teranugerahi daya cipta, dgn izin Allah, segala yg di dunia ini, mesti akhirat belum tiba. Di akhirat kau akan berada di tempat damai dan di surga yg tinggi.
Risalah 27
Pilihlah Buah yang Terbaik
Anggaplah kebaikan dan keburukan sebagai dua buah dari dua cabang sebuah pohon. Cabang yg satu menghasilkan buah yg manis, sedang cabang yg satunya lagi buah yg pahit. Maka dari itu, tinggalkanlah kota-kota, negeri-negeri yg menghasilkan buah-buah pohon ini dan penduduknya.
Dekatilah pohon itu sendiri dan jagalah. Ketahuilah kedua cabang ini, kedua buahnya, sekelilingnya dan senantiasa dekatlah dgn cabang yg menghasilkan buah yg manis; maka ia akan menjadi makananmu, sumber dayamu, dan waspadalah agar kau tak mendekati cabang yg lain, makan buahnya, dan akhirnya rasa pahitnya membinasakanmu. Jika kau senantiasa berlaku begini, kau akan selamat dari segala kesulitan sebab kesulitan diakibatkan oleh buah pahit ini. Bila kau jatuh dari pohon ini, berkelana di berbagai negeri dan buah-buah ini dihadapkan kepadamu lalu dicampuradukkan sedemikian rupa shg tak jelas antara yg manis dan yg pahit dan kau mulai memakannya, bila tanganmu mengambil buah yg pahit shg lidahmu merasakan pahitnya lalu tenggorokanmu, otakmu, lubang hidungmu sampai anasir tubuhmu maka kau terbinasakan. Pembuangan akan sisanya dari mulutmu dan pencucianmu akan akibatnya tak dapat menghapus yg telah tersebar di sekujur tubuhmu dan sia-sia.
Tapi jika kau makan buah yg manis dan rasa manisnya menyebar ke seluruh tubuhmu maka kau beruntung dan bahagia meski hal ini tak mencukupimu. Tentu, bila kau makan buah yg lain kau takkan tahu bahwa buah yg ini pahit. Maka kau akan mengalami yg telah disebutkan bagimu. Maka tak baik menjauh dari pohon itu dan tak tahu buahnya. Keselamatan terletak pada kedekatan dengannya. Jadi kebaikan dan keburukan berasal dari Allah yang Mahakuasa dan Mahaagung. "Allah telah menciptakanmu dan apa yang kau lakukan." (QS 37:96)
Nabi saw bersabda: "Allah menciptakan penyembelih dan binatang yg disembelih." Segala tindakan hamba Allah adalah ciptaan-Nya, begitu pula buah upayanya. Allah yg Mahakuasa lagi Mahaagung berfirman: "Masuklah ke dalam surga disebabkan yg telah kau lakukan." (QS 16:32)
Mahaagung Dia, betapa pemurah dan penyayang Dia! Ia berfirman bahwa masuknya mereka ke dalam surga disebabkan oleh amal-amal mereka, sedang kemaujudan amal-amal mereka adalah berkat pertolongan dan kasih-sayanng-Nya. Nabi saw. Bersabda: "Tiada seorang pun yang masuk ke dalam surga lantaran amal-amalnya sendiri." Ia ditanya: "Termasuk Anda, Ya Rasulullah?" Ia berkata: "Ya, termasuk aku, jika Allah tak mengasihiku."Saat berkata ini ia meletakkan tangannya di atas kepalanya. Ini diriwayatkan oleh Aisyah r.a. Nah, jika kau mematuhi perintah-perintah-Nya dan menghindari larangan-Nya maka Dia akan melindungimu dari keburukan-Nya, menambah kebaikan-Nya bagimu, dan akan melindungimu dari segala keburukan yg agamis dan duniawi.
Tentang keduniawian Allah berfirman: "Demikianlah agar Kami palingkan darinya kemungkaran dan kekejian; sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba pilihan Kami," (QS 12:24)
Dan mengenai agama Ia berfirman: "Mengapa Allah akan menyiksamu jika kamu bersyukur lagi beriman." (QS 4:147)
Adakah bencana yg akan menimpa orang yg beriman lagi bersyukur? Sebab ia lebih dekat pada keselamatan daripada bencana sebab ia berada dalam kelimpahan, lantaran kebersyukurannya.Allah berfirman: "Jika kamu bersyukur tentu akan Kami lipatgandakan bagimu." (QS 14:7)
Dgn demikian keimananmu akan memadamkan api neraka, api siksaan bagi setiap pendosa. Adakah hal itu takkan memadamkan api bencana di kehidupan ini, Ya Tuhanku? Dgn begini segala musibah hanya akan melepaskannya dari kekejian hawa nafsu, dari ketergantungan pada kehendak jasmani, dari kecintaan kepada orang, dan dari hidup bersama mereka. Maka dia diuji hingga segala kelemahan ini lenyap darinya dan hatinya tersucikan oleh ketiadaan semuanya itu shg yg tertinggal di hati hanyalah keesaan Tuhan dan pengetahuan tentang kebenaran dan jadilah ia tempat curahan rahasia kegaiban, pengetahuan dan cahaya kedekatan. Sebab ia adalah sebuah rumah yg tiada ruang bagi selainnya.
Allah berfirman:"Allah tak menjadikan bagi seseorang dua hati dalam rongganya." (QS 33:4) "Sesungguhnya para raja bila memasuki sebuah kota akan menghancurleburkannya dan menghinakan penduduknya." (QS 27:34)
Lalu mereka menghasilkan kemuliaan dari kebaikan mereka. Kedaulatan atas hati berada (di awal) kekejian hawa nafsu. Anasir tubuh selalu digerakkan oleh perintah mereka demi berbagai dosa dan kesia-siaan.
Kedaulatan ini kini pupus, anasir tubuh merdeka, rumah raja dan pelatarannya yaitu dada menjadi bersih. Kini hati telah bersih, telah dihuni oleh tauhid dan pelataran telah menjadi arena kecerahan dari kegaiban. Semua ini adalah akibat dari musibah, cobaan dan buahnya.
Nabi saw Bersabda:
"Kami para nabi adalah yg paling banyak diuji di antara manusia sedang yg lain sesuai dgn kedudukannya."
"Aku lebih tahu tentang Allah daripada kamu dan lebih takwa kepada-Nya daripada kamu."
Siapa pun yg dekat dgn raja harus semakin berhati-hati sebab ia berada di hadapan Sang Raja Yang Mahamelihat akan gerak-geriknya.
Nah, jika kau berkata bahwa seluruh makhluk yg terlihat oleh Allah adalah seperti satu orang sehingga tiada yg tersembunyi dari-Nya, maka apa yg baik atas pernyataan ini? Mesti dikatakan kepadamu bahwa bila kedudukan seseorang tinggi dan mulia, bahaya juga semakin besar sebab perlu baginya bersyukur atas karunia-Nya bagimu. Sehingga sedikit saja menyimpang dari pengabdian kepada-Nya akan merusak kebersyukuran dan kepatuhan kepada-Nya.
Allah berfirman: "Hai istri-istri Nabi, barangsiapa di antaramu berbuat keji yg nyata niscaya akan dilipatgandakan siksaan kepada mereka 2x." (QS 33:30)
Allah berfirman demikian tentang istri-istri ini karena telah disempurnakan-Nya nikmat-Nya atas mereka dgn menghubungkan mereka kepada Nabi. Bagaimanakah kiranya kedudukan orang yg dekat kepada-Nya? Allah adalah Mahatinggi atas ciptaan-Nya.
"Tiada menyerupai-Nya, dan Dia Mahamendengar lagi Mahamelihat." (QS 42:11)
Risalah 28
Biarkan Buahmu pada Tangkainya untuk Kaupetik setelah Masak
Engkau ingin agar kebahagiaan dan kedamaian terlimpahkan kepadamu padahal kau masih berupaya membinasakan hewanimu, harapan akan balasan di dunia dan akhirat dan hal ini masih bersemayam dalam dirimu? Wahai yg terburu-buru! Berhenti dan berjalanlah perlahan-lahan; wahai yg berharap! Pintu tertutup selama keadaan ini masih berlangsung.Sesungguhnya beberapa sisa dari hal-hal ini masih ada padamu dan beberapa butir kecilnya masih bersemayam dalam dirimu.Itulah kontrak kebebasan seorang hamba sahaya; selagi masih ada satu sen sekalipun padanya, kau tertutup darinya. Selama kau masih menghisap biji kurma dari hawa nafsu, maksud dan kerinduanmu,dari memperhatikan sesuatu dari dunia ini, dari mengupayakan sesuatu pun darinya atau mencintai sesuatu keuntungan dunia atau akhirat - selama hal-hal ini masih bersemayam dalam dirimu, kau masih berada di pintu peluruhan diri. Berhentilah di sini, sampai peluruhan dirimu sempurna, lalu kau dikeluarkan dari tempat peleburan, dan kau terpakaiankan, terhiasi dan menjadi harum, lalu kau dibawa kepada Raja nan agung dan berkata:"Sesungguhnya kamu pada sisi Kami menjadi seorang yg berkedudukan tinggi lagi dipercaya." (QS 12:54)
Maka kau dianugerahi limpahan nikmat, dibelai dgn rahmat-Nya, diberi minuman, didekatkan, dan diberi pengetahuan tentang yg rahsia. Kemudian kau terbebaskan dari keperluan karena yg diberikan kepadamu berasal dari hal-hal ini dan terbebaskan dari keperluan segala suatu. Tidakkah kau lihat kepingan emas, yg beraneka ragam yg beredar pagi dan petang, di tangan para penjual obat, tukang jagal, penjual makanan, penyamak, tukang minyak, pembersih dan lain-lain, baik yg bagus, rendah ataupun yg kotor? Kemudian kepingan-kepingan in dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam tempat peleburan logam; lalu kepingan-kepingan ini meleleh dalam kobaran api, dikeluarkan darinya, ditempa dan dijadikan hiasan-hiasan, diperhalus, diperintah, dan kemudian ditempatkan di tempat-tempat terbaik, rumah-rumah, di balik kunci, dalam kotak-kotak, tempat-tempat gelap, atau dijadikan hiasan sebuah jambangan dan kadang jambangan seorang raja besar.Dgn demikian kepingan-kepingan emas itu berlalu dari tangan para penyamak ke hadapan para raja dan istana setelah dilebur dan ditempa.Dgn begini, duhai yg beriman, jika kau senantiasa bersabar dgn kurnia-Nya dan berpasrah terhadap takdir-Nya maka kau akan didekatkan kepada Tuhanmu di dunia ini, dikurniai pengetahuan tentang-Nya dan segala pengetahuan serta rahsia dan akan dikurniai tempat damai di akhirat bersama dgn para Nabi, shiddiq, syahid dan shalih dalam kedekatan Allah, dalam rumah-Nya, dan dekat dengan-Nya, sembari mereguk kasih-sayang-Nya. Maka dari itu, bersabarlah, jangan terburu-buru, ridhalah senantiasa dgn takdir-Nya dan jangan mengeluh terhadap-Nya. Jika kau lakukan yg demikian, ,maka kau akan merasakan kesejukan ampunan-Nya, lezatnya pengetahuan tentang-Nya, kelembutan dan kurnia-Nya.
Risalah 29
Sungguh telah Dipetik Kekayaan dari Kefakiran
Nabi Suci saw. bersabda: "Kadang kefakiran mendekatkan pada kekafiran."
Hamba yg beriman kepada Allah dan memasrahkan segala urusannya kepada-Nya diberi kemudahan oleh Allah dan keyakinan teguh bahwa apapun yg akan datang kepadanya akan sampai kepadanya dan apa pun yg tak mencapainya takkan datang kepadanya dan bahwa:
"Barangsiapa bertakwa Allah berikan baginya jalan keluar dan rezeki yg tak disangka dan barangsiapa tawakal atas-Nya,Allah mencukupinya."(QS 65:2-3)
Ia berkata begini kala ia dalam kemudahan dan kesenangan; lalu Allah mengujinya dgn musibah dan kemiskinan; maka ia berdoa dgn penuh kerendah dirian; tapi Ia tak mengabulkannya. Maka sabda Nabi saw.:"Kadang kefakiran mendekatkan pada kekafiran," berlaku. Maka Allah bermurah kepadanya. Ia sirnakan darinya segala yg merundungnya, terus memberinya kesenangan, kelimpah-ruahan, dan daya untuk bersyukur serta memuji Allah hingga ia menghadap-Nya. Bila Allah ingin mengujinya, Ia kekalkan musibah-Nya padanya dan memutuskan darinya pertolongan iman. Maka ia menunjukkan kekafiran dgn menyalahkan dan menuduh Allah dan dgn meragukan janji-Nya. Sehingga ia mati dalam keadaan tak beriman kepada Allah, mengingkari ayat-ayat-Nya, dan merasa marah kepada Tuhannya. Mengenai orang semacam ini, Nabi saw. bersabda: "Sesungguhnya orang yg paling sengsara pada Hari Kiamat ialah orang yg diberi kemiskinan oleh Allah di kehidupan ini dan disiksa di akhirat. Kami berlindung kepada Allah dari hal semacam itu."
Kemiskinan yg dimaksud disini ialah kemiskinan yg membuat manusia lupa kepada Allah dan karena inilah ia berlindung kepada-Nya. Orang yg hendak dipilih oleh Allah, yg telah dijadikan pilihan-Nya dan pengganti para Nabi-Nya, dan yg telah dijadikan sebagai penghulu para wali-Nya, manusia agung dan berilmu, perantara dan pembimbing ke arah Tuhan - kepada orang ini, Ia anugerahkan limpahan kesabaran, kepatuhan dan keterleburan dalam kehendak-Nya. Kemudian Ia kurniakan kepadanya limpahan rahmat-Nya sepanjang siang dan malam, sendiri atau bersama, kadang nampak kadang tak nampak; dan menyertai inilah berbagai kelembutan hingga akhir hayatnya.
Risalah 30
Kesabaran rasanya Pahit tapi Akibatnya Manis Bagai Madu
Betapa sering kau berkata, apa yg mesti kulakukan, apa yg mesti kugunakan (untuk mencapai tujuanku)? Tetaplah di tempatmu. Jangan melampaui batasmu sampai jalan keluar dikurniakan bagimu dari-Nya yg telah memerintahkanmu untuk tinggal di tempatmu. Allah berfirman:
"Wahai orang-orang beriman bersabarlah dan kuatkan kesabaranmu dan tetap bersiap siaga dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung"(QS 3:200)
Ia telah memerintahkanmu untuk bersabar, wahai orang-orang beriman,untuk berlomba-lomba dalam kesabaran, untuk bersiaga,untuk senantiasa ingat dan untuk menjadikan hal ini sebagai kewajiban. Ia kemudian memperingatkanmu terhadap ketaksabaran sebagaimana firman-Nya, "Jagalah senantiasa kewajibanmu terhadap Allah," dan ini berkenaan dgn pengabaian kebajikan ini. Ini berarti bahwa kau harus senantiasa bersabar. Kebaikan dan keselamatan ada dalam kesabaran. Nabi Suci saw. bersabda:"Kesabaran dan keimanan serupa dgn kepala dan tubuh."
Bagi segala sesuatu ada balasannya sesuai dgn kadarnya tetapi balasan bagi kesabaran tak terhingga. Sebagaimana Allah berfirman:
"Sesungguhnya kesabaran akan diberi pahala tanpa batas." (QS 39:10)
Nah, jika kau jaga kewajibanmu terhadap-Nya dgn sabar dan memperhatikan batas-batas yg telah ditentukan oleh-Nya, maka Ia akan membalasmu sebagaimana yg dijanjikan-Nya kepadamu dalam kitab-Nya:
"Barangsiapa bertakwa Allah berikan baginya jalan keluar dan rezeki yg tak disangka dan barangsiapa tawakal atas-Nya,Allah mencukupinya." (QS 65:2-3)
Bersabarlah dgn mereka yg beriman kepada Alah hingga jalan keluar terbentang bagimu sebab Allah telah menjanjikanmu kecukupan dalam firman-firman-Nya:"Barangsiapa bertawakkal kepada Allah, maka Ia mencukupinya." (QS 65:3)
Bersabarlah selalu dan berimanlah kepada Allah bersama mereka yg berbuat kebajikan terhadap orang lain, sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu balasan untuk ini, sebagaimana firman-Nya:"Demikianlah Kami beri balasan kepada orang-orang yg berbuat baik." (QS 6:84)
Allah akan mencintaimu karena kebajikan ini sebab firmanNya:"Dan Allah mencintai orang-orang yg berbuat baik." (QS 3:134)
Jadi, kesabaran adalah sumber segala kebaikan dan keselamatan di dunia dan akhirat dan melaluinya para mukmin mencapai kepasrah-ikhlasan terhadap kehendak Allah dan kemudian melebur dalam tindakan-tindakan Allah, demikianlah keadaan para badal atau ghaib. Maka jangan sampai gagal meraih keadaan seperti ini agar kau tak hina di dunia dan akhirat shg kekayaan keduanya ini tak berlalu darimu.
Risalah 31
Ukuran Cinta dan Benci Bukan Dengan Hawa Nafsu
Jika kau dapati hatimu membenci atau mencintai seseorang, nilailah perilakunya dgn Qur’an dan sunnah Nabi. Kalau perilakunya dibenci oleh kedua hukum ini, berbahagialah dgn keselarasan dgn Allah dan Nabi-Nya. Jika perilakunya sesuai dgn keduanya sedangkan kau memusuhinya, maka ketahuilah bahwa kau adalah pengikut hawa nafsumu. Kau membencinya karena kebencianmu kepadanya dan ini sama dgn menentang Allah Yang Maha kuasa lagi Maha agung, menentang Nabi-Nya, dan menentang kedua hukum ini. Maka berpalinglah kepada Allah, bertaubat dan mohonlah kepadanya kecintaan kepada orang itu dan para pilihan Allah, para wali-Nya dan para saleh, bersesuaianlah dgn Allah dalam mencintainya. Berlaku serupalah terhadap yg kau cintai. Yaitu, menilai perilakunya dgn cahaya Qur’an dan sunnah Nabi. Jika ia ternyata disenangi oleh kedua hukum ini, maka cintailah dia. Tapi jika perilakunya tak disenangi keduanya maka bencilah ia agar kau tak mencintai dan membencinya karena nafsumu. Allah berfirman: "Dan jangan kau ikuti hawa nafsu karena akan menyesatkanmu dari jalan Allah." (QS 38:26)
Risalah 32
Cinta Hanyalah untuk Allah
Betapa sering kau berkata, "Siapa pun yg kucintai, cintaku kepadanya tak abadi. Perpisahan memisahkan kita, baik melalui ketakhadiran, kematian, permusuhan, kebinasaan ataupun lenyapnya kekayaan." Tidakkah kau tahu, wahai yg beriman kepada Allah, yg kepadanya Allah menganugrahkan karunia-karunia-Nya, yg diperhatikan oleh Allah, yg dilindungi oleh Allah. Tidakkah kau tahu bahwa sesungguhnya Allah cemburu. Ia telah menciptakanmu demi Diri-Nya sendiri. Kenapa kau ingin menjadi milik selain-Nya. Belumkah kau dengar firman-Nya:
"Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya." (QS 5:54)
"Dan tak Kuciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka mengabdi-Ku." (QS 51:56)
Atau belumkah kau dengar sabda Nabi: "Bila Allah mencintai seorang hamba maka Ia mengujinya; bila ia sabar maka Ia memeliharanya." Ia ditanya: "Ya Rasulullah (saw.), bagaimana pemeliharaan-Nya?" Ia berkata: "Ia tak menyisihkan baginya kekayaan atau anak."
Karena bila ia memiliki kekayaan atau anak yg dicintainya maka cintanya kepada Tuhannya terbagi lalu sirna kemudian terbagikan antara Allah dan selain-Nya. Ia cemburu. Ia Mahakuasa atas segala sesuatu. Lalu ia dibinasakan-Nya untuk menguasai hati hamba-Nya demi Diri-Nya Sendiri. Maka kebenaran firman Allah akan terbukti: " Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya." (QS 5:54)
Sampai akhirnya hati menjadi bersih dari segala selain Allah dan berhala-berhala seperti istri, harta, anak, kesenangan dan kerinduan akan kekuasaan, kerajaan, keajaiban, keadaan ruhani, taman-taman surga, maqam ruhani dan kedekatan dgn Allah - tiada tujuan dan kehendak di hatinya. Maka hatinya akan menjadi seperti sebuah bejana berlubang yg di dalamnya tiada setetes cairan pun bisa tinggal. Sebab ia kini telah diremuk-redamkan oleh tindakan Allah dan kecemburuan-Nya. Maka, tirai-tirai keluhuran, kekuatan dan kehebatan menyelubunginya dan parit-parit keagungan mengitarinya. Maka tiada kehendak akan sesuatu mampu mendekati hatinya. Tiada harta, anak, istri, sahabat, keajaiban, wewenang dan daya tafsir, mampu merusak hatinya. Karenanya, semua itu takkan membangkitkan kecemburuan Allah tapi akan menjadi tanda kemuliaan dari-Nya bagi hamba-Nya, kelembutan-Nya terhadapnya, rahmat dan karunia-Nya, dan hal yang bermanfaat bagi mereka yg menuju kepada-Nya. Dgn demikian orang-orang ini termuliakan oleh ini dan dilindungi melalui kemuliaan dari Allah ini yg akan menjadi penjaga, pelindung dan perantara mereka dalam kehidupan ini dan di akhirat.
Risalah 33
Macam Tingkatan Manusia dan Kedudukan Mereka
Ada empat jenis manusia.
Yang pertama, tak berlidah dan tak berhati. Mereka adalah manusia biasa, bodoh dan hina. Mereka tak pernah ingat kepada Allah. Tiada kebaikan dalam diri mereka. Mereka bagai sekam tak berbobot jika Allah tak mengasihi mereka, membimbing hati mereka kepada keimanan pada-Nya Sendiri. Waspadalah, jangan menjadi seperti mereka. Inilah manusia-manusia sengsara dan dimurkai oleh Allah. Mereka adalah penghuni-penghuni neraka. Kita berlindung kepada Allah dari mereka.
Hiasilah dirimu dgn ma'rifat. Jadilah guru kebenaran, pembimbing ke jalan agama, pemimpinnya dan penyerunya. Ingat, bahwa kau mesti mendatangi mereka, mengajak mereka pada ketaatan kepada Allah dan memperingatkan mereka akan dosa terhadap Allah. Maka kau akan menjadi pejuang di jalan Allah dan akan dipahalai sebagaimana para nabi dan Rasul. Nabi Suci saw. berkata kepada Ali r.a.:
"Jika Allah membimbing seseorang melalui bimbinganmu atasnya adalah lebih baik bagimu daripada terbitnya matahari."
Yang kedua, berlidah tapi tak berhati. Mereka berbicara bijak, tapi tak berbuat bijak. Mereka menyeru orang kepada Allah, tapi mereka sendiri jauh dari-Nya. Mereka jijik terhadap noda orang lain, tapi mereka sendiri tenggelam dalam noda. Mereka menunjukkan kepada orang lain kesalehan mereka, tapi mereka sendiri berbuat dosa besar terhadap Allah. Bila sendirian, mereka bagai serigala berpakaian. Inilah manusia yg tentangnya Nabi memperingatkan. Ia bersabda: "Hal yg paling mesti ditakuti, yg aku takuti dari pengikut-pengikutku yaitu ulama’ yg jahat."
Kita berlindung kepada Allah dari orang semacam itu. Maka dari itu, menjauhlah selalu dari orang seperti itu agar kau tak terseret oleh manis lidahnya yg kemudian api dosanya akan membakarmu dan kebusukan ruhani serta hatinya akan membinasakanmu.
Yang ketiga, berhati tapi tak berlidah, dan beriman. Allah menyembunyikannya dari makhluk-Nya, menganugerahinya pengetahuan tentang noda-noda dirinya sendiri, mencerahkan hatinya dan membuatnya sadar akan mudharatnya berbaur dgn manusia, akan kekejian berbicara dan yg telah yakin bahwa keselamatan ada dalam ke-diam-an serta keberadaan dalam sebuah sudut, sebagaimana sabda Nabi saw.: "Barangsiapa senantiasa diam, maka ia memperolehi keselamatan." "Sesungguhnya pengabdian kepada Allah terdiri atas sepuluh bagian, yg sembilan bagian ialah ke-diam-an." Maka, orang ini adalah wali Allah dalam hal rahsia-Nya, terlindungi, memiliki keselamatan dan banyak pengetahuan, terahmati dan segala yg baik ada padanya. Nah, ingatlah, bahwa kau mesti senantiasa bersama dgn orang semacam ini, layanilah ia, cintailah ia dgn memenuhi kebutuhan yg dirasakannya, dan berilah ia hal-hal yg akan menyenangkannya. Bila kau melakukan yg demikian ini maka Allah akan mencintaimu, memilihmu dan memasukkanmu ke dalam kelompok sahabat dan hamba saleh-Nya disertai rahmat-Nya.
Yang keempat ialah berhati dan berlidah , inilah manusia yg diundang ke dunia ghaib, yg dipakaikan kemuliaan.
"Barangsiapa berilmu dan beramal berdasarkan ilmunya serta mengajarkan ilmunya ke orang lain maka ia diundang ke dunia ghaib dan menjadi mulia."
Orang semacam itu memiliki pengetahuan tentang Allah dan tanda-Nya. Hatinya menjadi penyimpan pengetahuan yg langka tentang-Nya dan Ia menganugerahinya rahsia-rahsia yg disembunyikan-Nya dari yg lain. Ia memilihnya, mendekatkannya kepada-Nya Sendiri, membimbingnya, memperluas hatinya agar bisa menerima rahsia-rahsia dan pengetahuan-pengetahuan ini, dan menjadikannya seorang pekerja dijalan-Nya, penyeru hamba-hamba-Nya kepada jalan kebajikan, pengingat akan siksaan perbuatan-perbuatan keji, dan hujjatullah di tengah-tengah mereka, pemandu dan yg terbimbing, perantara dan yg perantaraannya diterima, seorang shiddiq dan saksi kebenaran, wakil para nabi dan utusan Allah, yg bagi mereka limpahan rahmat Allah.
Maka maqam orang ini menjadi puncak maqam umat manusia. Tiada maqam di atas ini kecuali maqam para nabi. Adalah kewajibanmu untuk berhati-hati agar kau tak memusuhi orang semacam itu, tak menjauhinya dan tak melecehkan ucapan-ucapannya. Sesungguhnya keselamatan terletak pada ucapan dan kebersamaan dgn orang itu. Sedang kebinasaan dan kesesatan terletak pada selainnya; kecuali orang yg dikurniai oleh Allah daya dan pertolongan yg membawa kepada kebenaran dan kasih sayang. Nah, telah kupaparkan bagimu bahwa manusia dibagi menjadi empat bagian. Maka, perhatikanlah dirimu sendiri jika kau punya jiwa yg tulus. Selamatkanlah dirimu dgn sinarnya, jika kau ingin sekali menyelamatkannya dan mencintainya.
Semoga Allah membimbing kita kepada yang dicintainya di dunia ini dan di akhirat!
Risalah 34
Segala Sesuatu ada Ketentuannya
Betapa aneh kau marah kepada Tuhanmu, menyalahkan dan menganggapNya tak adil, menahan rezeki, tak menjauhkan musibah. Tidakkah kau tahu bahwa setiap kejadian ada waktunya dan setiap musibah ada akhirnya? Keduanya tak bisa dimajukan atau ditunda. Masa-masa musibah tak berubah sehingga datang kebahagiaan. Masa-masa kesulitan tak berlalu sehingga datang kemudahan. Berlaku paling baiklah, diamlah senantiasa, bersabar, berpasrah dan ridhalah kepada Tuhanmu. Bertaubatlah kepada Allah.
Di hadapan Allah tiada tempat untuk menuntut atau membalas dendam seseorang tanpa dosa dorongan nafsu, sebagaimana yg terjadi dalam hubungan antara hamba-Nya. Ia, Yang Maha kuasa lagi Maha agung sepenuhnya Esa. Ia menciptakan hal-hal manfaat dan mudharat. Maka Ia mengetahui awal, akhir dan akibat mereka. Ia, Yang Maha kuasa lagi Maha agung, bijak dalam bertindak dan tiada ketakselarasan dalam tindakan-Nya. Ia tak melakukan sesuatu pun tanpa arti atau main-main. Adalah tak layak menisbahkan kecacatan atau kesalahan kepada tindakan-Nya. Lebih baik menunggu kemudahan jika kau merasakan kepudaran kepatuhanmu terhadap-Nya hingga tiba takdir-Nya sebagaimana datangnya musim panas setelah berlalunya musim dingin dan sebagaimana datangnya siang setelah berlalunya malam.
Nah, jika kau memohon tibanya cahaya siang selama kian pekatnya malam maka permohonanmu sia-sia; tapi kepekatan malam kian memuncak hingga mendekati fajar, siang datang dgn kecerahannya, entah kau kehendaki atau tidak. Jika kau kehendaki kembalinya malam pada saat itu, maka doamu takkan dikabulkan. Sebab kau telah meminta sesuatu yg tak layak. Kau akan dibiarkan meratap, lunglai, jemu dan enggan. Tinggalkanlah semua ini, senantiasa beriman dan patuhlah kepada Tuhanmu dan bersabarlah. Maka segala milikmu takkan lari darimu dan segala yg bukan milikmu takkan kau peroleh. Demi imanku, begitulah, mohonlah pertolongan kepada Allah dgn mematuhi-Nya. "Mohonlah kepada-Ku, maka akan Kuterima permohonanmu." (QS 40:60). "Mintalah kepada Allah kurnia-kurnia-Nya." (QS 4:32). Berdoalah kepada-Nya maka Ia akan menerima doamu pada saatnya bila dikehendaki-Nya dan bila hal itu bermanfaat bagimu dalam kehidupan dunia dan akhiratmu.
Jangan salahkan Ia bila Ia menangguhkan penerimaan doamu. Jangan jemu berdoa. Sebab sesungguhnya jika kau tak memperoleh, kau juga tak rugi. Jika Ia tak segera mewujudkan doamu di kehidupan ini maka Ia akan menyisihkan bagimu pahala di kehidupan kelak. Nabi bersabda bahwa pada Hari Kebangkitan hamba-hamba Allah akan mendapati dalam kitab amalannya amal-amal yg tak dikenalinya. Lalu kepadanya dikatakan bahwa itu adalah balasan dari doa-doanya di dunia yg tak dikabulkan. Maka dari itu ingatlah selalu Tuhanmu, esakanlah Ia selalu dalam memohon sesuatu dari-Nya. Jangan memohon kepada selain-Nya. Maka setiap saat baik siang maupun malam, sehat atau sakit, suka atau duka, kau berada dalam keadaan:
1) Tak meminta, ridha dan pasrah kepada kehendak-Nya, seperti mayat di hadapan orang yg memandikannya atau seperti bayi di tangan pengasuh atau seperti bola polo di depan pemain polo yg menggulirkannya dgn tongkatnya. Dan Allah berbuat sekehendak-Nya. Bila hal itu adalah rahmat, rasa syukur dan pujian meluncur darimu dan limpahan rahmat datang dari Yang Maha kuasa lagi Maha agung sebagaimana firman-Nya:"Sesungguhnya jika kau bersyukur tentu akan Kuberikan kepadamu lebih banyak lagi" (QS 14:7)
Tapi, jika hal itu adalah musibah, maka kesabaran dan kepatuhan meluncur darimu dgn pertolongan kekuatan yg dianugerahkan oleh-Nya, keteguhan hati, pertolongan rahmat dan kasih-sayang dari-Nya sebagaimana firman-Nya:"Sesungguhnya Allah bersama orang yang sabar." (QS 2:153)
"Jika kau menolong Allah maka Ia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (QS 47:7)
Bila kau telah membantu (jalan) Allah, dgn menentang hawa nafsumu, tak menyalahkan-Nya, menghindari ketaksenangan dirimu terhadap kehendak-Nya, menjadi musuh diri demi Allah, siap menyerangnya dgn pedang bila ia bergerak dgn kekafiran dan kesyirikannya, menebas kepalanya dgn kesabaran dan keselarasanmu dgn Tuhanmu, dgn keridhaan terhadap kehendak dan janji-Nya, - jika kau berlaku demikian, maka Allah akan menjadi penolongmu. Mengenai rahmat dan kasih-sayang Ia berfirman: "Berilah kabar baik kepada orang-orang yg sabar, mereka yg bila ditimpa musibah berkata: Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami kembali. Mereka adalah yg dikurniai berkat dan rahmat Tuhan mereka, dan mereka itulah yg mendapat petunjuk." (QS 2:155-157). Atau
2) Memohon kepada Allah dgn kerendah dirian, dgn mengagungkan-Nya dan patuh kepada perintah-perintah-Nya. Ya, berdoalah kepada Allah, hal itu adalah layak sebab Ia sendirilah yg memerintahkanmu untuk memohon kepada-Nya, berpaling kepada-Nya, telah membuat hal itu sebagai sarana kesenanganmu, semacam utusan darimu kepada-Nya, sarana penghubung dengan-Nya dan sarana pendekatan kepada-Nya, asalkan tentu saja, kau tak menyalahkan-Nya, marah kepada-Nya, karena ditangguhkan-Nya penerimaan doamu. Nah, perhatikanlah perbedaan antara dua keadaan ini. Jangan berada di luar keduanya sebab tiada keadaan selain keduanya. Berhati-hatilah agar kau tak berbuat aniaya yg melanggar batas. Sehingga Ia akan membinasakanmu dan tak memperhatikanmu sebagaimana dibinasakan-Nya orang-orang yg telah berlalu di dunia ini dgn menambah bencana-bencana-Nya dan di akhirat dgn siksa yg amat pedih.
Maha besar Allah! Wahai yg tahu keadaanku! Kapada-Mu lah aku beriman.
Risalah 35
Siapa yang Mendekati Larangan dikhawatirkan Terjerumus
Berpantang dari segala yg haram adalah wajib bagimu, kalau tidak maka tali kehancuran akan menjeratmu. Kau takkan lepas darinya kecuali dgn kasih-sayang-Nya. Nabi Suci saw. bersabda bahwa asas agama adalah keberpantangan dari segala yg haram sedang kebinasaannya adalah kerakusan. Umar ibn Khaththab as.pernah berkata:
"Kami biasa berpantang dari sembilan per sepuluh dari hal-hal yg halal, sebab kami khawatir kalau-kalau kami jatuh ke dalam hal-hal yg haram."
Abu Bakar as. pernah berkata:"Kami biasa menghindari tujuh puluh pintu dari hal-hal yg halal karena kami khawatir akan terlibat dalam dosa."
Pribadi-pribadi ini berlaku demikian hanya untuk menjauh dari segala yg haram. Mereka bertindak berdasarkan sabda Nabi saw.:
"Ingatlah! Sesungguhnya setiap raja memiliki sebuah padang rumput yg terjaga. Sedang padang rumput Allah ialah hal-hal yg dilarang-Nya."
Maka, orang yg berbeda di sekitar padang itu, boleh memasukinya. Namun, orang yg memasuki benteng raja, melewati gerbang pertama, kedua dan ketiga, hingga sampai di singgasana adalah lebih baik dibanding orang yg berada di pintu pertama. Maka, bila pintu ketiga tertutup baginya, hal itu takkan merugikannya sebab ia tetap berada di balik dua pintu istana, dan ia memiliki milikan raja, dan tentaranya dekat dgnnya. Tapi, bagi orang yg berada di pintu pertama jika pintu ini tertutup baginya maka ia tetap sendirian di padang terbuka, bisa-bisa diterkam serigala dan musuh, bisa-bisa ia binasa. Begitu pula orang yg menunaikan perintah-perintah Allah akan dijauhkan darinya dgn pertolongan daya dan keleluasaan, dan ia akan terbebas dari kedua hal ini. Dan ia tetap berada di dalam hukum. Bila kematian merenggutnya maka ia berada dalam kepatuhan dan pengabdian. Dan amal kebajikannya akan menjadi saksi baginya.
Orang yg diberi kemudahan sedang ia tak menunaikan kewajiban-kewajibannya, jika kemudahan itu dicabut darinya dan ia terputus dari pertolongan-Nya maka hawa nafsu akan menguasainya, dan ia akan tenggelam dalam hal-hal yg haram, keluar dari hukum, bersama dgn para setan, yg adalah musuh-musuh Allah, dan akan menyimpang dari jalan kebenaran. Maka, jika kematian merenggutnya sedang ia belum bertaubat, maka ia akan binasa, jika Allah tak mengasihinya. Jadi, bahaya terletak pada kelengahan sedang keselamatan terletak pada pemenuhan kewajiban.
Risalah 36
Menceraikan Dunia adalah Mahar Surga
Jadikanlah kehidupan setelah matimu sebagai modal dan kehidupan duniawimu sebagai keberuntungan. Jika masih ada waktu lebih habiskanlah demi kehidupan duniawimu yakni dgn mencari nafkah. Jangan kau buat kehidupan duniawimu sebagai modalmu dan kehidupan setelah matimu sebagai keuntunganmu dan sisa waktumu kau habiskan untuk memperoleh kehidupan setelah mati dan memenuhi kewajiban salat lima waktu. Kau diperintahkan untuk mengendalikan kedirianmu agar ia mematuhi Tuhannya.Tetapi kau bertindak tak layak terhadapnya dgn menuruti dorongan-dorongannya dan kau serahkan kendalinya kepadanya, kau ikuti keinginan-keinginan rendahnya, kau bersekutu dgn iblis dan nafsunya, sehingga kau tak memiliki yg terbaik dari kehidupan ini dan kelak sehingga kau masuki Hari Pengadilan sebagai orang paling miskin kebajikan, dan tak memperolehi, dgn mengikutinya, sebagian besar bagianmu dalam kehidupan duniawi ini. Tapi, jika kau melalui jalur akhirat dengannya, dan menggunakannya sebagai modalmu, maka kau akan memperoleh kehidupan dunia dan akherat. Sedang bagian duniawimu akan kau terima dgn segala kenikmatannya,dan kau akan terhormat. Nabi bersabda:
"Sesungguhnya Allah menyelamatkan di dunia ini demi akhirat, sedang keselamatan di akhirat tak dimaksudkan demi kehidupan duniawi ini."
Nah, begitulah. Dan niat untuk akhirat ialah kepatuhan kepada Allah. Sebab niat merupakan ruh pengabdian dan kemaujudannya. Bila kau mematuhi Allah dgn berpantang di dunia ini, dan dgn mengupayakan tempat di akhirat, maka kau menjadi pilihan Allah, dan kehidupan akhirat akan kau perolehi, yaitu surga dan kedekatan dengan-Nya. Maka, dunia akan mengabdi kepadamu, dan bagianmu darinya akan sepenuhnya kau peroleh sebab segala suatu patuh kepada Penciptanya. Bila kau diliputi kehidupan duniawi dan berpaling dari akhirat maka Allah akan murka kepadamu; kau akan kehilangan akhirat, dunia takkan patuh kepadamu, dan akan menghalangi datangnya bagianmu karena murka Allah kepadamu, sebab ia adalah milik-Nya. Nabi bersabda:
"Dunia dan akhirat adalah ibarat dua isteri; jika kau menyenangkan yg satu, maka yg lain akan marah kepadamu."
Allah Yang Maha kuasa lagi Maha agung, berfirman:
"Sesungguhnya sebagian darimu menyukai kehidupan duniawi ini, dan sebagiannya lagi mencintai akhirat." (QS 2:151)
Kesemua ini disebut anak-anak dunia dan anak-anak akhirat. Nah, anak siapakah kau. Bila kau berada di kehidupan lain, akan kau lihat satu kelompok di neraka. Maka sebagian orang senantiasa berada di tempatnya, pada satu hari yg, kata Allah, sama dgn lima belas ribu tahun. Sedang sebagian yg lain berada di meja makan yg di atasnya makanan, buah-buahan dan madu yg lebih putih, yg sangat lezat, daripada es, sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadis: "Mereka akan melihat tempat mereka di syurga, sampai Allah selesai meminta pertanggungjawaban manusia, dan mereka akan memasuki syurga sebagaimana mereka memasuki rumah mereka di dunia ini."
Mereka meraih hal ini karena telah mencampakkan dunia dan berupaya mencapai akhirat dan Tuhannya. Sedang mereka yg tenggelam dalam berbagai kesulitan dan kehinaan disebabkan tenggelamnya mereka dalam hal-hal duniawi, dan pengabaian mereka akan akhirat, Hari Pengadilan dan yg akan terjadi pada mereka kelak sebagaimana disebutkan dalam Kitabullah dan Sunnah Nabi. Maka pandanglah dirimu dgn pandangan penuh kasih-sayang, pilihkanlah baginya yg lebih baik di antara kedua kelompok ini dan jauhkanlah ia dari kekejian, pembangkangan dan jin. Jadikanlah Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya sebagai pembimbingmu, renungkanlah dua pewenang ini, berlakulah dgn keduanya, dan jangan terkecoh oleh perkataan kosong dan berlebihan. Allah berfirman:
"Segala yg dibawa oleh Nabi kepadamu, terimalah, dan segala yg dilarangnya, jauhilah dan bertakwalah kepada Allah." (QS 59:7)
"Dan mereka mengada-adakan ruhbaniyyah (biarawan-penyunting), padahal Kami tak mewajibkannya kepada mereka." (QS 57:27)
"Dan tiadalah yg diucapkannya itu menurut hawa nafsunya, dan ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yg diwahyukan." (QS 53: 3-4)
Maknanya: "Segala yg ia sampaikan kepadamu berasal dari-Ku, bukan dari kediriannya, maka ikutilah."
"Jika kau mencintai Allah, ikutilah aku (Rasulullah), maka Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu." (QS 3:31)
Jelaslah, bahwa jalur cinta ialah mengikuti kata dan perilakunya.
Nabi Suci saw bersabda: "Berupaya adalah jalanku dan bertawakal kepada Allah adalah keadaanku."
Maka, kau berada di antara upaya dan keadaannya. Jika imanmu lemah, kau mesti berupaya, dan jika imanmu teguh, kau mesti menggunakan keadaanmu, yg adalah kebergantungan kepada-Nya. Allah Yang Maha kuasa lagi Maha agung berfirman:
"Dan kepada Allah lah kau mesti berharap."(QS 94:8)
"Barangsiapa beriman kepada Allah maka Ia mencukupinya." (QS 65:3)
"Sesungguhnya Allah mencintai mereka yg beriman kepada-Nya." (QS 3:158)
Nah, Ia memerintahkanmu untuk senantiasa beriman kepada-Nya, sebagaimana Nabi juga diperintahkan.
Nabi saw. bersabda: "Barangsiapa beramal dgn sesuatu yg tak kami perintahkan maka amalannya itu tertolak."
Hal ini meliputi kehidupan, kata dan perilaku. Hanya Nabilah yg dapat kita ikuti dan hanya berdasarkan Quranlah kita berbuat. Maka jangan menyimpang dari keduanya ini agar kau tak binasa dan agar hawa nafsu serta setan tak menyesatkanmu. "Jangan ikuti hawa nafsu karena ia akan memalingkanmu dari jalan Allah." (QS 38:26)
Adapun keselamatan terletak pada Kitabullah dan sunnah Nabi. Sedang kebinasaan terletak di luar keduanya dan dgn pertolongan keduanya ini, hamba Allah mencapai keadaan wali, badal dan ghauts.
Risalah 37
Kedengkian itu Adalah Musuh Rahmat Allah
Wahai orang-orang yg beriman, kenapa kau iri terhadap tetanggamu yg hidup senang, yg memperolehi rahmat-rahmat dari Tuhannya? Tidakkah kau tahu bahwa yg demikian ini melemahkan imanmu, mencampakkanmu di hadapan Tuhanmu dan membuatmu dibenci oleh-Nya? Sudahkah kau dengar sabda Nabi bahwa Allah berfirman: "Seseorang yg iri hati adalah musuh rahmat Kami"?
Belumkah kau dengar sabda Nabi: "Sesungguhnya keiri-hatian melahap habis kebajikan sebagaimana api melahap habis kayu bakar"? Lantas, kenapa kau iri terhadapnya. Duhai orang yg malang? Baginyakah atau bagimu? Nah, jika kau iri terhadapnya, lantaran kurnia Allah baginya maka berarti kau tak selaras dgn firman-Nya:
"…Kami tentukan diantara mereka penghidupannya dalam kehidupan dunia dan kami tinggikan sebahagian mereka atas sebagian yg lain beberapa derajat agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yg lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yg mereka kumpulkan.." (QS 43:32)
Berarti kau benar-benar zalim terhadap orang ini, yg menikmati kurnia Tuhannya, yg khusus Dia kurniakan kepadanya, yg telah dijadikan-Nya sebagai bagiannya dan yg tidak diberikan-Nya sedikit pun dari bagian itu kepada orang lain. Nah, siapakah yg lebih zalim, serakah dan bodoh selainmu? Allah bebas dari kecacatan seperti itu. Firman-Nya:
"Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah dan Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Ku." (QS 50:29)
Sesungguhnya Allah takkan mencabut darimu segala yg telah ditentukan-Nya bagimu dan takkan memberikannya kepada selainmu. Maka, lebih baik bagimu iri terhadap bumi yg menyimpan aneka harta kekayaan seperti emas, perak dan batu-batu mulia, yg telah dipendam oleh raja-raja terdahulu, seperti 'Ad, Tsamud, para raja serta kaisar Persia dan Romawi - daripada iri terhadap saudaramu.
Hal ini seperti seorang yg melihat seorang raja yg memiliki kekuasaan, tentara, kehormatan dan kerajaan, yg menguasai negeri-negeri, memungut pajak, memeras mereka demi keuntungan pribadi dan menikmati aneka kesenangan tapi tak iri terhadap raja ini sedang terhadap seekor anjing buas yg tunduk kepada salah seekor anjing raja itu, yg bersamanya siang dan malam, dan diberi sisa-sisa makanan dari dapur kerajaan, dan hidup dengannya: orang ini mulai iri terhadap anjing ini, memusuhinya, menghendaki kematiannya dan ingin menggantikan kedudukannya sepeninggalnya tanpa merasa enggan terhadap dunia, atau membina sikap agamis dan ridha dgn nasibnya. Adakah manusia selama ini yg lebih bodoh daripada orang ini?
Maka, ketahuilah. Duhai orang yg malang! Apa yg mesti dihadapi oleh tetanggamu kelak pada Hari Kebangkitan jika ia tak mematuhi Allah, padahal ia menikmati kurnia-kurnia-Nya tapi tak memanfaatkannya untuk mengabdi kepada-Nya?Belumkah kau dengar keterangan ini:
"Sesungguhnya akan ada kelompok-kelompok orang yg menghendaki pada Hari Kebangkitan agar daging mereka dipisahkan dari tubuh mereka dgn gunting karena mereka melihat pahala bagi penderita-penderita kesulitan."
Maka tetanggamu akan menginginkan pada Hari kebangkitan, kedudukanmu di dunia ini, karena pertanggungjawabannya, kesulitan-kesulitannya, keberdiriannya selama lima puluh ribu tahun di terik matahari kala itu, atas kenikmatan hidup duniawi yg telah direguknya.
Sedang kau akan selamat dari hal ini di bawah naungan Arsy Allah, sambil makan, minum, bersenang-senang karena kesabaranmu dalam menghadapi nasibmu dan keselarasanmu dgn perintah Tuhanmu. Semoga Allah menjadikanmu orang yg sabar dalam menghadapi musibah, bersyukur atas rahmat-Nya dan memasrahkan segala urusannya kepada Tuhan bumi dan langit.
Risalah 38
Keikhlasan berarti Mengabaikan Segala Selain Allah
Barangsiapa menunaikan perintah Tuhannya dgn ikhlas dan sungguh-sungguh berarti ia mencampakkan segala selain-Nya siang dan malam. Wahai manusia , jangan mengakui milikmu segala yg tak kau miliki. Esakanlah Allah, jangan sekutukan Dia dgn sesuatu pun dan jadikanlah dirimu sasaran kehendak-Nya, yg takkan mematikanmu tapi hanya melukaimu. Dan siapa pun yg memfanakan diri demi Allah maka ia akan memperoleh ganti dari-Nya.
Risalah 39
Mengikuti Nafsu Adalah Kesesatan
Melakukan sesuatu karena nafsu bukan karena perintah Allah berarti menyimpang dari kewajiban dan menentang kebenaran. Melakukan sesuatu bukan karena nafsu berarti selaras dgn kebenaran sedang mencampakkannya berarti kemunafikan
Risalah 40
Segala Sesuatu Selain Allah Adalah Bathil
Jangan berharap menjadi saleh jika kau belum menjadi musuh kedirianmu,dan benar-benar terlepas dari semua organ tubuhmu, dan terlepas dari semua hubungan dgn kemaujudanmu, dgn gerak dan diammu, dgn pendengaran dan penglihatanmu, dgn pembicaraan dan diammu, dgn upaya, tindakan dan pemikiranmu, dan dgn segala yg berasal darimu, sebelum kemaujudan ruhanimu mewujud dalam dirimu. Dan semua itu akan kau dapat setelah kemaujudan ruhani bersemayam di dalam dirimu, sebab ini menjadi tabir antara kau dan Tuhanmu. Bila kau menjadi seorang yg suci jiwanya, bersahaja, rahsia dari segala rahsia dan yg ghaib dari segala yg ghaib, maka kau benar-benar berbeda dgn segala yg rahsia, dan mengakui segala suatu sebagai musuh, penghalang dan kegelapan, sebagaimana Ibrahim as berkata:
"Sesungguhnya mereka adalah musuh-musuhku kecuali Tuhan semesta alam." (QS 26:77)
Dia berkata begini terhadap berhala-berhala. Maka pandanglah segala kemaujudanmu sebagai berhala, begitu pula ciptaan lainnya, jangan mematuhi mereka dan jangan mengikuti mereka. Maka kau akan dikurniai hikmah, ma'rifat, daya cipta dan keajaiban, seperti yg dimiliki orang mukmin di surga.
Keberadaanmu dalam kondisi begini bak terbangkitkan dari kematian di akhirat. Jadilah kau perwujudan kuasa Allah; kau mendengar melalui-Nya, melihat melalui-Nya, berbicara melalui-Nya, diam melalui-Nya, senang dan damai melalui-Nya. Dgn demikian kau akan tuli terhadap segala suatu selain-Nya: sehingga kau tak mendapati kemaujudan selain-Nya, sehingga kau mengetahui hukum dan selaras dgn kewajiban dan larangan. Maka bila sesuatu kekeliruan ada padamu, ketahuilah bahwa kau sedang diuji, digoda dan dipermainkan oleh setan-setan. Maka kembalilah kepada hukum syari’at dan pegang teguhlah ia dan jagalah dirimu agar senantiasa bersih dari keinginan-keinginan rendah, sebab segala sesuatu yg tak dikuatkan oleh hokum syari’at adalah kekafiran.
Risalah 41
Pengendalian Diri Adalah Langkah Awal Penyapihan
Akan kami paparkan bagimu sebuah misal tentang kelimpahan, dan kami berkata, "Tidakkah kau lihat seorang raja yg menjadikan orang biasa sebagai gubernur kota tertentu, memberinya pakaian kehormatan, bendera, panji-panji dan tentara sehingga ia merasa aman mulai yakin bahwa hal itu akan kekal, bangga dengannya dan lupa akan keadaan sebelumnya. Akhirnya ia terseret oleh kebanggaan, kesombongan, dan kesia-siaan. Maka, datanglah perintah pemecatan dari raja. Dan sang raja meminta penjelasan atas kejahatan-kejahatan yang telah dilakukannya dan pelanggarannya atas perintah dan larangannya. Lalu sang raja memenjarakannya dalam sebuah penjara yg sempit dan gelap serta memperlama pemenjaraannya, dan orang itu terus menderita, terhina dan sengsara, akibat ketakaburan dan kesia-siaannya, dirinya hancur, api kehendaknya padam, dan semua ini terjadi di depan mata sang raja dan diketahuinya. Setelah itu ia menjadi kasihan terhadap orang itu, dan memerintahkan agar ia dibebaskan dari penjara, disertai kelembutan terhadapnya, dianugerahkan kembali pakaian kehormatan, dan dijadikannya kembali ia sebagai gubernur. Ia menganugerahkan semua ini kepada orang itu sebagai kurnia cuma-cuma. Kemudian ia menjadi teguh, bersih, berkecukupan dan terahmati.
Beginilah keadaan orang mukmin yg didekatkan dan dipilih-Nya.
Ia bukakan di hadapan mata hatinya pintu-pintu kasih-sayang, kemurahan dan pahala. Maka, ia melihat dgn hatinya yg mata tak pernah melihat, yg telinga tak pernah mendengar, yg hati manusia tak tahu akan hal-hal ghaib dari kerajaan langit dan bumi, akan kedekatan dengan-Nya, akan kata manis, janji menyenangkan, limpahan kasih-sayang, akan diterimanya doa dan kebajikan, dan akan dipenuhinya janji serta kata-kata bijak bagi hatinya, yg menyatakan sendiri melalui lidahnya, dan dgn semua ini Ia sempurnakan bagi orang ini kurnia-kurnia-Nya pada tubuhnya, yg berupa makanan, minuman, pakaian, isteri yg halal, hal-hal lain yg halal dan pemerhati terhadap hukum dan tindak pengabdian. Lalu, Allah memelihara keadaan ini bagi hamba beriman-Nya yg didekatkan kepada-Nya sampai sang hamba merasa aman di dalamnya, terkecoh olehnya dan percaya bahwa hal itu kekal. Maka, Allah membukakan baginya pintu-pintu musibah, aneka kesulitan hidup, milikan, isteri, anak, dan mencabut darinya segala kurnia yg telah dilimpahkan-Nya kepadanya sebelum ini, sehingga ia terkulai, hancur dan terputus dari masyarakatnya.
Bila ia melihat keadaan-keadaan lahiriahnya, maka ia melihat hal-hal yg buruk baginya. Bila ia melihat hati dan jiwanya, maka ia melihat hal-hal yg menyedihkannya. Jika ia memohon kepada Allah untuk menjauhkan kesulitannya, maka permohonannya itu tak diterima. Jika ia memohon janji baik, ia tak segera mendapatkannya. Jika ia berjanji, ia tak tahu tentang pemenuhannya. Bila ia bermimpi, ia tak bisa menafsirkannya dan tak tahu tentang kebenarannya. Bila ia bermaksud kembali kepada manusia, ia tak mendapatkan sarana untuk itu. Bila ada sesuatu pilihan baginya dan ia bertindak berdasarkan pilihan itu, maka ia segera tersiksa, tangan-tangan orang memegang tubuhnya, dan lidah-lidah mereka menyerang kehormatannya.
Bila ia hendak melepaskan dirinya dari keadaan ini, dan kembali kepada keadaan sebelumnya, ia gagal. Bila ia memohon agar dikurniakan pengabdian, ketercerahan dan kebahagiaan di tengah-tengah musibah yg dialaminya, permohonannya itu pun tak diterima.
Maka, dirinya mulai meleleh, hawa nafsunya mulai sirna, maksud-maksud serta kerinduan-kerinduannya mulai pupus, dan kemaujudan segala sesuatu menjadi tiada. Keadaannya ini diperpanjang dan kian hebat, hingga sang hamba berlalu dari sifat-sifat manusia. Tinggallah ia sebagai ruh. Ia mendengar panggilan jiwa kepadanya:"Hantamkanlah kakimu, inilah air yg sejuk untuk mandi dan minum." (QS 38:42)
Sebagaimana panggilan kepada Nabi Ayyub as. Lalu Allah mengalirkan samudera kasih-sayang dan kelembutan-Nya ke dalam hatinya, menggelorakannya dgn kebahagiaan, aroma harum pengetahuan tentang hakikat dan ketinggian pengetahuan-Nya, membukakan baginya pintu-pintu nikmat dalam segala keadaan hidup, membuat para raja mengabdi kepadanya, menyempurnakan baginya nikmat-nikmat-Nya lahiriah dan ruhaniah, menyempurnakan lahiriahnya melalui makhluk dan rahmat-rahmat lain-Nya, menyempurnakan ruhaninya dgn kelembutan dan kurnia-Nya, dan membuat keadaan ini berkesinambungan baginya, hingga ia menghadap-Nya. Kemudian Ia memasukkannya ke dalam yg mata tak pernah melihat, yg telinga tak pernah mendengar dan yg tak pernah tersirat dalam hati manusia, sebagaimana firman-Nya:
"Tak seorangpun tahu yg disimpan bagi mereka yg menyedapkan pandangan mata sbg balasan atas apa yg telah mereka perbuat." (QS 32:17)
Risalah 42
Dalam Madu Dan Pare terkandung Obat
Keadaan ruhani manusia itu: bahagia dan duka. Bila duka, maka timbul kecemasan, keluhan, ketaksenangan, pencomelan, penyalahan terhadap perilaku buruk, dosa karena menyekutukan sang Pencipta dgn makhluk dan sarana-sarana duniawi, dan akhirnya kekafiran.Bila bahagia ia jadi korban kerakusan,kehinaan hawa nafsu. Bila nafsu dituruti, ia pun menginginkan yg lain dan meremehkan kurnia yg dimilikinya; maka ia tak menghargai kurnia-kurnia ini dan meminta kurnia yg lebih baik lagi sehingga hal ini menempatkannya dalam rantai kesulitan yg tak berakhir di dunia atau akhirat sebagaimana dikatakan:"Sesungguhnya siksaan paling pedih adalah bagi pengupayaan yg bukan bagiannya."
Maka bila ia dirundung kesulitan, yg dikehendaki hanyalah sirnanya kesulitan itu. Ia menjadi lupa akan segala kurnia, dan tidak menghendaki sesuatupun dari hal ini. Bila ia dikurniai kebahagiaan hidup maka ia kembali menjadi sombong, rakus, membangkang terhadap Tuhannya dan tenggelam dalam dosa. Ia pun lupa akan kesengsaraannya dan bencana ini, yg korbannya adalah dia sendiri.
Maka segeralah ia menjadi lebih buruk daripada waktu ia dihantam aneka musibah dan kesulitan sebagai hukuman atas dosa-dosanya agar ia terjauhkan dari hal-hal ini dan menahannya dari perbuatan dosa di kemudian hari, setelah kemudahan dan kesenangan tak mengubahnya,tapi keselamatannya justru terletak dalam musibah dan kesulitan.
Andai ia berlaku baik setelah bencana berlalu darinya, teguh dalam kepatuhan, bersyukur dan menerima nasibnya dgn senang hati, maka hal itu lebih baik baginya di dunia ini dan di akhirat. Maka hidupmu akan kian bahagia.
Nah, barangsiapa menginginkan keselamatan hidup di dunia ini dan di akhirat, maka ia harus selalu bersabar, pasrah, menghindar dari mengeluh kepada orang, dan memperolehi kebutuhannya dari Tuhannya, Yang Maha kuasa lagi Maha agung, dan membuatnya sebagai kewajiban untuk mematuhi-Nya, harus menantikan kemudahan dan sepenuhnya mengabdi kepada-Nya, Yang Maha kuasa lagi Maha agung. Ia, betapa pun juga, lebih baik ketimbang seluruh makhluk-Nya.
Maka Pencabutan oleh-Nya menjadi kurnia, Penghukuman-Nya menjadi rahmat, musibah dari-Nya menjadi obat, janji-Nya terpenuhi. Kemurahan-Nya merupakan kenyataan yg ada. Kata-Nya merupakan suatu kebajikan. Tentu, firman-Nya, di kala Ia menghendaki sesuatu, hanyalah ucapan terhadapnya "Jadi," maka jadilah ia. Maka, seluruh tindakan-Nya baik, bijak dan tepat, kecuali bahwa Ia menyembunyikan pengetahuan tentang ketepatan-Nya dari hamba-hamba-Nya, padahal Ia sendiri begini. Maka, lebih baik dan layak bagi para hamba untuk berpasrah dan mengabdi kepada-Nya, yaitu dgn menunaikan perintah-perintah-Nya, menghindari larangan-larangan-Nya, menerima ketentuan-Nya dan mencampakkan belaian makhluk - sebab hal ini merupakan sumber segala ketentuan, menguatnya mereka dan dasar mereka; dan berdiamlah atas sebab dan masa (kejadian-kejadian), dan jangan menyalahkan gerak dan diam-Nya. Pernyataan ini berdasarkan sebuah hadis yg diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas, yg dikutip oleh Ata bin Abbas.
Katanya:"Ketika aku berada di belakang Rasulullah (saw), beliau berkata kepadaku,
"Anakku, jagalah kewajiban-kewajiban terhadap Allah, maka Allah akan menjagamu; jagalah kewajiban-kewajiban terhadap Allah, maka kau akan mendapati-Nya di depanmu.'"
Nah, jika kau memerlukan pertolongan, mintalah kepada-Nya. Pena telah kering setelah menuliskan segala yg akan terjadi. Dan jika hamba-hamba Allah berupaya keras memberimu sesuatu yg tak Allah tentukan bagimu, maka mereka takkan mampu melakukannya. Jika hamba-hamba Allah berupaya keras merugikanmu, padahal Allah tak menghendakinya, maka mereka takkan berhasil.
Nah, jika kau dapat bertindak berdasar perintah-perintah Allah dgn penuh keimanan, lakukanlah.Tapi, jika kau tak bisa melakukan yg demikian, maka tentu lebih baik bersabar atas apa yg tak kau sukai, sambil mengingat bahwa di dalamnya banyak kebaikan. Ketahuilah bahwa pertolongan Allah datang melalui kesabaran dan keridhaan dan dalam kesulitan itu pasti ada kemudahan. Maka hendaklah para mukmin menjadikan hadist ini sebagai cermin bagi hatinya, sebagai pakaian lahir dan batinnya, sebagai slogan, dan hendaklah berlaku dengannya dalam segala gerak dan diamnya, agar selamat dunia dan akhirat, dan semoga mendapatkan kemuliaan darinya, dgn kasih-sayang Allah, Yang Maha Mulia.
Risalah 43
Memohonlah Hanya Kepada Allah semata
Barangsiapa meminta sesuatu dari manusia berarti ia tak tahu akan Allah, lemah iman, lemah pengetahuan tentang hakikat, dan tak sabar; sedang barangsiapa tak meminta berarti ia amat tahu akan Allah, Yang Maha Kuasa lagi Maha Agung, kuat imannya, kian bertambah pengetahuan dan ketakwaan kepada-Nya, Yang Maha Kuasa lagi Maha Agung.
Risalah 44
Terbanglah kepada-Nya dengan Dua Sayap : Takut Dan Harap
Sesungguhnya doa orang yg berpengetahuan ruhani kepada Allah Yang Maha kuasa lagi Maha agung, tak dikabulkan, dan setiap janji yg dibuat kepadanya tak dipenuhi, agar ia tak hancur karena keterlalu-optimisan. Sebab setiap keadaan atau maqam ruhani mempunyai ketakutan dan harap. Dgn demikian orang yg berpengetahuan ruhani mengalami kedekatan dengan-Nya sehingga ia tak menghendaki sesuatu pun selain Allah. Maka permohonan (sang pengabdi) agar doanya diterima dan janji kepadanya dipenuhi, bertentangan dgn jalan dan keadaannya.
Ada dua sebab untuk ini. Pertama ia tak diatasi oleh harapan dan khayal diri melalui rencana tinggi Allah, dan lupa akan kebaikannya dalam penghampirannya kepada Allah sehingga ia hancur. Kedua, hal itu sama dgn menyekutukan-Nya dgn sesuatu. Sebab tak satu pun di dunia ini sepenuhnya bebas dari dosa kecuali para Nabi. Karena inilah, Ia tak selalu mengabulkan doanya dan tak memenuhi janji kepada sang pengabdi, agar ia tak meminta sesuatu pun atas dorongan hawa nafsunya tanpa mematuhi perintah-perintah-Nya, yg di dalamnya terletak kemungkinan kesyirikan dan dalam setiap keadaan, langkah dan maqam sang salik banyak kemungkinan berbuat syirik. Tetapi bila doanya selaras dgn perintah, maka hal itu mendekatkan manusia kepada Allah, semisal salat, puasa, kewajiban-kewajiban lainnya, sunnah serta kewajiban tambahan, sebab dalam hal-hal ini ada kepatuhan kepada perintah.
Risalah 45
Cinta itu Hanya untuk Yang Memberikan Cinta
Ketahuilah bahwa ada dua macam manusia.
Yg pertama ialah manusia yg dikurniai kenikmatan duniawi.
Yg kedua ialah manusia yg diuji dgn ketentuan-Nya.
Manusia yg mendapatkan nikmat duniawi,tak bebas dari noda dosa dan kegelapan dalam menikmati yg mereka dapatkan itu.
Manusia semacam itu bermewah-mewah dgn nikmat duniawi ini. Bila ketentuan Allah datang, yg menggelapi sekitarnya melalui aneka musibah yg berupa penyakit, penderitaan, kesulitan hidup, sehingga ia hidup sengsara, dan tampak seolah-olah ia tak pernah menikmati sesuatu pun. Ia lupa akan kesenangan dan kelezatannya. Dan jika kecerahan menimpanya, maka seolah-olah ia tak pernah mengalami musibah. Sedang jika ia mengalami musibah, maka seolah-olah tiada kebahagiaan. Semua ini disebabkan oleh pengabdian terhadap Tuhannya.
Nah, jika ia telah tahu bahwa Tuhannya sepenuhnya bebas bertindak sekehendak-Nya, mengubah, memaniskan, memahitkan, memuliakan, menghinakan, menghidupkan, mematikan, memajukan dan memundurkan - jika ia telah tahu semua ini, maka ia tak merasa bahagia di tengah-tengah kebahagiaan duniawi dan tak merasa bangga karenanya, juga tak berputus asa akan kebahagiaan di kala duka. Perilaku salahnya ini disebabkan juga oleh ketaktahuannya akan dunia ini, yg sebenarnya tempat ujian, kepahitan, kejahilan, kepedihan dan kegelapan. Jadi kehidupan duniawi itu bak pohon gaharu, yg rasa pertamanya pahit, sedang rasa akhirnya manis seperti madu, dan tiada seorang pun dapat merasakan manisnya, sebelum ia merasakan pahitnya. Tak seorang pun dapat mengecap madunya, sebelum ia tabah atas kepahitannya. Maka, barangsiapa tabah atas cobaan-cobaan duniawi, maka ia berhak mengecap rahmat-Nya.
Tentu, seorang pekerja mesti diberi upah setelah keningnya berkeringat, tubuh dan jiwanya letih. Maka, bila orang telah merasa semua kepahitan ini, maka datang kepadanya makanan dan minuman lezat, pakaian yg bagus dan kesenangan meski sedikit. Jadi, dunia adalah sesuatu, yg bagian pertamanya ialah kepahitan, bagai pucuk madu di sebuah bejana yg berbaur dgn kepahitan, sehingga si pemakan tak mungkin mencapai dasar bejana, dan yg dimakannya hanyalah madu murninya sampai ia mengecap pucuknya.
Nah, bila hamba Allah telah berupaya keras menunaikan perintah Allah, Yang Maha kuasa lagi Maha agung, menjauh dari larangan-Nya, dan pasrah kepada-Nya, maka bila ia telah merasa kepahitannya, menahan bebannya, berupaya melawan kehendaknya sendiri dan mencampakkan maksud-maksud pribadinya, maka Allah mengurniainya sebagai hasil dari ini, kehidupan yang baik, kesenangan, kasih-sayang dan kemuliaan. Maka jadilah Ia walinya dan menyuapinya persis seperti seorang bayi yg disuapi, yg tak berdaya, yg tak berupaya keras di dunia dan akhirat, yg juga seperti pemakan pucuk pahit madu yg mengecap dgn lahapnya bagian bawah isi bejana. Nah, patutlah bagi sang hamba yg telah dikurniai oleh Allah, untuk tak merasa aman dari cobaan-Nya, untuk tak merasa yakin akan kekekalannya, agar tak lupa bersyukur atasnya. Nabi Suci saw. berkata: "Kebahagiaan duniawi merupakan sesuatu yg ganas; maka jinakkanlah ia dgn kesyukuran."
Jadi, mensyukuri rahmat berarti mengakui sang Pemberinya, Yang Maha pemurah, yaitu Allah, senantiasa mengingatnya, tak mengklaim atas-Nya, tak mengabaikan perintah-Nya, dan diiringi dgn penunaian kewajiban terhadap-Nya, yakni mengeluarkan zakat, membersihkan diri, bersedekah, berkorban sebagai nazar, meringankan beban penderitaan kaum lemah dan membantu mereka yg memerlukan , yg mengalami kesulitan dan yg keadaannya berubah dari baik menjadi buruk, yaitu, yg masa-masa bahagia dan harapannya telah berubah menjadi kedukaan. Bersyukurnya anasir tubuh atas rahmat berupa digunakannya anasir tubuh itu untuk menunaikan perintah-perintah Allah dan mencegah diri dari hal-hal yg haram, dari kekejian dan dosa.
Inilah cara melestarikan rahmat, mengairi tanamannya dan memacu tumbuhnya dedahanan dan dedaunannya; mempercantik buahnya, memaniskan rasanya, memudahkan penelanannya, mengenakkan pemetikannya dan membuat rahmatnya mewujud di seluruh tubuh lewat berbagai tindak kepatuhan kepada-Nya, seperti lebih mendekatkan diri kepada-Nya dan senantiasa mengingat-Nya, yg kemudian memasukkan sang hamba, di akhirat, ke dalam kasih-sayang-Nya, Yang Maha kuasa lagi Maha agung, dan menganugerahinya kehidupan abadi di taman-taman surga bersama dgn para Nabi Suci, shiddiq, syahid dan shalih - inilah suatu kebersamaan yg indah.
Namun, jika tak berlaku begini, mencintai keindahan lahiriah kehidupan semacam itu, asyik menikmatinya dan puas dgn gemerlapnya fatamorgananya, yg kesemuanya bagai hembusan sepoi angin dingin di pagi musim panas, dan bagai lembutnya kulit naga dan kalajengking; dan menjadi lupa akan bisa mautnya dan tipuannya - kesemuanya ini akan menghancurkannya - orang seperti itu mesti diberi kabar-kabar gembira tentang penolakan, kehancuran yg segera, kehinaan di dunia ini dan siksaan kelak dalam api neraka nan abadi.
Cobaan atas manusia - kadang berupa hukuman atas pelanggaran terhadap hukum dan atas dosa yg telah diperbuatnya. Kadang berupa pembersihan noda, dan kadang pula berupa pemuliaan maqam ruhani manusia, yg baginya rahmat Tuhan semesta terkurniakan sebelumnya, yg melalukannya dari bencana dgn kelembutan, sebab cobaan semacam itu tak dimaksudkan untuk menghancurkan dan mencampakkannya ke dasar neraka, tapi, dgn begini, Allah mengujinya untuk dipilih dan mewujudkan darinya hakikat iman, mensucikannya dan bersih dari kesyirikan, kebanggaan diri, kemunafikan, dan membuat kurnia cuma-cuma, sebagai pahala baginya, dari berbagai pengetahuan, rahsia dan cahaya.
Nah, bila orang ini menjadi bersih ruhani dan jasmani, dan hatinya menjadi suci, berarti Ia telah memilihnya di dunia ini dan di akhirat - di dunia ini yakni melalui hatinya, sedang di akhirat yakni melalui jasmaninya. Maka segala bencana menjadi pencuci noda kesyirikan dan pemutus hubungan dgn manusia, sarana duniawi dan dambaan-dambaan, dan menjadi pelebur kesombongan, ketamakan dan harapan akan imbalan surga atas penunaian perintah-perintah.
Cobaan yg berupa hukuman menunjukkan adanya kekurang sabaran atas cobaan-cobaan ini, dgn mengaduh dan mengeluh kepada orang. Cobaan yg berupa penyucian dan penyirnaan kelemahan menunjukkan maujudnya kesabaran, ketak-mengeluhan kepada sahabat dan tetangga, penunaian perintah-perintah, ketak engganan dan kepatuhan. Cobaan yg berupa pemuliaan maqam menunjukkan adanya keridhaan, kedamaian dgn kehendak Allah, Tuhan bumi dan langit, dan penafian diri sepenuhnya dalam cobaan ini, hingga saat berlalunya.
Risalah 46
Mengingat-Nya dapat Menyembuhkan Kesedihanmu
Nabi Suci saw. bersabda dari Rabnya:
"Barangsiapa senantiasa mengingat-Ku dan tak sempat minta sesuatu pun dari-Ku, maka akan Kuberikan kepadanya yg lebih baik daripada yg Kuberikan kepada mereka yg meminta."
Hal ini dikarenakan bila Allah menghendaki seorang mukmin bagi maksud-maksud-Nya sendiri, maka Ia melalukannya melalui aneka keadaan ruhani dan mengujinya dgn aneka upaya dan musibah. Lalu Ia membuatnya sedih setelah senang, dan membuatnya hampir minta kepada orang sedang tiada jalan terbuka baginya; lalu menyelamatkannya dari meminta dan membuatnya hampir meminjam kepada orang.
Lalu Ia menyelamatkannya dari meminjam, dan membuatnya bekerja mencari nafkah dan memudahkan baginya. Maka hiduplah ia dgn perolehannya dan hal ini selaras dgn sunnah Nabi.
Tapi kemudian, Allah membuatnya sulit mendapatkan rezeki dan memerintahkannya lewat ilham untuk meminta kepada manusia. Inilah sebuah perintah tersembunyi yg hanya diketahui oleh orang yg bersangkutan. Dan Dia membuat permintaan ini sebagai pengabdiannya dan berdosa melecehkannya sehingga keangkuhannya pupus, kediriannya hancur, dan inilah pembinaan ruhani. Permintaannya karena dipaksa oleh Allah, bukan karena kesyirikan. Lalu Ia menyelamatkannya dari keadaan begini dan memerintahkannya untuk meminjam kepada orang dgn perintah yg kuat yg tak mungkin lagi ditolak, sebagaimana halnya dgn keadaan meminta.
Lalu Dia mengubahnya dari keadaan ini, menjauhkannya dari orang dan hanya bertumpu pada permintaannya kepada-Nya. Maka ia meminta kepada Allah segala yg diperlukannya. Dia memberinya dan tak memberinya jika ia tak memintanya.
Lalu Dia mengubahnya dari meminta lewat lidah menjadi meminta lewat hati. Maka ia meminta kepadanya segala yg dibutuhkannya sehingga bila ia memintanya dgn lidah, Dia tak memberinya atau bila ia meminta kepada orang, mereka juga tak memberinya.
Lalu Dia menafikannya dari dirinya dan dari meminta baik secara terbuka maupun tersembunyi. Maka Dia mengurniainya segala yg membuat orang menjadi baik, - segala yg dimakan, diminum, dipakai dan keperluan hidup tanpa upaya atau tanpa diduganya. Maka menjadilah Ia walinya, dan ini sesuai dgn ayat: "Sesungguhnya waliku adalah Allah yg telah menurunkan Al-Kitab dan Ia adalah wali orang-orang saleh." (QS 7:196)
Maka firman Allah yg diterima oleh Nabi saw. menjadi kenyataan, yakni, "Barangsiapa senantiasa mengingat-Ku shg tak sempat minta sesuatu dari-Ku, maka Aku akan memberinya lebih dari yg Kuberikan kepada mereka yg meminta," dan inilah keadaan fana dalam Tuhan, suatu keadaan yg dimiliki oleh para wali dan badal. Pada peringkat ini, ia dikurniai daya cipta, dan segala yg dibutuhkannya mewujud atas izin Allah, sebagaimana firman-Nya di dalam Kitab-Nya: "Wahai anak Adam! Aku adalah Allah, tiada Tuhan selain-Ku; bila Kukatakan kepada sesuatu "jadilah", maka jadilah ia. Ta’atilah Aku, sehingga bila kau berkata kepada sesuatu "jadilah", maka jadilah sesuatu itu."
Risalah 47
Kepasrahan membuat Hamba makin Dekat Dengan-Nya
Seorang tua bertanya kepadaku dalam mimpiku: "Apa yg membuat seorang hamba Allah dekat kepada Allah?"
Aku berkata: "Proses ini berawal dan berakhir, awalnya yaitu kesalehan dan akhirnya yaitu keridhaan kepada Allah dan kepasrahan diri sepenuhnya kepada-Nya."
Risalah 48
Cinta Sejati akan Mendorong pada Tindakan Nyata
Seorang mukmin awalnya menunaikan yg fardlu. Bila telah menunaikan yg fardlu maka ia menunaikan yg sunnah. Bila telah menunaikan keduanya maka ia menunaikan yg tambahan. Nah, bila seseorang belum melaksanakan yg fardlu sedang ia melaksanakan yg sunnah, maka hal itu merupakan kebodohan, takkan diterima dan ia akan hina. Ia seperti orang yg diminta untuk mengabdi kepada raja tapi ia tak mengabdi kepadanya,malah mengabdi kepada hamba sang raja yg berada di bawah kekuasaannya. Diriwayatkan oleh Ali bin Abu Thalib (as), bahwa Nabi Suci saw. berkata:
"Ibarat tentang orang yg menunaikan yg sunnah padahal ia belum menunaikan yg fardlu ialah seperti wanita hamil yg keguguran di kala akan melahirkan. Dgn demikian, ia tak hamil lagi dan tak jadi menjadi ibu."
Begitu pula dgn orang yg beribadah, yg Allah tak menerima penunaiannya akan yg sunnah, sebelum ia menunaikan yg fardlu. Hal ini juga seperti usahawan yg takkan mendapatkan keuntungan apa pun sebelum ia mengelola modalnya. Begitu pula dgn orang yg menunaikan yg sunnah,takkan diterima amalannya itu sebelum ia menunaikan yg fardlu. Begitu pula dgn orang yg mengabaikan yg sunnah dan menunaikan hal-hal yg tak ditentukan oleh aturan apa pun. Nah, di antara kewajiban-kewajiban itu ialah menjauh dari yg haram, dari mengabaikan ketentuan-Nya,dari menimpali suara manusia, dari mengikuti kehendak mereka, dari berpaling atas perintah Allah, dan dari ketakpatuhan kepada-Nya.
Nabi saw. bersabda: "Tiada keta’atan selagi masih berbuat dosa terhadap Allah."
Risalah 49
Tidur Adalah Saudara Kematian
Barangsiapa lebih suka tidur daripada shalat malam yg membawa ke arah ketakwaan berarti ia memilih sesuatu yg buruk dan mematikannya dan membuatnya acuh tak acuh terhadap segala keadaan.Sebab tidur adalah saudara kematian. Karenanya Allah tak tidur sebab Ia bersih dari segala kecacatan. Begitu pula dgn para malaikat sebab mereka senantiasa amat dekat dgn Allah Yang Maha kuasa lagi Maha agung. Begitu pula dgn penghuni langit sebab mereka sangat mulia dan suci sebab tidur akan menghancurkan keadaan hidup mereka. Jadi kebaikan terletak pada keterjagaan sedang keburukan terletak pada ke-tidur-an dan ketak acuhan terhadap upaya.
Nah, barangsiapa makan, minum dan tidur berlebihan, maka lenyaplah kebaikan dari dirinya. Barangsiapa makan sedikit dari yg haram, maka ia serupa dgn orang yg makan banyak dari yg halal. Sebab sesuatu yg haram menggelapi iman. Bila iman gelap, maka doa, ibadah dan jihad tak maujud. Barangsiapa makan banyak dari yg halal berdasarkan perintah Allah, maka ia menjadi seperti orang yg makan sedikit dgn penuh pengabdian. Jadi sesuatu yg halal ialah cahaya yg ditambahkan pada cahaya sedang sesuatu yg haram ialah kegelapan yg ditambahkan pada kegelapan, yg didalamnya tiada kebaikan; maka makan sesuatu yg halal secara berlebihan dgn tak merujuk kepada perintah adalah seperti makan sesuatu yg haram dan hal itu menyebabkan tidur, yg di dalamnya tiada kebaikan.
Risalah 50
Campakkanlah Nafsumu di hadapanNya dengan Kepasrahan
Kau mungkin dekat kepada Allah atau jauh dari-Nya.
Jika kau jauh dari-Nya, kenapa berlengah diri, tak berupaya mendapatkan rahmat, kemuliaanmu, keamanan dan kecukupan diri di dunia ini dan di akhirat. Segeralah terbang kepada-Nya dgn dua sayap. Sayap pertama berupa penolakan akan kesenangan, keinginan-keinginan tak halal; sayap kedua berupa penanggungan kepedihan, hal-hal tak menyenangkan dan menjauhkan diri dari keinginan duniawi dan ukhrawi, agar bisa menyatu dengan-Nya dan dekat kepada-Nya. Maka kau perolehi segala yg diidamkan dan diraih orang. Kau menjadi demikian terhormat dan mulia. Jika kau termuliakan dgn kelembutan-Nya, menerima cinta-Nya, dan menerima kasih sayang-Nya, maka tunjukkanlah perilaku terbaik dan jangan berbangga diri dgn semua itu agar kau tak lalai mengabdi, tak angkuh, tak zalim dan tak tergesa-gesa. Allah berfirman:
"Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan bodoh." (QS. 33:72)
"Dan manusia itu bersifat tergesa-gesa." (QS. 17:11)
Lindungilah hatimu dari kecondongan kepada orang dan keinginan-keinginan yg telah kau campakkan, dari ketidak-sabaran, dari ketak-selarasan dan dari ketak-ridhaan kepada Allah di kala ditimpa musibah. Campakkanlah dirimu ke hadapan-Nya dgn sikap seperti bola di kaki pemain polo yg menggerakkannya dgn stiknya, bagai mayat di hadapan orang yg memandikannya, dan bagai bayi di pangkuan ibu. Butalah terhadap segala selain-Nya agar tak kau lihat sesuatu pun selain-Nya - tiada kemaujudan, kemudharatan, manfaat, kurnia dan penahan kurnia. Anggaplah orang dan sarana duniawi di kala menderita dan ditimpa musibah sebagai cambuk-cambuk-Nya yg dgn keduanya Ia mencambukmu. Dan anggaplah keduanya di kala suka sebagai tangan-Nya yg menyuapimu.
Risalah 51
Lahiriah Kezuhudan adalah Kemuliaan Dunia dan Batiniahnya adalah Kemuliaan Akherat
Orang saleh menerima pahala dua kali lipat. Pertama, karena penolakannya akan dunia sehingga ia tak terpesona olehnya, bertentangan dgn kedirian, dan memenuhi perintah Allah sehingga ia terpisahkan darinya. Bila ia menjadi musuh diri maka ia menjadi penegak kebenaran, pilihan Allah, badal dan arif (yg tahu kebenaran). Maka ia diperintahkan untuk berhubungan dgn dunia sebab kini dalam dirinya maujud sesuatu yg tak dapat dibuang dan tak tercipta dalam diri orang lain. Setelah hal itu tertulis, pena takdir menjadi kering dan tentangnya Allah telah tahu sebelumnya. Bila perintah telah dipenuhi, maka ia mengambil bagian duniawinya atau dgn menerima ma'rifat, ia berhubungan dgn dunia dgn berlaku sebagai wahana takdir dan tindakan-Nya, tanpa keterlibatannya, tanpa keinginannya dan tanpa upayanya - ia diberi pahala karena hal ini untuk kedua kalinya karena ia melakukan semua ini demi mematuhi perintah Allah.
Bila dikatakan - bagaimana mungkin kau menyatakan tentang pahala orang yg telah berada pada maqam ruhani yg sangat tinggi dan yg menurutmu, telah menjadi badal dan arif, telah lepas dari orang, kedirian, kesenangan, kehendak dan harapan akan pahala atas kebajikannya, orang yg hanya melihat di dalam semua kepatuhan dan penyembahannya kehendak Allah, kasih-Nya, rahmat-Nya, pemudahan-Nya dan pertolongan-Nya, dan orang yg percaya bahwa ia hanyalah hamba hina Allah, tak berhak menentang-Nya, dan melihat bahwa dirinya, gerak dan upayanya sebagai milik-Nya. Bisakah dikatakan tentang orang semacam itu bahwa ia diberi pahala, mengingat ia tak meminta upah atau sesuatu yg lain sebagai balasan bagi amalnya dan tidak melihat suatu amalan berasal darinya tapi memandang dirinya sebagai orang yg hina dan miskin akan kebaikan? Jika dikatakan demikian maka jawabannya adalah: "Kamu telah berkata benar, tapi Allah menganugerahkan rahmat-Nya baginya, membelainya dgn rahmat-Nya dan membesarkannya dgn kasih, kelembutan dan kurnia-Nya; bila ia telah menahan tangannya dari hal-hal, dari dirinya, dari meminta kenikmatan-kenikmatan yg disisihkan bagi kehidupan dan dari menepis kemudharatan yg timbul darinya, maka ia menjadi seperti bayi yg tak berdaya dalam hal-hal dirinya, yg diasuh dgn kelembutan rahmat-Nya dan rezeki dari-Nya lewat tangan kedua orang tuanya, yg menjadi pembimbing dan penjaminnya."
Bila telah Dia jauhkan darinya segala ketertarikan dalam segala hal maka Dia membuat hati orang-orang condong kepadanya dan melimpahkan kasih dan sayang-Nya di hati orang-orang sehingga mereka lembut terhadapnya, condong kepadanya dan memperlakukannya dgn baik. Dgn begini segala selain Allah menjadi tak berdaya kecuali dgn kehendak-Nya dan menimpali rahmat-Nya, menghamba kepada-Nya di dunia ini dan di akhirat untuk menjaganya dari segala musibah. Firman Allah:
"Sesungguhnya pelindungku adalah Allah yg telah menurunkan Al-Kitab (Al-Quran) dan Dia melindungi orang-orang saleh."(QS 7:196)
Risalah 52
PenolakanNya adalah Anugerah, CobaanNya adalah Rahmat
Allah menguji sekelompok mukmin yg menjadi khalifah-khalifah-Nya dan yg memiliki ilmu ruhani agar mereka berdoa kepadanya dan Dia senang menerima doa-doa mereka. Bila mereka berdoa Dia senang menerima doa mereka agar bisa Dia anugerahi kemurahan haknya sebab ia memohon kepada Allah Yang Maha perkasa lagi Maha agung di kala mereka berdoa untuk menerima doa mereka, dan kadang-kadang tidak segera diterima, bukan karena ditolak. Maka sang hamba Allah mesti menunjukkan sikap baik di kala ditimpa musibah dan introspeksi diri apakah ia telah mengabaikan perintah atau melanggar hal-hal terlarang secara nyata atau tersembunyi atau menyalahkan ketentuan-Nya, karena lebih sering ia diuji sebagai hukuman atas dosa-dosa semacam itu. Bila musibah berlalu, dia mesti selalu berdoa, berendah diri, meminta maaf dan memohon kepada Allah, karena mungkin ujian itu dimaksudkan untuk membuatnya terus berdoa dan memohon; dan ia tak boleh menyalahkan Allah karena penundaan pengabulan doanya sebagaimana telah kami bicarakan.
Risalah 53
Syukur pada Tuhan adalah Yang Paling Utama
Mintalah kepada Allah keridhaan akan ketentuan-Nya atau kemampuan menyatu dalam kehendak-Nya. Sebab dalam hal ini terletak kesenangan dan keunikan besar di dunia ini, dan juga gerbang besar Allah dan sarana untuk dicintai-Nya. Barangsiapa dicintai-Nya maka Dia tak menyiksanya di dunia ini dan di akhirat. Dalam dua kebajikan ini terletak hubungan dgn Allah, kebersatuan dengan-Nya dan keintiman dengan-Nya. Jangan bernafsu berupaya meraih kenikmatan hidup ini, karena hal ini tak dimaksudkan bagimu. Bila hal itu tak dimaksudkan, maka bodohlah bila berupaya mendapatkannya, dan hal itu juga sangat dikutuk, sebagaimana dikatakan: "Di antara siksa paling besar ialah berupaya meraih yg tak ditentukan oleh-Nya."Dan bila hal itu dimaksudkan, hal itu hanyalah kesetiaan yg dibolehkan dan tersendiri dalam pengabdian, cinta dan kebenaran. Berupaya karena meraih segala selain Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha agung adalah syirik. Orang yg berupaya mendapatkan kenikmatan duniawi, tak tulus dalam cinta dan persahabatannya dgn Allah, siapa pun yg menyekutukan-Nya, maka ia pendusta.
Begitu pula, orang yg mengharapkan balasan bagi tindakannya adalah tak ikhlas. Keikhlasan ialah mengabdi kepada Allah hanya untuk memberi Rabubiyyah, yaitu sifat Allah yg mengatur alam semesta, pembuluhnya. Orang seperti itu mengabdi kepada-Nya karena Ia adalah Tuhannya dan patut diabdi, dan wajib baginya berbuat kebajikan dan patuh kepada-Nya, mengingat bahwa ia sepenuhnya milik-Nya, begitu pula gerak-geriknya, dan upayanya. Hamba dan segala miliknya milik Tuannya. Bukankah harus begitu? Sebagaimana telah kami nyatakan, semua pengabdian merupakan rahmat Allah dan kurnia-Nya atas hamba-Nya, karena Dialah yg memberinya daya bertindak dan daya mengatasinya.
Maka senantiasa bersyukur kepada-Nya lebih baik daripada meminta balasan dari-Nya atas kebajikanmu. Kenapa kau berupaya keras meraih kenikmatan duniawi bila telah kau lihat sejumlah besar orang yg bila kenikmatan duniawi berlimpah tak berkeputusan, mereka kian sedih, cemas dan haus akan hal-hal yg tak dimaksudkan bagi mereka? Bagian duniawi mereka nampak timpang, kecil dan menjijikkan,dan bagian duniawi yg lain nampak indah dan agung bagi hati dan mata mereka dan mulailah mereka berupaya meraihnya meski hal itu bukan hak mereka. Dgn begini, kehidupan mereka berlalu dan daya mereka menjadi sirna dan mereka menjadi tua, kekayaan mereka menjadi habis, tubuh mereka menjadi renta, kening mereka berkeringat dan catatan kehidupan mereka menjadi gelap oleh dosa-dosa mereka karena upaya keras mereka dalam meraih hak orang lain dan oleh pengabaian mereka terhadap perintah-Nya. Mereka gagal mendapatkannya, menjadi miskin dan merugi dalam kehidupan ini dan di akhirat, karena itu mereka berupaya mendapatkan pertolongan-Nya untuk mengabdi kepada-Nya. Mereka tak mendapatkan yg mereka upayakan tapi hanya memubazirkan kehidupan duniawi dan akhirat mereka; merekalah seburuk-buruk orang, sebodoh-bodoh orang, sekeji-keji orang dalam lahir dan batin.
Mereka menjadi ridha kepada takdir-Nya, puas dgn kurnia-Nya dan patuh kepada-Nya. Bagian duniawi mereka datang kepada mereka tanpa diupayakan dan dicemaskan; mereka menjadi dekat dgn Allah yg Maha Mulia, dan menerima dari-Nya segala yg mereka dambakan. Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yg ridha dgn ketentuan-Nya, yg meluruh dalam kehendak-Nya dan yg mendapatkan kesehatan dan kekuatan ruhani untuk melakukan yg dikehendaki-Nya.
Risalah 54
Mengabaikan Dunia menimbulkan Kebahagiaan Hati dan Jasmani
Barangsiapa ingin kehidupan akhirat maka wajib baginya mengabaikan dunia. Barangsiapa menghendaki Allah maka wajib baginya mengabaikan kehidupan akhirat. Ia harus mencampakkan kehidupan duniawinya demi Tuhannya. Selama keinginan, kesenangan dan upaya duniawi dan di dalam hatinya seperti makan, minum, berpakaian, menikah, tempat tinggal, kendaraan, jabatan, ketinggian dalam pengetahuan tentang lima pilar ibadah dan hadist dan penghafalan Al-Quran dgn segala bacaan, bahasa dan retorikanya, begitu pula keinginan akan lenyapnya kemiskinan, maujudnya kekayaan, berlalunya musibah, datangnya kesenangan, hilangnya kesulitan dan datangnya kemudahan - jika keinginan semacam itu masih bersemayam di dalam benak orang, maka itu tentu bukan seorang saleh, karena dalam segala hal ini ada kenikmatan bagi diri manusia dan keselarasan dgn kehendak jasmani, kesenangan jiwa dan kecintaannya. Hal-hal ini merupakan kehidupan duniawi, yg di dalamnya orang senang kebaikan, dan dengannya orang mencoba mendapatkan kepuasan dan ketentraman jiwa.
Orang harus berupaya meniadakan hal-hal ini dari hatinya dan mempersiapkan diri untuk meniadakan semua ini dan mensirnakannya dari jiwa, dan berupaya bersenang dalam peluruhan dan kemiskinan sehingga tiada lagi di dalam hatinya kesenangan mengisap biji korma sehingga pengabaiaannya terhadap kehidupan duniawi menjadi suci.
Bila ia telah menyempurnakannya, segala duka cita hatinya dan kecemasan benaknya akan sirna dan datanglah kepadanya kesenangan, kehidupan yg baik dan keintiman dgn Allah, sebagaimana dikatakan oleh Nabi saw.: "Mengabaikan dunia menimbulkan kebahagiaan hati dan jasmani."
Tapi selama masih ada di dalam hatinya kesenangan kepada dunia ini maka dukacita dan ketakutan tetap bersemayam di dalam hatinya, dan kehinaan mengiringinya, begitu pula keterhijaban dari Allah Yang Maha perkasa lagi Maha agung, oleh tabir tebal yg berlipat-lipat. Semua ini tak beranjak, kecuali melalui kebencian akan dunia ini dan pemutusan darinya.
Ia harus mengabaikan kehidupan akhirat agar tak menghendaki kedudukan dan derajat tinggi, pembantu-pembantu cantik, rumah-rumah, kendaraan, pakaian, hiasan, makanan, minuman, dan hal-hal lain sejenisnya, yg disediakan oleh Allah Yang Maha besar bagi hamba-hamba beriman-Nya.
Maka janganlah coba mendapatkan balasan atas suatu amalan dari Allah Yang Maha perkasa lagi Maha agung di dunia ini atau di akhirat. Dgn demikian Allah akan memberi balasan sebagai rahmat dan kemurahan-Nya. Maka Ia kan mendekatkan kepada-Nya dan melimpahkan kelembutan-Nya, dan Ia memperkenalkan diri-Nya dgn berbagai kurnia dan kebajikan, sebagaimana Ia berlaku terhadap para Nabi dan utusan-Nya, terhadap kekasih-kekasih-Nya. Maka setiap hari, dalam hidupnya, urusannya kian sempurna, dan di bawalah ia ke akhirat untuk mengecap yg tak terlihat oleh mata, yg tak terdengar oleh telinga, dan yg tak terpikirkan oleh manusia, yg sungguh tak dapat difahami dan tak dapat dijelaskan.
Risalah 55
Tanggalkan Hawa Nafsumu dan Mendekatlah
Kesenangan hidup dicampakkan tiga kali. Pada awalnya sang hamba Allah berada dalam kegelapan, kejahilan dan kekacauan, bertindak berdasarkan dorongan-dorongan alaminya dalam segala keadaan, tanpa sikap pengabdian terhadap Tuhannya dan tanpa memperhatikan hukum agama. Dalam keadaan begini, Allah memandangnya penuh kasih, maka dianugerahkan-Nya kepadanya pengingat dari sesamanya, seorang hamba saleh-Nya. Dan kawan pengingat ini juga terdapat dalam dirinya sendiri. Kedua pengingat ini jaya atas dirinya dan peringatan menimbulkan pengaruh pada jiwanya. Maka noda yg ada padanya seperti memperturutkan kehendak dirinya dan penentangannya terhadap kebenaran, sirna. Maka condonglah ia kepada hukum Allah dalam segala gerak-geriknya.
Menjadilah sang hamba Allah itu seorang Muslim di hadapan hukum-Nya, lepas dari alamnya, membuang hal-hal haram duniawi, begitu pula hal-hal yg meragukan dan pertolongan orang. Maka ia melakukan hal-hal yg halal dalam makan, minum, berpakaian, menikah, bertempat tinggal dan lain-lain: dan semua ini sangat lumrah bagi kesehatan jasmani dan untuk mendapatkan kekuatan dalam mengabdi kepada-Nya, agar ia bisa memperolehi bagian dan orang tak bisa melampauinya - takkan luput dari kehidupan duniawi ini sebelum meraih dan menyempurnakannya.Maka ia berjalan di atas jalur kebenaran dalam keadaan hidupnya shg hal ini membawanya ke maqam tertinggi wilayat dan menjadikannya pembukti kebenaran dan orang pilihan, yg memiliki pernyataan yg kokoh, yg haus akan hakikat yaitu Allah. Maka ia makan dgn perintah-Nya, dan (sang salik) mendengar suara Allah di dalam dirinya berkata, "Campakkanlah dirimu dan campakkanlah kesenangan dan ciptaan, jika kau menghendaki sang Pencipta. Lepaskanlah sepatu dunia dan akhiratmu. Lenyaplah dari segala kemaujudan, hal-hal yg akan maujud dan segala dambaan. Lepaslah dari segala suatu. Berbahagialah dgn Allah, campakkanlah kesyirikan dan ikhlaslah dalam kehendak. Mendekatlah kepada-Nya dgn hormat dan jangan memandang kehidupan akhirat, kehidupan duniawi, orang-orang dan kesenangan." Bila ia meraih maqam ini, maka ia menerima pakaian kemuliaan dan aneka kurnia. Dikatakan kepadanya, pakailah dirimu dgn pakaian rahmat dan kurnia, jangan berlaku buruk menilai dan menaolak keinginan-keinginan, karena penolakan terhadap kurnia raja sama dgn menekannya dan meremehkan kekuasaannya. Maka ia terselimuti kurnia dan anugerah-Nya tanpa berupaya.
Sebelumnya ia terkuasai oleh keinginan-keinginan dan dorongan-dorongan dirinya. Maka dikatakan kepadanya, "Selimutilah dirimu dgn rahmat dan kurnia Allah." Maka baginya empat keadaan, dalam meraih kenikmatan dan kurnia.
Yang pertama ialah dorongan alami, ini tak halal.
Yang kedua ialah hukum syari’at, ini mubah dan absah.
Yang ketiga adalah perintah batin, ini adalah keadaan para wali dan pencampakan keinginan.
Yang keempat ialah kurnia Allah, ini adalah keadaan lenyapnya tujuan dan tercapainya badaliyyah dan keadaan menjadi objek-Nya, yg berdiri di atas ketentuan-Nya; ini adalah keadaan ‘ilmu dan keadaan memiliki kesalehan,dan tak seorang pun bisa disebut saleh, jika ia belum meraih maqam ini. Hal ini sesuai dgn firmanNya: "Sesungguhnya Waliku adalah Allah yg telah menurunkan Kitab dan Ia adalah Wali orang-orang saleh."(QS 7:196).
Menjadilah ia seorang hamba yg tertahan dari menggunakan sesuatu,memanfaatkan diri dan dari menolak sesuatu yg mudharat baginya.Ia menjadi seperti bayi di tangan pengasuh dan seperti mayat yg sedang dimandikan.Maka Allah membesarkannya tanpa kehendaknya dan tanpa upayanya, ia lepas dari segala hal ini, tak berkeadaan atau bermaqam, tak berkehendak melainkan berada di atas ketentuan-Nya,yg kadang menahan, kadang memudahkannya,kadang membuatnya kaya dan kadang membuatnya miskin. Ia tak punya pilihan, dan tak menghendaki berlalunya keadaan dan perubahannya.Sebaliknya,ia menunjukkan keridhaan abadi. Inilah puncak keadaan ruhani yg dicapai oleh para badal dan wali.
Risalah 56
Singkirkan Hawa Nafsu dari Dadamu maka Belenggu akan Lepas dari Kakimu
Bila hamba Allah telah lepas dari ciptaan, keinginan, diri, tujuan dan kehendak akan dunia dan akhirat, maka ia tak menghendaki sesuatu pun selain Allah yg Maha perkasa lagi Maha agung, dan segala suatu sirna dari hatinya. Maka ia menjadi pilihan-Nya, dicintai oleh ciptaan, dekat kepada-Nya dan menerima kurnia-Nya melalui rahmat-Nya. Dibukakan-Nya baginya pintu-pintu kasih dan janji-Nya, dan Ia tak pernah menutup pintu-pintu itu terhadapnya. Maka sang hamba memilih Allah Yang Maha kuasa lagi Maha agung, berkehendak melalui kehendak-Nya, ridha dgn keridhaan-Nya, melaksanakan perintah-Nya dan tak melihat suatu kemaujudan pun selain kemaujudan-Nya yang Maha kuasa lagi Maha agung. Maka Allah menjanjikan kepadanya dan tak memenuhi hamba-Nya dan yg didambakan sama hamba dalam hal ini tak datang kepadanya karena keterpisahan lenyap dgn lenyapnya kehendak, tujuan dan pengupayaan kenikmatan. Maka keseluruhan dirinya menjadi kehendak Allah Yang Maha kuasa lagi Maha agung. Maka tiada janji atau pun pengingkaran janji dalam hal ini karena hal ini ada pada orang yg berkeinginan. Pada maqam ini janji Allah Yang Maha kuasa lagi Maha agung terhadap orang semacam itu, dapat digambarkan dgn contoh seorang yg berkehendak di dalam dirinya sendiri untuk melakukan sesuatu, lalu berubah kehendak terhadap sesuatu yg lain.Begitu pula Allah Yang Maha kuasa lagi Maha agung telah menurunkan kepada Nabi saw wahyu-wahyu yg membatalkan dan yg terbatalkan, sebagaimana firman-Nya: "Ayat yg kami hapuskan atau jadikan lupa,Kami ganti dgn yg lebih baik atau yg sebanding dgnnya. Tidakkah kau tahu bahwa Allah berkuasa atas segala-nya?"" (QS.2:106)
Ketika Nabi saw. lepas dari keinginan dan kehendak kecuali pada saat-saat tertentu sebagaimana telah disebutkan oleh Allah di dalam Al-Quran Suci, sehubungan dgn tawanan perang Badar, sebagai berikut:
" Kamu menghendaki harta benda dunia sedang Allah menghendaki bagimu akhirat; dan Ia Maha kuasa lagi Maha bijaksana. Andai bukan karena ketetapan Allah yg terdahulu niscaya akan menimpamu siksaan yg besar atas yg kau lakukan."(QS.8:67-68)
Nabi saw adalah kekasih Allah, yg Ia senantiasa menempatkannya pada ketentuan-Nya dan memberikan kendali-Nya kepadanya; maka Ia menggerakkannya di tengah-tengah ketentuan-Nya dan senantiasa memperingatkannya dgn firman-firman-Nya:
"Tidakkah kau tahu bahwa Allah Mahakuasa atas segalanya?" (QS.2:106) Dgn kata lain kamu berada di samudera ketentuan-Nya, yg gelombangnya mengombang-ambingkanmu kesana kemari. Dgn demikian tiada maqam lg setelah puncak kewalian dan badal selain maqam Nabi.
Risalah 57
Qadha’ Adalah Pemenang dan Ajal adalah Penuntut
Segala pengalaman spiritual merupakan pengekangan sebab sang wali diperintahkan untuk menjaga hal-hal itu. Segala yg diperintahkan untuk dijaga menimbulkan pengekangan. Berada dalam ketentuan Allah merupakan kemudahan sebab yg diperintahkan hanyalah menempatkan diri dalam ketentuan-Nya. Sang wali tak boleh bersitegang dalam masalah ketentuan-Nya. Ia harus selaras dan tak boleh bertentangan dgn segala yg terjadi pada dirinya, entah manis atau pahit. Pengalaman itu terbatas maka dari itu diperintahkan untuk menjaga pengalaman itu. Di lain pihak, kehendak Allah, yg merupakan ketentuan, tak terbatas.
Isyarat bahwa hamba Allah telah mencapai kehendak-Nya dan kemudahan ialah diperintahkan-Nya ia untuk meminta kenikmatan-kenikmatan setelah diperintahkan untuk mencampakkannya dan menjauh darinya sebab bila ruhaninya hampa akan kenikmatan dan yg tinggal dalam dirinya hanyalah Tuhan maka ia dimudahkan dan diperintahkan untuk meminta, mendambakan dan menginginkan hal-hal yg menjadi haknya dan yg bisa ia peroleh melalui permintaannya akan hal-hal itu sehingga harga dirinya di mata Allah, kedudukannya dan kurnia Allah Yang Maha perkasa lagi Maha agung dgn diterimanya doanya, menjadi kenyataan.Menggunakan lidah untuk meminta kenikmatan sangat menunjukkan hal setelah pengekangan dan keluar dari segala pengalaman, kedudukan dan dari upaya keras menjaga batas.
Bila ditolak bahwa lenyapnya kesulitan dalam menjaga hukum ini menyebabkan ateisme dan keluar dari Islam sebagaimana firman-Nya:
"sembahlah Tuhanmu sampai keyakinan datang kepadamu." (QS.15:99)
Jawabku ialah bahwa hal ini tak berarti begitu dan takkan begitu tetapi bahwa Allah amat pemurah dan wali-Nya amat dicintai-Nya sehingga Dia tak dapat mengizinkannya untuk menduduki suatu kedudukan hina di mata hukum dan agama-Nya.Sebaliknya, Dia menyelamatkannya dari semua itu, menjauhkannya dari semua itu, melindunginya dan menjaganya di dalam batas-batas hukum. Maka ia terlindung dari dosa dan senantiasa berada di dalam batas-batas hukum tanpa upaya dan perjuangan dari dirinya sedang ia tak sadar akan keadaan ini dikarenakan oleh kedekatannya kepada Tuhannya. Allah berfirman:
"Demikianlah agar Kami palingkan darinya kemungkaran dan kekejian; sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yg terpilih." (QS.12:24)
"Sesungguhnya terhadap hamba-hamba-Ku kau tak berkuasa." (QS.15:42)
"Kecuali hamba-hamba Allah yg disucikan." (QS.37:40)
Duhai orang yg malang! Orang semacam itu dijauhkan oleh Allah dari dosa dan ia adalah curahan-Nya. Dia memeliharanya dalam pangkuan kedekatan dan kasih-sayang-Nya.Bagaimana bisa si iblis mendekatinya.Bagaimana bisa kekejian mendekatinya.Semoga kekejian terhancurkan oleh daya dan kelembutan sempurnanya!Semoga Dia melindungi kita dgn perlindungan dan kasih-sayang sempurna shg kita senantiasa mampu menjauhkan diri dari dosa-dosa.Semoga Dia memelihara kita dgn rahmat-rahmat dan kurnia-kurnia sempurna-Nya melalui kasih-sayang-Nya!
Risalah 58
Tiada Cahaya kecuali dari Sumbernya
Butalah terhadap segala hal. Tutuplah matamu terhadap sesuatu pun dari hal-hal itu. Bila kau lihat sesuatu pun dari hal-hal itu maka kurnia dan kedekatan Allah SWT akan tertutup bagimu. Oleh karena itu tutuplah segala hal dgn kesadaranmu akan keesaan Allah dan dgn peniadaan diri. Maka akan tampak oleh mata hatimu hal Allah SWT dan kau akan melihatnya dgn kedua mata hatimu ketika hal itu tersinari oleh nur hatimu, nur imanmu dan nur keyakinan teguhmu. Pada saat itu cahaya ruhanimu akan mewujud pada lahiriahmu bak cahaya sebuah lampu di malam pekat yg mencuat melalui lubang-lubangnya sehingga sisi luar rumah menjadi cerah oleh cahaya dari dalam. Maka diri dan anasir tubuh akan merasa ridha dgn janji Allah dan kurnia-Nya.
Maka dari itu, kasihanilah diri kita. Jangan berbuat aniaya terhadapnya. Jangan campakkan ia di kegelapan ketak-acuhan dan kebodohanmu agar ia tak melihat ciptaan, daya, perolehan, sarana dan tak bertumpu pada hal-hal itu. Sebab jika kau lakukan hal itu maka segala hal akan tertutup bagimu dan kurnia Allah akan tertutup pula bagimu lantaran kesyirikanmu. Nah, bila telah kau sadari keesaan-Nya, telah kau lihat kurnia-Nya, kau hanya berharap kepada-Nya dan telah kau butakan dirimu terhadap segala selain-Nya maka Dia akan membuatmu dekat dgn Diri-Nya, akan mengasihimu, akan menjagamu, akan memberimu makanan, minuman dan perawatan, akan membuatmu bahagia, akan menganugerahimu kurnia-kurnia, akan menolongmu, akan menjadikan kau penguasa, akan menafikanmu dari ciptaan serta dari dirimu sendiri, dan akan membuatmu tiada sehingga kau takkan melihat baik kemiskinanmu maupun kekayaanmu.
Risalah 59
Bersyukur adalah Pengikat Nikmat
Jika kau ditimpa musibah, berupayalah bersabar - ini merupakan hal yg rendah - dan bersabarlah, ini merupakan hal yg lebih tinggi dari yang lain. Mintalah agar kau bisa ridha dgn takdir-Nya, bersesuaianlah dgn kehendak-Nya, dan akhirnya luruhlah di dalam kehendak-Nya; inilah keadaan para badal dan ruhaniwan, orang yg tahu perihal Allah yang Maha kuasa lagi Maha agung. Bila kau mendapat rahmat, bersyukurlah, baik melalui lidah, hati maupun anasir tubuh.
Bersyukurlah lidah berupa pengakuan bahwa rahmat berasal dari Allah dan penghindaran dari menisbahkannya kepada orang lain, yg melalui tangan-tangan mereka rahmat sampai. Sebab kau sendiri dan mereka hanyalah sarana-sarana sampainya rahmat. Pemberi dan pencipta sejati rahmat yaitu Allah, Yang Maha kuasa lagi maha agung. Maka Dia lebih patut disyukuri daripada yg lain. Misal, orang tak memandang budak yg membawa sebuah hadiah, sebagai pengirim hadiah itu, tetapi orang memandang pengirimnya adalah tuannya. Allah berfirman tentang orang yg tak bersikap selayaknya:"Mereka hanya tahu dhahirnya dunia sedang mengenai akhirat mereka sungguh lalai." (QS 30:7)
Barangsiapa memandang lahiriah dan penyebab sedang pengetahuannya tak melebihi ini, adalah jahil dan rusak fikiran. Istilah fikiran' digunakan untuk orang yg memahami akhir sesuatu. Bersyukurnya hati terletak pada keyakinan kukuh bahwa segala rahmat, kesenangan dan milikan yg kau punyai, berasal dari Allah Yang Maha kuasa lagi Maha agung, bukan dari selain-Nya. Dan rasa-syukurmu melalui lidah menyatakan isi hatimu, sebagaimana firman-Nya:
"Dan apa pun nikmat yang ada padamu berasal dari Allah." (QS 16:53)
"Dan (Ia) telah menyempurnakan nikmat-Nya padamu lahir dan batin." (QS 31:20)
"Dan jika kamu menghitung nikmat-nikmat Allah kamu takkan mampu menghitungnya." (QS 14:34)
Nah, dgn semua pernyataan ini, maka tiada pemberi kurnia selain Allah. Dan bersyukurnya anasir tubuh terletak pada penggunaan anasir tubuh untuk mematuhi perintah-perintah-Nya guna menjauhi dari ciptaan-Nya. Maka janganlah menimpali makhluk, sebab di situ terdapat penentangan terhadap Allah; ciptaan termasuk dirimu sendiri, keinginanmu, maksudmu, kehendakmu dan segalanya. Patuhlah kepada Allah sepatuh-patuhnya. Jika kau bertindak lain, berarti kau menyimpang dari jalan lurus, menjadi aniaya, berperilaku tanpa perintah Allah yg diturunkan bagi hamba-hamba beriman-Nya, dan mengikuti jalan yg bukan jalan para saleh. Allah Yang Maha kuasa lagi Maha agung berfirman:
"Barangsiapa tak menghukumi dgn apa yg diturunkan Allah maka mereka itulah orang-orang yg zalim." (QS 5:45)
Dgn begitu, kau menuju neraka, yg bahan bakarnya manusia dan batu. Bila kau tak tahan demam, untuk satu jam, di dunia ini, maka bagaimana kau bisa tahan, untuk selamanya, neraka bersama penghuni-penghuninya? Menjauhlah, menjauhlah; segeralah, segeralah, berlindunglah kepada Allah.
Jagalah keadaan-keadaan di atas dgn segala kondisinya, sebab kau tak bisa lepas dari keduanya sepanjang hayat --baik keadaan ditimpa musibah maupun keadaan bahagia. Bersabarlah dan bersyukurlah dalam kedua keadaan itu, sesuai dgn yg telah kuterangkan kepadamu. Nah, jangan mengeluh, bila ditimpa musibah, kepada sesamamu, jangan menunjukkan kegundahanmu kepada siapa pun, jangan salahkan Tuhanmu di dalam benakmu, dan jangan ragukan kebijaksanaan dan pilihan-Nya akan yg terbaik bagimu di dalam kehidupanmu di dunia dan di akhirat. Dan jangan lari kepada orang guna mendapatkan jalan keluar, sebab, dgn begitu, kau berarti menyekutukan-Nya.
Tak satu pun berhak atas milikan-Nya, tak satu pun mampu memberikan mudharat, manfaat, atau menjauhkan kesulitan, menyebabkan sakit dan bencana, menyembuhkan dan memberi sesuatu kebaikan, kecuali Dia. Jangan terikat oleh ciptaan, baik secara lahiriah maupun batiniah, sebab mereka takkan menguntungkanmu. Bersabar dan ridhalah selalu kepada Allah, dan luruhlah ke dalam kehendak-Nya.
Jika rahmat tercabut darimu, maka wajib bagimu minta tolong kepada-Nya, menunjukkan kerendah-dirian, mengakui dosa-dosamu, mengeluh kepada-Nya akan kejahatan dirimu dan akan penjauhanmu dari kebenaran, mengesakan-Nya, mengakui rahmat-rahmat-Nya dan menyatakan keselarasanmu, sampai berakhirnya musibah dan berganti dgn kurnia-Nya, kemudahan dan kebahagiaan, sebagaimana hal itu terjadi pada diri Nabi Ayyub; bak berlalunya gelapnya malam dan datangnya cerahnya siang, dan berlalunya dingin musim dingin, diganti sepoi musim semi dgn aroma harumnya. Sebab bagi segalanya ada pertentangan dan akhir. Maka kesabaran adalah kuncinya, awalnya, akhirnya dan jaminan kebahagiaannya. Inilah yg terungkap dalam Sunnah Nabi saw. "Kesabaran adalah keseluruhan iman."
Ambillah pelajaran dari yg telah kusebutkan kepadamu, jika Allah Yang Maha mulia menghendaki, maka kau akan terbimbing.
Risalah 60
Keputusan Allah itu lebih baik Bagimu daripada Keinginanmu Sendiri
Awal kehidupan ruhani berupa keterlepasan dari kedirian, keberadaan dalam arena hukum, dan kembali kepada kedirian setelah mampu menjaga hukum. Lepaslah dari kedirian, semisal makan, minum, berpakaian, menikah, tempat-tinggal, dan kecenderungan-kecenderungan dan masuklah ke dalam hukum. Ikutilah Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya, sebagaimana Allah berfirman:
"Ambillah yg dibawa nabi kepadamu, dan hindarilah yg dilarangnya."
"Katakanlah: jika kau mencintai Allah, ikutilah aku, maka Allah akan mencintaimu." (QS.3:31)
Bila telah terlepas dari kedirian dan ketakpatuhan, baik lahir maupun batin, maka yg ada padamu hanyalah keesaan Allah, dan yg ada pada lahiriahmu hanyalah kepatuhan dan pengabdian kepada Allah. Hal ini kemudian menjadi sikap, pakaian, gerak dan diammu, di kala malam, siang, dalam perjalanan, di rumah, dalam kesulitan, dalam kemudahan, dan dalam segala keadaan. Maka dibawalah kau ke lembah-Nya, dan dikendalikan oleh-Nya.
Berlepaslah dari segala upaya, perjuangan dan dayamu, maka dibawa kepadamu yg pena tak kuasa menuliskannya, dan kamu menjadi begini, terlindung dan terselamatkan di tengah-tengahnya. Hukum terlestarikan padanya, kesesuaian dgn kehendak-Nya diperoleh di dalamnya, dan hukum takkan dilanggar. Allah berfirman:
"Sesungguhnya telah Kami turunkan pengingat dan sesungguhnya Kami pula yg menjaga." (QS.15:9)
"Demikianlah, agar Kami palingkan darinya kemungkaran dan kekejian; sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba pilihan Kami." (QS.12:24)
Maka perlindungan Allah menyertaimu, hingga kau menghadap-Nya dgn kasih-Nya.
Risalah 61
Setiap Raja Memiliki Suaka maka Hati-hatilah terhadap Suaka Allah
Setiap mukmin ragu dan waspada di kala menerima sesuatu, hingga hukum membolehkannya, sebagaimana Nabi Suci bersabda:
"Sesungguhnya si mukmin itu waspada sedang si munafik menyambar (segala yg datang kepadanya)."
"Seorang mukmin ragu-ragu, campakkanlah segala penyebab keragu-raguan, dan ambillah segala yg tak menimbulkan keragu-raguan."
Seorang mukmin ragu-ragu terhadap segala makanan, minuman, pakaian, perkawinan dan segala hal, sebelum dikukuhkan oleh hukum bila ia saleh; dikukuhkan oleh perintah batin bila ia seorang wali; dikukuhkan oleh ma'rifat bila ia seorang badal dan ghauts; dikukuhkan oleh tindakan-Nya bila ia dalam keadaan fana.
Lalu datanglah keadaan, yg di dalamnya didapat segala yg datang kepada orang, perintah batin atau ma'rifat; tapi bila hal-hal ini bertentangan dgn keadaan sebelumnya, yg di dalamnya berkuasa keragu-raguan dan pemudahan, sedang pada keadaan kedua, berkuasa penerimaan dan penggunaan hal-hal yg dibutuhkan.
Datanglah keadaan ketiga, yg di dalamnya penerimaan dan penggunaan hal-hal yg diperlukan menjadi rahmat. Inilah hakikat ke-fana-an. Pada keadaan ini, sang mukmin menjadi kebal terhadap segala bencana dan pelanggaran hukum, dan segala kejahatan terjauhkan darinya, sebagaimana Allah yang Maha mulia berfirman: "Demikianlah, agar Kami palingkan darinya kemungkaran dan kekejian; sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba pilihan Kami." (QS.12:24)
Maka sang hamba menjadi terlindung dari segala pelanggaran hukum. Segala yg datang kepadanya telah terbersihkan dari segala kesulitan di dunia dan akhirat dan demikian selaras dgn kehendak dan ridha-Nya. Tiada keadaan melebihi ini. Inilah tujuannya. Inilah yg dimaksudkan bagi kepala-kepala para wali besar, yg tersucikan, yg memiliki hikmah - orang yg telah mencapai ambang pintu kenabian.
Risalah 62
Apakah Setelah Cinta Ada Tuntutan?
Sungguh aneh, kenapa sering berkata, si fulan dekat kepada Allah, si fulan teranugerahi, si fulan menjadi kaya, si fulan menjadi miskin, si fulan senantiasa sehat, si fulan sakit, si fulan mulia, si fulan hina, si fulan terpuji, si fulan tercela, si fulan terpercaya dan si fulan tak bisa dipercaya! Tidakkah kau tahu, bahwa Dia Esa, yg mencintai keesaan, dan mencintai yg hanya mencintai-Nya? Jika Dia mendekatkanmu kepada-Nya melalui selain Diri-Nya, cintamu kepada-Nya menjadi tak benar dan sia-sia. Akibatnya, cinta kepada-Nya melalui di dalam hatimu menjadi rusak. Maka Dia menahan tangan orang lain dari membantumu dan lidah mereka dari memujimu dan kaki mereka dari mengunjungimu agar mereka tak memalingkanmu dari-Nya. Sudah dengarkah kamu sabda Nabi Suci saw?”Hati mencintai yg berbuat kebaikan dan benci kepada yg berbuat keburukan.”
Maka Dia tahan orang dari berbuat kebaikan kepadamu hingga kau sadari keesaan-Nya, mencintai-Nya dan sepenuhnya menjadi milik-Nya, sehingga kau tak melihat kebaikan kecuali yg berasal dari-Nya, kau lepas dari ciptaan, kedirian dan dari segala selain Allah.
Melimpahlah kurnia dan pujian kepadamu hingga kau termuliakan di dunia dan di akhirat.
Janganlah berlaku buruk: Lihatlah yg melihatmu, perhatikan yg memperhatikanmu, cintailah yg mencintaimu, ulurkanlah tanganmu kepada yg menjagamu dari kejatuhan, yg mengeluarkanmu dari kegelapan kejahilanmu, yg menyelamatkanmu dari kehancuran, yg mensucikanmu dari noda dan kekejian, yg akan melepaskanmu dari kebusukan iri, dari kedirian, dan teman-teman sesatmu, dari penghalang jalan menuju Allah, dan dari segala yg hina dan mempesona.
Berapa lama kau 'kan jijik dgn hewanimu, ciptaan, ketakpatuhan, dunia, kehidupan setelah mati, dan segala selain Allah; Kenapa kau begitu jauh dari sang Pencipta segalanya, yg telah memaujudkan segalanya, yg awal dan yg akhir, tempat, kembali, yg milik-Nyalah hati dan kesenangan jiwa, yg memberi kurnia?
Risalah 63
Cabang Makrifat
Kuberkata dalam mimpi: "Wahai yg menyekutukan Tuhan di dalam benak dgn diri sendiri, dalam sikap lahiriah dgn ciptaan-Nya dan dalam tindakan dgn kedirian!" Bertanyalah seseorang di sampingku, "Pernyataan apakah ini?" "Itulah suatu pengetahuan ruhani," jawabku
Risalah 64
Matikan Egomu hingga Engkau Hidup
Suatu hari, suatu masalah mengusik benakku Jiwaku tertekan. Kuberkata: "Aku menginginkan kematian yg di dalamnya tiada kehidupan dan kehidupan yg di dalamnya tiada kematian."
Aku ditanya, kematian apakah yg di dalamnya tiada kehidupan dan kehidupan apakah yg didalamnya tiada kematian.Kematian yg tiada memiliki kehidupan ialah kematianku dari sesamaku sehingga aku tak melihat manfaat dan mudharat mereka, dan kematianku dari diriku, dari keinginanku, dari tujuanku di dalam kehidupan duniawi dan kehidupan setelah matiku sehingga aku tak berada di dalam kehidupan setelah matiku, sehingga aku tak berada di dalam ini semua. Kehidupan yg tak memiliki kematian ialah kehidupanku dgn kehendak-Nya, sehingga aku tak maujud di dalamnya, dan kematianku di dalamnya ialah kemaujudanku dengan-Nya.
Karena aku telah mengerti maka hal ini telah menjadi tujuan paling muliaku.
Risalah 65
Tanda Cinta adalah Ridha
Kenapa marah kepada Tuhan karena doa-doa belum diterima? Kau bilang bahwa tak boleh meminta kepada orang dan diperintahkan meminta kepada-Nya tapi pintamu kepada-Nya tak dikabulkan-Nya. Jawabku: Bebas atau terikatkah engkau? Jika kau berkata bahwa kau seorang bebas, berarti kau tidak beriman. Jika kau bilang bahwa kau seorang budak, kubertanya, salahkah Tuhan menunda penerimaan doamu. Ragukah kau akan kearifan dan kasih-Nya kepadamu dan kepada seluruh ciptaan, dan akan pengetahuan-Nya tentang segala hal mereka? Kau salahkankah Dia? Jika kau tak menyalahkan-Nya dan menerima kearifan-Nya dalam menangguhkan penerimaan doamu maka wajib bagimu bersyukur kepada-Nya, sebab Ia telah memilihkan yg terbaik bagimu. Jika kau salahkan Dia, berarti kau tak beriman, sebab kau menisbahkan kepada-Nya ketak-adilan dan mustahil Dia tak adil. Ingat, Dia adalah Pemilikmu, Pemilik segalanya. Sang pemilik berkuasa penuh atas milik-Nya. Maka "Ketak-adilan" tak layak bagi-Nya. Sebab ketak-adilan ialah keikut-campuran dalam milikan orang lain tanpa seizin pemiliknya.
Nah, jangan kesal terhadap-Nya karena kehendak-Nya yg mewujud melaluimu meski tak kau sukai dan secara lahiriah merugikanmu maka wajib bagimu bersyukur, bersabar, ridha kepada-Nya, dan mencampakkan kekesalan dan ketak-patuhan benak dan kedirianmu - hal-hal yg akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Wajib pula bagimu senantiasa berdoa, berbaik sangka terhadap-Nya, menanti saat-saat yg baik, yakin akan janji-Nya, menunjukkan sikap baik terhadap-Nya, bersesuaian dgn perintah-Nya, senantiasa mengesakan-Nya, segera melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauh dari melakukan hal-hal yg dilarang-Nya.
Dan, salahkan dirimu sendiri, yg berbuat kekejian dan ketak-patuhan terhadap-Nya, hal ini lebih baik. Nisbahkanlah ketak-adilan kepada dirimu sendiri, hal ini lebih layak. Waspadalah akan keserasian dgn diri sebab hal ini adalah musuh Allah dan kawan musuhmu yakni si Iblis nan terlaknat.
Takutlah kepada Allah, takutlah kepada Allah. Waspadalah, waspadalah. Kutuklah dirimu sendiri, nisbahkanlah ketak-adilan kepadanya, bacakanlah kepadanya firman Allah:
"Adakah Allah menyiksamu jika kamu bersyukur lagi beriman?" (QS.4:147)
"Itu dikarenakan perbuatan tanganmu sebelumnya, sesungguhnya Allah tidak menzalimi hamba-hamba-Nya." (QS.3:182)
"Sesungguhnya Allah tak menzalimi manusia tapi merekalah yg menzalimi diri mereka sendiri." (QS.10:44)
Bacakanlah bagi dirimu kata-kata ini, ayat-ayat lain Al-Quran dan sabda-sabda Nabi. Berperanglah melawan dirimu demi Allah. Jadilah komandan pasukan-Nya sebab kedirianmu adalah musuh terbesar di antara musuh-musuh terbesar Allah.
Risalah 66
Burung Akan Hinggap di Tempat Biji Disebarkan
Jangan berkata: "Aku tak mau memohon sesuatu kepada Allah sebab bila yg kumohon itu telah ditentukan bagiku, tentu akan datang kepadaku, entah diminta atau tidak. Bila hal itu bukan bagianku, Dia takkan memberikannya kepadaku, walau kuminta." Jangan. Mintalah kepada-Nya segala yg kau inginkan asalkan yg kau minta itu tak terlarang dan tak merusak sebab Allah telah memerintahkan kita untuk memohon kepada-Nya. Dia berfirman:"Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kukabulkan doamu." (QS.40:60)"Mintalah Kepada-Nya kurnia-Nya." (QS.4:32)
Nabi bersabda:
"Mintalah kepada Allah dgn penuh keyakinan bahwa doamu diterima."
"Berdoalah kepada Allah dgn kedua tapak tanganmu."
Masih banyak sabda Nabi seperti ini. Jangan berkata: "Sesungguhnya aku telah memohon kepada-Nya tapi Ia tak mengabulkannya, maka kutakkan lagi memohon sesuatu pun kepada-Nya." Berdoalah selalu kepada-Nya. Jika sesuatu telah ditentukan bagimu, Dia anugerahkan sesuatu itu kepadamu setelah kau minta. Maka hal itu akan menambah keimananmu akan keesaan-Nya, akan menolongmu menjauh dari meminta kepada orang, kepada ciptaan, dan dari berpaling kepada-Nya dalam segala keadaan, dan menolongmu meyakini bahwa segala kebutuhanmu terpenuhi oleh-Nya.
Jika sesuatu tak ditentukan bagimu, Dia mencukupimu dan membuatmu ridha kepada-Nya meski kau miskin dan sakit, Dia membuatmu senang dgn kesulitan yg menimpamu itu. Bila berhutang, Dia buat hati si pemberi hutang tersebut lembut terhadapmu hingga kau lunasi hutang itu. Bila permohonanmu tak dikabulkan di dunia ini, Dia akan memberimu di akhirat.
Dia takkan mengecewakan pendoa kepada-Nya di dunia ini dan di akhirat. Nabi bersabda bahwa si mukmin akan melihat pada catatan amalnya, pada Hari Pengadilan, amal-amal yg tak dilakukannya. "Tahukah kamu amal-amal itu?" "Aku tak tahu," jawab si mukmin. Maka dikatakan kepadanya: "Sesungguhnya, amal-amal itu adalah balasan bagi permohonanmu di dunia, sebab dalam berdoa kepada Allah Maha kuasa lagi Maha agung, kau senantiasa mengingat-Nya, mengEsakan-Nya, menempatkan sesuatu pada tempatnya, berbuat kebajikan kepada sesamamu, tak menisbahkan daya kepada diri sendiri dan tak pongah. Semua ini menjadi amal-amal saleh, untuk itulah ada balasannya dari Allah Yang Maha kuasa lagi Maha agung."
Risalah 67
Sapihlah Egomu Sebelum Ia Mencakarmu
Bila kau berupaya melawan dan berhasil mengatasi diri maka Allah membangkitkannya kembali dan ia menuntut darimu pemuasan keinginan, baik yg diharamkan maupun yg dihalalkan, hingga kau berupaya lagi mengatasi diri, sampai pahala tertulis bagimu begitu kau berupaya kembali. Inilah makna sabda Nabi saw:"Kita telah kembali dari jihad kecil dan menuju jihad besar."Ia berkata bahwa kembali berupaya mengatasi diri senantiasa terjadi. Dan inilah makna firman Allah:"Sembahlah Tuhanmu hingga keyakinan (kematian) datang kepadamu." (QS.15:99)
Allah telah memerintahkan Nabi-Nya untuk menyembah-Nya. Hal ini bertentangan dgn diri. Sebab semua pengabdian ditolak oleh diri yg menginginkan sebaliknya hingga datang keyakinan (kematian). Bila ditanya: "Bagaimana mungkin diri Nabi menolak pengabdian padahal ia tak punya kedirian?" Allah berfirman: "Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yg diwahyukan" (QS.53:4)
Ia mengalamatkan kepada nabi-Nya kata-kata ini untuk mengukuhkan hal ini dan berlaku pula bagi pengikut-pengikutnya hingga hari Kiamat. Dia menganugerahi nabi-Nya daya mengatasi diri hingga hal ini tak merugikannya, tak pula mendorongnya berupaya mengatasi diri. Inilah pembeda antara dia dan pengikut-pengikutnya. Bila seorang mukmin teguh dalam upaya spiritual hingga datang keyakinan dan menemui Tuhannya dgn pedang terhunus berlumuran darah kedirian maka Ia memberinya Surga yg dijaminkan-Nya baginya dgn firman-Nya:
" Dan orang-orang yg takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari hawa nafsunya maka Surgalah tempat tinggalnya." (QS.79:40-41)
Nah, bila Dia telah memasukkannya ke dalam surga, maka Ia menjadikan surga itu tempat tinggal, tempat beristirahat dan tempat kembalinya, yg membuatnya aman dari pemalingan kepada duniawi; dan Ia senantiasa melimpahkan baginya dari hari ke hari dan dari jam ke jam, rezeki dan akan mengurniainya segala macam pakaian dan hiasan yg abadi, sebagaimana Ia memperbaharui di dunia ini setiap hari setiap jam dan setiap detik, perjuangan melawan kedirian.
Sedang orang kafir, orang munafik dan pendosa, bila mereka telah berhenti berjuang melawan kedirian mereka di dunia ini, kemudian mengikuti, bersekutu dgn setan dan berbaur dgn aneka macam kekafiran, kemusyrikan dan hal-hal seperti itu sampai kematian datang kepada mereka, sebelum mereka menjalankan Islam dan bertaubat, maka Allah memasukkan mereka ke dalam neraka yg disediakan bagi orang-orang kafir, sebagaimana firman-Nya:"Peliharalah dirimu dari neraka, yg bahan bakarnya manusia dan batu yg disediakan bagi orang-orang kafir." (QS.2:24)
Setelah Dia masukkan mereka ke neraka dan menjadikannya tempat kembali mereka maka neraka membakar kulit dan dagingnya dan Ia ganti kulit dan dagingnya dgn yg baru sesuai dgn firman-Nya:" Sesungguhnya orang-orang yg kafir kepada ayat-ayat Kami kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka.Setiap kali kulit mereka hangus, kami ganti kulit mereka dgn kulit yg lain." (QS.4:56)
Ia, Yang Maha kuasa lagi Maha agung, senantiasa memperlakukan mereka demikian disebabkan oleh penyekutuan mereka dgn kedirian mereka sendiri, di dunia ini, dalam berbuat dosa. Penghuni-penghuni neraka senantiasa berganti kulit dan daging agar mereka tersiksa dan kesakitan. Sedang penghuni surga senantiasa dilimpahi rezeki agar mereka senantiasa bersyukur. Hal ini dikarenakan perjuangan mereka melawan kedirian mereka sendiri demi menyesuaikannya dgn kehendak Allah dalam kehidupan di dunia ini dan inilah yg dimaksud dalam sabda Nabi saw: "Dunia ini adalah tanah garapan bagi akhirat."
Risalah 68
Alangkah Bijaksananya Yang Menggiring Takdir sampai Batas Waktunya
Bila Allah mengabulkan doa hamba-Nya dan memberinya yg dimintanya, maksud-Nya sendiri dgn demikian tak terpatahkan dan telah diketahui-Nya sebelumnya. Tapi doa itu sesuai dgn kehendak Allah dan terjadi pada saat yg telah ditentukan-Nya. Nah diterimanya dia dan dipenuhinya kebutuhan terjadi pada saat yg telah ditentukan dan sesuai dgn rencana-Nya sebelumnya pada awal masa dan yg bakal dipenuhi pada saat yg telah ditentukan. Inilah yg telah dikatakan oleh seorang alim dalam menerangkan firman-Nya:"Setiap saat Dia dalam kesibukan." (QS.55:29)
Ini berarti bahwa Allah mengurniakan pada saat-saat yg telah ditentukan. Dgn demikian Allah tak memberi seseorang sesuatu di dunia ini karena doa semata, begitu pula Ia tak menjauhkan sesuatu darinya hanya karena doanya dan dikatakan, Nabi saw bersabda bahwa takdir tak bisa dihindari kecuali dgn doa tertentu. Juga tak seorang pun masuk surga tanpa melalui kasih-sayang Allah dan hamba-hamba Allah akan diberi kedudukan di surga sesuai dgn amal-amal mereka. Aisyah r.a berkata bahawa ia bertanya kepada Nabi saw: "Akankah seseorang masuk surga hanya karena amal-amalnya? Tidak, tetapi dgn kasih-sayang Allah," jawab Nabi sambil meletakkan tangannya di atas kepalanya.
Ia melakukan hal ini untuk menunjukkan bahwa tak seorang pun berhak menentang Allah. Juga Ia tak wajib memenuhi janji. Tapi Ia berbuat sekehendak-Nya, menyiksa yg dikehendaki-Nya, mengampuni yg dikehendaki-Nya, mengasihi yg dikehendaki-Nya dan mengurniakan nikmat bagi yg dikehendaki-Nya, dan Ia Maha kuasa atas segalanya. Ia tak ditanya tentang yg dilakukan-Nya sedang hamba-hamba-Nya akan ditanya. Ia memberikan rezeki kepada yg dikehendaki-Nya, dgn kurnia dan kasih-Nya, dan menahan kurnia-kurnia-Nya dari yg dikehendaki-Nya. Begitulah adanya, karena ciptaan, sejak dari arasy-Nya hingga dasar bumi di lapisan ketujuh bawah langit ini, adalah milik-Nya dan ciptaan-Nya. Pencipta mereka adalah Allah, dan pemilik mereka adalah Allah, dan Allah berfirman:
"Adakah pencipta selain-Nya?" (QS.35:3). "Adakah Tuhan selain Allah?" (QS.27:63). "Dan tahukah kau, adakah yg menyamai-Nya?" (QS.19:65)
"Katakanlah: "Ya Allah! Pemilik kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada yg Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kerajaan dari yg Engkau kehendaki. Engkau muliakan yg Engkau kehendaki. Di tangan-Mulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha kuasa atas segala suatu." (QS.3:26)
Risalah 69
Bukan Engkau yang Melempar tapi Allahlah yg Melempar
Bagaimana baik bagimu berbangga akan kebajikanmu, padahal kau mengatakan bahwa hal ini berasal dari kekuatan yg dianugerahkan oleh Allah, melalui pertolongan, daya, kehendak dan kurnia-kurnia-Nya? Begitu pula dgn pencampakan dosa, hal ini dikarenakan oleh perlindungan dan pertolongan dari-Nya. Bagaimana kau bisa tak bersyukur atas hal itu dan tak mengakui semua rahmat ini yg berasal dari-Nya? Kenapa semangat ketakpatuhan dan ketakacuhan ini, yaitu perasaan banggamu akan keberanian yg adalah milik orang lain? Bila kau tak dapat membunuh musuhmu tanpa bantuan beberapa orang yg gagah-berani, yg menyerang musuhmu, sedang kau hanya menimbrunginya, maka kau akan terbunuh bukannya musuhmu; juga kau takkan bermurah bila tak ada yg patut diberi kemurahan - jika demikian, kenapa kau bangga akan kebajikanmu?
Jalan terbaik bagimu ialah bersyukur dan memuji sang penolong, senantiasa memuji-Nya, dan menisbahkan segala pencapaianmu kepada-Nya dalam segala keadaan kehidupanmu. Jika tidak, hal itu akan menjadi keburukan dan dosa. Bila demikian, maka kau harus menisbahkan keburukan dan dosa kepada dirimu sendiri. Kau harus menisbahkan kepada dirimu sendiri kezaliman, perilaku buruk dan kesalahan untuk hal-hal ini daripada orang lain, sebab dirimu adalah tempat keburukan dan ia memerintahkan segala keburukan dan ketakbergunaan. Jika Dia, Yang Maha perkasa lagi Maha agung, adalah pencipta kebajikan dan upayamu, maka kau adalah pembuat upaya, sedang Dia adalah Penciptanya. Inilah yg dimaksudkan oleh perkataan orang-orang yg memperolehi ma'rifah: "Tindakan akan datang, sedang kau tak dapat mengelakkannya."
Nabi saw. bersabda: "Berbuat baiklah, mendekatlah kepada Allah, dan luruskanlah dirimu, sebab bagi semua orang ada kemudahan."
Risalah 70
Bukankah Pakaianmu disesuaikan dengan Besarnya Tubuhmu?
Kau tentu berada dalam salah satu dari kedua hal ini: pengupaya atau yg diupayakan. Bila kau seorang pengupaya, maka kau terbebani dan penanggung beban yg memikul segala yg sulit dan berat. Hal ini dikarenakan kau adalah seorang pengupaya. Seorang pengupaya mesti bekerja keras dan disalahkan, hingga ia memperolehi yg dikehendakinya. Tak patut bagimu mengelak dari kesulitan-kesulitan yg merundungmu sampai deritamu sirna. Maka kau akan diselamatkan dari segala macam suara, noda, kekejian, kehinaan, rasa sakit, derita dan kertergantungan kepada orang. Maka kau akan dimasukkan ke dalam kelompok orang yg dicintai Allah.
Namun, bila kau adalah yg diupayakan, maka jangan salahkan Allah jika Dia menimpakan musibah atasmu. Juga, jangan kau ragukan kedudukanmu di hadapan-Nya, sebab Dia telah mengujimu agar kau meraih kedudukan tinggi. Dia hendak meningkatkan kedudukanmu ke tingkat wali dan badal. Sukakah kau bila kedudukanmu berada di bawah kedudukan mereka, atau bila pakaian kemuliaan, nur dan rahmatmu tak seperti pakaian kemuliaan, nur dan rahmat mereka? Meski kau puas dgn kedudukan rendahmu, tapi Allah SWT tak menyukainya. Dalam hal ini Dia berfirman: "Dan Allah mengetahui, sedang kamu tak mengetahui." (QS.2:232)
Dia telah memilihkan untukmu sesuatu yg lebih tinggi, lebih cerah, lebih baik dan lebih mulia, sedang kau menampiknya,
Jika kau berkata: bagaimana benar pengabdi sempurna mesti diuji, sedang kau berkata bahwa ujian dimaksudkan bagi sang pencinta, padahal pilihan Allah adalah orang yg dicintai-Nya? Pertama kami sebutkan aturannya, kemudian pengecualian yg mungkin. Tiada dua pendapat bahwa Nabi saw. adalah yg paling dicintai dan yg paling banyak diuji. Nabi saw. bersabda:
"Aku telah demikian takut karena Allah, tiada seorang pun yg terancam sepertiku dan aku telah demikian menderita karena Allah, tiada seorang pun yg menderita sepertiku. Telah datang padaku tiga puluh hari dan malam yg di dalamnya kami tak punya makanan sebanyak yg diapit di bawah ketiak Bilal."
"Sesungguhnya kami, para nabi, adalah yg paling banyak diuji; kemudian mereka yg kedudukannya lebih rendah dan seterusnya."
"Aku adalah yg paling tahu tentang Allah dan yg paling takut kepada-Nya di antara kamu semua."
Nah, bagaimana bisa sang tercinta diuji dan takut, padahal ia adalah orang pilihan dan pengabdi sempurna? Hal ini dikarenakan Dia hendak membuat mereka meraih, sebagaimana telah kami tunjukkan, kedudukan-kedudukan kehidupan syurgawi takkan meningkat kecuali melalui amal-amal saleh di kehidupan duniawi ini. Kehidupan duniawi merupakan tanah garapan kehidupan ukhrawi, dan amal-amal saleh para Nabi dan wali, setelah menunaikan perintah-perintah dan menghindari larangan-larangan, berada dalam kesabaran dan keridhaan di tengah-tengah cobaan. Kemudian cobaan dijauhkan dari mereka dan mereka dianugerahi rahmat-rahmat Allah, kurnia-Nya dan kasih-sayang-Nya sampai mereka menghadap Tuhan mereka di akhirat yg abadi.
Risalah 71
Tiap Orang pada Hari Itu punya Urusan yang Cukup Menyibukkannya
Ada beberapa macam orang ahli agama yg pergi ke pasar-pasar. Ada yg terkesima ketika melihat aneka barang di sana dan hal ini menyebabkan kehancuran dan pencampakan mereka akan agama mereka dan membuat mereka mengikuti hawa nafsu mereka jika Allah tak memelihara mereka dgn kasih sayang, perlindungan dan penganugerahan kesabaran oleh-Nya untuk melawan godaan-godaan ini; dgn inilah mereka tetap selamat.
Ada yang ketika melihat hal-hal ini dan hampir terhancurkan, kembali kepada nalar agama mereka, mengendalikan diri dgn sekuat daya dan menelan pahitnya mencampakkan hal-hal itu. Mereka ini seperti prajurit-prajurit gagah berani di jalan agama yg ditolong oleh Allah untuk mengendalikan diri. Allah menganugerahi mereka kelimpahan pahala dan kehidupan ukhrawi.
Nabi saw. bersabda:
"Tujuh puluh kebaikan dicatat bagi seorang mukmin yg mencampakkan dorongan nafsunya ketika ia dikuasai olehnya atau ia menguasainya"
"Dan ada di antara mereka yg mendapatkan kenikmatan-kenimatan ini dan kurnia serta rahmat Allah dalam bentuk limpahan kekayaan dunia dan bersyukur kepada Allah Swt atas hal-hal itu"
Namun mereka tetap tak memperhatikan kenikmatan-kenikmatan ini: mereka buta terhadap segala suatu selain Allah Swt; maka mereka tak melihat sesuatu pun selain-Nya dan tuli terhadap sesuatu pun selain-Nya. Bila kau lihat orang-orang semacam ini memasuki pasar, mereka akan berkata: "Kami tak melihat sesuatu pun". Ya mereka melihat hal-hal dgn mata mereka, bukan dgn mata hati. Mereka melihat semua itu tapi bukan dgn mata nafsu. Pandangan itu adalah pandangan wujud bukan pandangan hakikat.Itu adalah pandangan lahir bukan pandangan batin. Mereka melihat secara lahir apa yg ada di pasar tapi hati mereka melihat Tuhan --kadang keagungan-Nya dan kadang Kemurahan-Nya.
Ada yang, ketika mereka memasuki pasar, hati mereka penuh dgn kasih sayang kepada orang di dalamnya karena Allah Swt. Rasa kasih sayang ini membuat mereka bertafakkur dalam melihat hal-hal milik orang-orang ini dan yg di hadapan mereka. Orang-orang semacam ini senantiasa, sejak masuk hingga keluar dari pasar, berdoa dan memohon perlindungan dari Allah serta menjadi perantara bagi orang-orang di pasar dgn sikap penuh kasih sayang. Hati-hati mereka berupaya menguntungkan mereka dan mencegah kerugian mereka. Lidah-lidah mereka diberikan senantiasa memuji Allah atas semua yg telah mereka berikan kepada mereka dari rahmat dan kurnia-Nya. Orang-orang semacam ini disebut pengawal-pengawal kota dan abdi-abdi Allah. Bila kau mau kau dapat menyebut mereka orang berilmu, badal, penyayang dan penahan yg tersembunyi dan yg tampak, yg dicintai-Nya dan khalifah-Nya di bumi bagi hamba-hamba-Nya, duta-Nya dan pelaksana kebajikan-Nya. Orang-orang semacam ini, dapat dikatakan, sebagai batu filosof. Ridha dan rahmat Allah ada pada orang-orang semacam ini dan pada orang yg telah menghadapkan wajahnya kepada Allah dan yg mencapai puncak singkapan ruhani.
Risalah 72
Dalam AnugerahNya ada Ujian Dan Dalam Penolakan ada Pelajaran
Kadang Allah memberitahu para wali-Nya tentang kesalahan-kesalahan dan kepalsuan orang dan pernyataan-pernyataan palsunya tentang tindakan, kata, fikiran dan tujuannya. Para waliullah dibuat amat cemburu akan Tuhannya, Nabi-Nya dan agama-Nya. Kemarahan batiniah dan kemarahan lahiriah terpacu oleh fikirannya. Bagaimana bisa senang bila mempunyai penyakit dalam dan luar. Bagaimana bisa mentauhidkan Tuhan bila manusia masih cederungan syirik dari-Nya dan bila masih berpihak kepada si setan yg terkutuk dan si munafik yg kelak dicampakkan ke dasar neraka dan tinggal untuk selamanya? Menyebut kesalahan-kesalahan seperti itu, tindakan-tindakan kejinya dan pengakuannya sebagai shiddiq, keterasingannya dgn mereka yg telah meluruhkan diri ke dalam takdir, terluncur dari lidah sang wali.
Kadang dikarenakan kecemburuan akan keagungan Tuhan Yang Maha kuasa lagi Maha agung. Kadang karena menolak orang palsu seperti itu, dan sebagai teguran baginya; kadang karena Kemaha kuasaan kehendak dan kemurkaannya terhadap orang palsu yg mendustakan para wali. Para wali mengutuk pengumpatan terhadap orang semacam itu, dan "bolehkah para wali mengumpat seseorang? Bisakah mereka memperhatikan seseorang, tak hadir atau hadir, dan hal-hal yg asing bagi orang-orang yg berkedudukan?" Pengutukan semacam itu, dari mereka, tak melebihi firman Allah:
"Dosa keduanya lebih besar daripada manfaat keduanya" (QS. 2:219)
Wajib baginya berdiam diri dalam keadaan-keadaan semacam itu, tunduk dan berupaya mendapatkan keabsahan-Nya, tak berkeberatan terhadap kehendak-Nya dan wali-Nya yg mencerca pernyataan-pernyataan si palsu. Jika ia bersikap demikian, maka ia mampu mencabut akar-akar kekejian dari dirinya dan dipandang sebagai kembalinya dari kejahilian dan kebiadabannya. Hal itu bagai serangan atas nama sang wali, dan juga menguntungkan si pongah yg berada di tepi jurang kehancuran karena kepongahan dan ketakpatuhannya. “Dan Allah menunjuki yg dikehendaki-Nya kepada jalan lurus”.(QS 24:46)
Risalah 73
Cahaya Menunjukkan Adanya Lampu dan Aroma menunjukkan Adanya Bunga
Masalah yg pertama yg patut diperhatikan oleh orang yg berakal ialah keadaan dan suasana dirinya sendiri, setelah itu barulah ia melihat atau memperhatikan seluruh makhluk. Dari semua itu , dapatlah difahami dari mana sumber semua itu dan siapa yg menciptakan semua itu. Sebab makhluk itu tanda Al-khaliq, tanda yg menunjukkan kekuasaan Yang Maha Gagah dan menunjukkan bahwa yg menciptakan itu tentu Maha Bijaksana. Adanya makhluk menunjukkan adanya Al-Khalik karena keberadaan semua makhluk itu lantaran ada yg menciptakannya. Inilah penafsiran Ibnu Abbas r.a. tentang firman Allah :"Dan Dia telah tundukkan bagimu yg di langit dan yg di bumi semuanya…"(QS 45:13)
Diriwayatkan bahwa tafsiran ayat tersebut adalah sebagai berikut :
Dalam setiap sesuatu itu tersirat satu sifat di antara sifat-sifat Allah dan dalam setiap nama itu tersirat satu tanda untuk salah satu di antara nama-namaNya. Dgn demikian, pasti kamu ada dalam salah satu di antara nama-nama, sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya. Batin-Nya nampak melalui kuasa-Nya dan zahir-Nya nampak melalui kebijaksanan-Nya. Dia nampak di dalam sifat-sifat-Nya dan sifat-sifat-Nya terpelihara di dalam perbuatan-perbuatan-Nya . Dia menampakkan ilmu-Nya melalui iradat-Nya dan Dia menyatakan iradat-Nya didalam gerak-Nya. Dia menyembunyikan kemahiran dan kebijaksanaan-Nya dan menyatakan kemahiran dan kebijaksanaan-Nya melalui iradat-Nya. Maka, Dia tersembunyi di dalam ghaib-Nya dan tampak di dalam kebijaksanaan dan kekuasaanNya.
Firman Allah : Tidak ada sesuatu pun yg serupa dgn Dia dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS, 42:11)
Sesungguhnya banyak rahsia-rahsia ilmu keruhanian di dalam kenyataan ini yg tidak diketahui oleh orang-orang yg tidak memiliki sinar keruhanian di dalam hatinya. Ibnu Abbas mendapatkan ilmu itu dikarenakan doa Nabi Muhammad saw, untuknya. Nabi mendoakannya, " Ya Allah, berilah ia pengetahuan tentang agama dan ajarlah ia pengertian tentang Al-Quran".
Semoga kita mendapatkan limpahan kurniaNya dan dimasukkan ke dalam orang-orang yg mendapatkan rahmatNya di hari kebangkitan kelak.
Risalah 74
Segala Perkara Ada Hakekatnya dan Semua Bangunan Ada Tiangya
Bertakwalah kepada Allah, taatilah Dia, milikilah kesucian hati,kendali diri, kebiasaan memberikan hal-hal bermanfaat.Jauhkanlah penderitaan dan kemiskinan,jagalah kesucian ruhani,bergaullah dgn sesamamu,nasihatilah kaum muda dgn kebaikan,jauhilah permusuhan dgn sahabat dan mereka yg salik, dan bertolong-tolonglah dalam hal agama dan duniawi. Hakikat kemiskinan agama berupa ketakmampuan menyampaikan kebutuhan-kebutuhan kepada sesamanya. Hakikat kekayaan agama berupa ketakbutuhan akan ciptaan, semisal diri. Tasawuf dicapai lewat kelaparan dan berpantang diri dari hal-hal yg disukai dan dihalalkan. Jangan berpintar-diri di hadapan seorang syeikh, sebab pamer pengetahuan membuatnya tak senang. Bersikap lembutlah terhadapnya sebab kelembutan membuatnya senang.
Tasawuf didasarkan pada delapan hal:
1. Kedermawanan Nabi Ibrahim
2. Kepasrahan Nabi Ishaq
3. Kesabaran Nabi Ayyub
4. Isyarat Doa Nabi Zakaria
5. Keterasingan Nabi Yahya
6. Berpakaian Wool/kasar seperti Nabi Musa
7. Melakukan perjalanan/musafir seperti Nabi Isa
8. Kesederhanaan Nabi Muhammad saw.
Risalah 75
Bergaullah Dengan Akhlak Yang Baik
Punyailah kekayaan, harga diri, kemiskinan dan kerendah-hatian. Wajib bagimu berendah hati dan bersungguh-sungguh terhadap Sang Pencipta. Jangan salahkan Dia, karena sarana duniawi. Jangan kau rusak hak saudaramu karena kau dan dia adalah kawan. Berkawanlah selalu dgn para darwis, dgn rendah hati, sikap baik dan keterbukaan. Bunuhlah kedirian hingga tercapai kehidupan dalam ruhani. Yg terdekat dgn Allah ialah yg paling besar hati dalam berperilaku. Amal terbaik ialah menjaga diri dari selain-Nya. Nasihatilah selalu orang agar berteguh pada kebenaran dan kesabaran. Cukuplah bagimu bergaul dgn para zahid dan mengabdi kepada para wali.
Zahid adalah orang yg acuh-tak-acuh terhadap selain Allah. Menyerang yg di bawahmu adalah pengecut. Berbuat serupa dgn yg di atasmu adalah memalukan, dan menyerang yg sejajar denganmu adalah tak baik. Menjalani kehidupan zuhud dan sufi membutuhkan upaya serius. Semoga Allah mengurniai kita kekuatan. Duhai Wali! Dikau senantiasa mengingat Allah, sebab hal ini membawa kebaikan dan juga kewajibanmu untuk berpegang teguh pada perjanjian-Nya, sebab hal ini menjauhkan segala kemudharatan. Juga kewajibanmu untuk senantiasa menghadapi segala ketentuan-Nya, sebab hal-hal itu pasti terjadi.
Ketahuilah bahwa kau akan ditanya tentang gerak-gerikmu. Selamatkanlah anasir tubuhmu dari ketak-bergunaan. Wajiblah bagimu mentaati Allah, Rasul-Nya dan mereka yg mesti ditaati. Fikirkanlah kaum Muslim, dan jangan berburuk niat kepada mereka, entah dalam hati, ucapan atau tindakan.
Doakanlah orang yg telah menzalimimu, dan takwalah kepada Allah Yang Maha kuasa lagi Maha agung. Wajib bagimu makan segala yg dihalalkan, dan bertanyalah, tentang yg tak kau ketahui, kepada orang yg memiliki ma'rifat. Berbaiklah senantiasa terhadap Allah Yang Maha kuasa lagi Maha agung. Bersamalah dengan-Nya. Bersamalah dgn selain-Nya, sepanjang dibutuhkan untuk bersama-Nya.
Bersedekahlah di kala pagi. Berdoalah di malam hari bagi Muslim yg meninggal. Ucapkanlah tujuh kali di pagi hari dan petang hari. Allahumma ajirna minan nar, yg maknanya, "Ya Allah! Lindungilah kami dari api neraka." Berdoalah selalu: A'udzubillahissami'il'alimi minasy-syaithan-ir-rajim, yg maknanya, "Aku berlindung kepada Allah Yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui dari setan yg terkutuk."
Lalu agungkanlah Dia dgn ayat-ayat terakhir Surah Hasyr:
"Dialah Allah, yg tiada Tuhan selain Dia, yg mengetahui yg ghaib dan yg nyata, Dialah yg Maha pemurah lagi Maha penyayang. Dialah Allah, yg tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha suci, Yang Maha sejahtera, yg mengurniakan keamanan, Yang Maha memelihara, Yang Maha perkasa, Yang Maha kuasa, yg memiliki segala keagungan. Maha suci Allah dari segala yg mereka persekutukan. Dialah Allah, Pencipta, Pewujud, Pembentuk, Pemilik nama-nama terbaik. Bertasbihlah kepada-Nya segala yg di langit dan di bumi. Dan Dialah yg Maha kuasa lagi Maha bijaksana."(QS 59:22-24)
Risalah 76
Sambutlah Sang Kekasih Sendirian
Bersamalah dgn Allah, seolah-olah tiada ciptaan. Bersamalah dgn ciptaan seolah-olah tiada diri. Bila bersama Allah, Yang Maha kuasa lagi Maha agung, tanpa ciptaan, Dia tercapai, dan jauh dari selain-Nya. Bila bersama ciptaan, tanpa diri, keadilan tergapai, kebajikan terbantu, dan selamatlah dari kekerasan kehidupan. Tinggalkanlah segala suatu di luar pintu, bila memasuki pintu uzlah. Maka terlihat oleh mata batinmu temanmu dalam uzlah-mu, terasakan hal di luar ciptaan, lenyaplah diri, dan digantikan oleh perintah-Nya dan kedekatan-Nya. Maka ketak-tahuanmu menjadi ketahuanmu, kejauhanmu menjadi kedekatanmu, kediamanmu menjadi pengingatanmu akan-Nya, dan kebuasanmu menjadi kekaribanmu. Duhai! Tiada lagi tersisa di sana, selain Sang Pencipta dan ciptaan. Maka jika Sang Pencipta telah dipilih, ucapkanlah:
"Sesungguhnya mereka adalah musuh-musuhku, kecuali Tuhan semesta alam." (QS.26:77)
Risalah 77
Buah Yang Diinginkan
Barangsiapa telah merasakannya, ia telah mengetahuinya.
Ia ditanya, "Bagaimana kepahitan mengatasi kemanisan?" "Mesti berupaya menjauhkan kedirian. Duhai! Bila seorang mukmin berbuat kebajikan, maka hewaninya tunduk kepada hati. Bila diri mencapai kesadaran hati, maka berubahlah hati menjadi suatu rahsia; rahsiapun berubah menjadi kemusnahan; kemusnahan berubah menjadi kemaujudan lain," jawabnya. "Kawan bisa mencapai lewat setiap pintu. Duhai! Peluruhan diri ialah mengingkari semua ciptaan, merubah sifat menjadi sifat malaikat; lenyap dari sifat malaikat dan kembali ke semula. Maka Tuhan menyiramimu sesuka-Nya, dan membajakmu sesuka-Nya. Bila menghendaki peringkat ini, pilihlah Islam, dan tunduklah kepada ketetapan-Nya, maka tergapailah ma'rifat, tersadarilah Ia, termaujudlah diri di dalam-Nya, dan menjadilah diri milik-Nya. Kesalehan ialah karya satu jam dan kebertarakan dua jam, sedang pengetahuan Allah adalah karya abadi," lanjutnya.
Risalah 78
Tingkat-tingkat Kesempurnaan
Ada sepuluh sifat pada salik, pemawas-diri dan peraih tujuan ruhani.
1. Tak bersumpah dengan-Nya, entah benar atau tidak, entah sengaja atau tidak. Sebab bila hal ini termapankan, dan lidah terbiasa dgnnya, maka hal ini membawanya kepada suatu kedudukan, yg di dalamnya ia mampu menghentikan bersumpah dgn sengaja atau tidak. Nah, bila ia menjadi begini, Allah membukakan baginya pintu nur-Nya. Hatinya tahu manfaat ini, kedudukannya termuliakan, langkah dan kesabarannya terkuatkan. Maka, dipujilah dan dimuliakanlah ia di tengah-tengah tetangga dan sahabatnya, sehingga yg tahu dia, menghormatinya, dan yg melihatnya, takut kepadanya.
2. Menghindar dari berbicara tak benar, entah serius atau bercanda. Sebab bila ia melakukan dan mengukuhkan hal ini pada dirinya sendiri, dan lidahnya terbiasa dengannya, maka Allah membuka dengannya hatinya, dan menjernihkan dengannya pengetahuannya, sehingga ia nampak tak tahu kepalsuan. Bila ia mendengarnya dari orang lain, ia memandangnya sebagai noda besar, dan termalukan olehnya. Bila ia memohon kepada Allah agar menjauhkannya, maka baginya pahala.
3. Menjaga janji. Sungguh hal ini demikian menguatkannya sebab mengingkari janji termasuk kepalsuan. Maka terbukalah baginya pintu kemurahan, dan baginya kemuliaan, dan dicintailah ia oleh para shiddiq dan mulialah ia di hadapan Allah.
4. Tak mengutuk satu makhluk pun, tak merusak sesuatu pun, meski sekecil atom sekalipun dan bahkan yg lebih kecil darinya. Sebab hal ini termasuk tuntutan kebenaran dan kebaikan. Berlaku berdasarkan prinsip ini, memperolehi husnul khatimah di bawah naungan-Nya, Ia meninggikan kedudukannya, Ia melindunginya dari kehancuran, dan mengurniainya kasih sayang dan kedekatan dengan-Nya.
5. Tak mendoakan keburukan bagi seseorang, meski ia telah dizalimi. Lidah dan geraknya tak mendendam, tapi bersabar demi Allah. Hal ini membawanya kepada kedudukan mulia di dunia dan di akhirat. Ia menjadi dicintai dan disayangi oleh semua penerima kebenaran, baik dekat maupun jauh.
6. Tak berpihak kepada kemusyrikan, kekafiran dan kemunafikan mereka yg se-kiblat. Sifat ini menciptakan kesempurnaan dalam mengikuti Sunnah, dan amat jauh dari mencampuri pengetahuan Allah dan juga dari penyiksaan-Nya, dan amat dekat dgn ridha dan kasih sayang-Nya. Inilah pintu kemuliaan dan keagungan dari Allah Yang Maha mulia, yg menganugerahkannya kepada hamba beriman-Nya sebagai balasan atas kasih sayangnya terhadap semua orang.
7. Tak melihat suatu kedosaan, baik lahir maupun batin. Mencegah anasir tubuhnya darinya, sebab hal ini merupakan suatu tindakan tercepat dalam membawa balasan bagi hati dan anasir tubuh di dunia dan pahala di akhirat. Semoga Allah menganugerahi kita daya untuk berlaku begini, dan menjauhkan kedirian (ego) dari hati kita.
8. Tak membebani seorangpun, entah dgn beban ringan atau berat. Tapi, melepaskan orang dari beban, entah diminta atau tidak. Hal ini menjadikan hamba-hamba Allah dan para saleh mulia, dan memacu orang untuk ber-amar ma'ruf nahi munkar. Hal ini menciptakan kemuliaan penuh bagi hamba-hamba Allah dan para saleh, dan baginya segenap makhluk nampak sama. Maka Allah membuat hatinya tak butuh, yakin dan bertumpu pada Allah. Allah tak meninggikan seorang pun, bila masih terikat kedirian. Bagi orang semacam ini, semua makhluk memiliki hak yg sama, dan mesti diyakini bahwa inilah pintu kemuliaan bagi para mukmin dan para saleh, dan pintu terdekat kepada keikhlasan.
9. Bersih dari segala harapan insan, dan tak merasa tergoda hatinya oleh harta benda mereka. Sungguh, inilah kemuliaan besar, ketakbutuhan sejati, kerajaan besar, pujian agung, kepastian nan tegar kepasrahan sejati kepada-Nya. Inilah pintu segala pintu kepasrahan kepada-Nya, yg memampukan orang meraih ketakwaan kepada-Nya, dan pencipta ketertarikan sempurna dengan-Nya.
10. Rendah hati. Dgn ini, sang hamba termuliakan dan sempurna di hadapan Allah (Maha agung Dia) dan insan. Inilah sifat penyempurna kepatuhan,dan dengannya sang hamba meraih kebajikan di kala suka dan duka,dan inilah kesalehan nan sempurna.Rendah hati membuat sang hamba merasa rendah daripada orang lain. Ia berkata, "Mungkin orang ini lebih baik dariku di hadapan Allah, dan lebih tinggi kedudukannya." Mengenai orang kecil, sang hamba berkata, "Orang ini tak menentang Allah, sedang aku menentang-Nya; sungguh ia lebih baik dariku." Mengenai orang tua, sang hamba berkata, "Orang ini telah mengabdi kepada-Nya sebelum aku." Mengenai orang alim, sang hamba berkata, "Orang ini telah dianugerahi yang tak ada padaku, ia telah memperoleh yg tak kuperoleh, ia mengetahui yg tak kuketahui, dan ia bertindak dgn pengetahuan." Mengenai orang bodoh, sang hamba berkata, "Orang ini tak mematuhi-Nya karena tak tahu, dan aku tak mematuhi-Nya meski aku tahu, dan ku tak tahu akhir hayatku dan akhir hayatnya." Mengenai orang kafir, sang hamba berkata, "Entahlah, mungkin ia akan menjadi seorang Muslim, dan mungkin aku akan menjadi tak beriman."
Inilah pintu kasih sayang dan ketakutan.
Bila hamba Allah telah menjadi begini, maka Allah menyelamatkannya dari segala bencana, dan menjadikannya pilihan-Nya, dan menjadilah ia musuh Iblis sang musuh Allah. Keadaan ini menciptakan pintu kasih. Dgn mencapainya, pintu kebanggaan tertutup dan tali kesombongan diri terputus, dan cita keunggulan diri, agama, duniawi dan ruhani tercampakkan. Inilah hakikat pengabdian kepada-Nya; Tiada sebaik ini. Dgn meraih keadaan ini, lidah terhenti menyebut insan dunia dan yg sia-sia, dan karyanya tak sempurna tanpa hal ini; kebencian, kepongahan dan keberlebihan terhapus dari hatinya pada segala keadaan, lidahnya sama; orang baginya sama. Ia tak menegur seseorang dgn keburukan, sebab hal ini membencanai hamba-hamba Allah dan pengabdi-pengabdi-Nya, dan menghancurkan kezuhudan.
Risalah 79
Sesungguhnya Memuaskan Dahaga Hanyalah dengan Air
Kala sang wali menghadapi sakaratul maut, puteranya, Abdul Wahab berkata kepadanya, "Apa yg mesti kulakukan sepeninggal ayah?" "Kamu mesti takut kepada-Nya, jangan takut kepada selain-Nya, jangan berharap kepada selain-Nya, dan berpasrahlah hanya kepada-Nya," jawabnya.
Selanjutnya ia berkata, "Aku adalah biji tak berkulit. Orang lain telah datang kepadaku; berilah mereka tempat dan hormatilah mereka. Inilah manfaat nan besar. Jangan membuat tempat ini penuh sesak dgn ini. Atas mu kedamaian, kasih dan rahmat Allah. Semoga Dia melindungiku dan kamu, dan mengasihiku dan kamu. Ku mulai senantiasa dgn asma Allah."
Ia terus berkata begini satu hari satu malam, "Celakalah kau, aku tak takut sesuatu pun, baik malaikat maupun malakul maut. Duhai malakul maut! Bukanlah kau, tapi sahabatku yg bermurah kepadaku."
Lantas pada malam kewafatannya, ia memekik keras, dan kata kedua puteranya, Abdur-Razaq dan Musa, dia mengangkat dan merentangkan kedua tangannya lalu berkata, "Atasmu kedamaian, kasih dan rahmat Allah. Bertaubatlah dan ikutilah jalan ini. Kini aku datang kepadamu."
Dia berkata, "Tunggu". Dan, meninggallah dia.
Risalah 80
Ya Allah Sesungguhnya Aku Senang Berjumpa denganMu maka Senangilah Perjumpaanku
Antara aku, kau dan ciptaan hanya ada Dia, sebagaimana antara langit dan bumi. Maka, jangan memandangku sebagai mereka, jangan pula memandang mereka sebagai aku.
Bertanyalah Abdul Aziz, puteranya, kepadanya tentang keadaannya. "Hendaknya jangan bertanya kepadaku tentang sesuatu pun. Aku sedang mengalami perubahan ma'rifat," jawabnya.
Selanjutnya dikatakan, Abdul Aziz bertanya kepadanya tentang penyakitnya. "Tak satu insan pun, tak satu jin pun, tak satu malaikat pun tahu penyakitku. Pengetahuan-Nya tak terhapus oleh perintah-Nya. Perintah berubah, sedang pengetahuan tak berubah. Allah Maha berkehendak, dan oleh-Nya Kitab Suci mewujud.
"Dia tak ditanya tentang yang dilakukan-Nya, tapi merekalah yang ditanya." (QS.21:23)
Puteranya, Abdul Jabbar, bertanya kepadanya, "Mana yg sakit?" "Sekujur tubuhku sakit, kecuali hatiku," jawabnya.
Ia berkata, "Aku mencari pertolongan Allah dgn, 'Tiada sesembahan selain Dia, Maha agung, Maha mulia lagi Maha abadi Dia, dan Muhammad adalah Rasul-Nya."
Puteranya, Musa, berkata bahwa ia berupaya mengucapkan kata Taazzaza, tapi lidahnya tak mampu mengucapkannya dgn benar. Maka, dia ulang-ulang kata Taazzaza ini, diperpanjangnya bunyinya dan ditekannya, sehingga ia bisa mengucapkannya dgn benar. Lalu ia berkata, "Allah, Allah, Allah," suaranya melemah, lidahnya melekat pada langit-langit mulut, dan pergilah jiwa mulianya dari jasadnya -ridha Allah atasnya. Semoga Dia menganugerahi kita dan semua Muslim husnul khatimah, dan semoga Dia memampukan kita menjadi saleh. Amin! Amin! Amin!
No comments:
Post a Comment